Kamis, 13 Oktober 2016

Promotion Fee Dan Traffic Movement Report

Perkembangan Industri jasa angkutan udara di Indonesia meningkat dengan sangat pesat, hal ini mengakibatkan  persaingan antar perusahaan penyedia jasa angkutan udara dalam menjual produknyapun semakin ketat. Produk utama Airline adalah berupa jasa transportasi udara dari suatu kota keberangkatan ke kota kedatangan dalam periode tertentu. Produk Airline juga dibagi menjadi dua yaitu pertama adalah jasa transportasi penumpang. ruang lingkup jenis produk ini berkaitan dengan proses pemindahan penumpang berikut bagasi atau barang bawaannya dari suatu kota keberangkatan ke kota tujuan. Jenis produk Airline yang kedua yaitu jasa transportasi barang. Selanjutnya dalam tulisan ini, penulis akan membahas khususnya pada produk pertama Airline yaitu jasa transportasi penumpang.
Secara umum tujuan perusahaan adalah mendapatkan sejumlah laba demi mempertahankan kelanjutan usahanya untuk pengembangan dan pertumbuhannya. Agar tujuan tersebut dapat tercapai maka semua kegiatan yang berlangsung dalam perusahaan serta fungsi yang ada haruslah berjalan secara baik dan terkontrol, promosi merupakan salah satu fungsi yang turut menentukan keberhasilan perusahaan dalam mengahadapi situasi persaingan yang semakin tajam dalam dunia usaha dewasa ini dan semua itu erat kaitannya dengan biaya promosi (promotion fee) itu sendiri.
             Perusahaan baik yang bergerak dalam industri barang maupun jasa, dalam melakukan pencapaian laba yang optimal, tentunya terlebih dahulu harus mampu merebut pangsa pasar (market share) lebih besar dan ini hanya mungkin tercapai bila perusahaan cukup jeli melihat kebutuhan dan keinginan (needs and wants) dari calon konsumen, selain jangkauan tingkat ekonomi masyarakat yang juga perlu diperhatikan.
            Untuk mencapai maksud dan tujuan dari perusahaan tersebut, dibutuhkan beberapa strategi pemasaran dalam menunjang pencapaian tersebut diantaranya strategi marketing mix yang salah satu dari unsurnya adalah promosi penjualan, promosi penjualan sebagai suatu strategi dalam memasarkan jasa-jasa yang akan ditawarkan atau dijual. Karena adanya strategi ini akan membawa pengaruh yang sangat besar dalam penjualan di masa yang akan datang. Tanpa promosi, tentu akan berakibat semakin kecil volume penjualan yang dapat dicapai perusahaan bersangkutan. Promosi sebagai bagian dari kegiatan pemasaran merupakan salah satu aspek yang dapat menunjang keberhasilan perusahaan dalam mempertahankan dan meningkatkan juga mendapatkan pangsa pasar.
            Tahun 2008 telah dicanangkan pemerintah sebagai tahun kunjungan wisata. Pariwisata sebagai suatu industri sangat luas cakupannya. Terdapat beberapa sektor-sektor yang terkait dengan kegiatan pariwisata sebagai suatu industri. Salah satu yang paling penting adalah jasa transportasi udara.
           Perusahaan penerbangan yang bergerak dalam bidang pemasaran jasa transportasi udara, menggunakan promosi guna meningkatkan penjualan setiap waktunya. Jenis promosi yang digunakan perusahaan adalah periklanan melalui media elektronik, media cetak dan promosi secara langsung yang tentunya didukung dengan adanya pengeluaran yang diukur secara terus menerus dalam uang atau potensial oleh perusahaan, mencakup biaya tenaga kerja yang mempromosikan secara langsung, biaya publikasi, biaya transportasi dan biaya iklan dengan tujuan memaksimalkan kegiatan produksi itu sendiri dalam meningkatkan nilai penjualan pada perusahaan.
            Kegagalan suatu perusahaan untuk memasarkan produknya seringkali disebabkan oleh kurangnya perhatian perusahaan terhadap biaya promosi (promotion fee) yang mendukung kelancaran dan kualitas kegiatan promosi itu sendiri, sehingga menyebabkan kurangnya masyarakat yang mengenal produk tersebut. Perlu disadari bahwa perusahaan tidak hanya dihadapkan pada penciptaan dan penjualan produk saja melainkan juga harus memperkenalkan dan memasyarakatkan produknya kepada calon konsumen.

Dengan mengeluarkan sejumlah biaya promosi (promotion fee) pada produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan (needs and wants) para calon penumpang maka  diharapkan dapat memberikan pengaruh positif bagi perusahaan sehubungan dengan arus pergerakan penumpang (traffic movement report).
A. Pengertian Pemasaran dan Manajemen Pemasaran
1.    Pemasaran
            Dalam memberikan pengertian pemasaran, banyak di antara para ahli ekonomi yang memberikan pendapat yang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian pemasaran, maka berikut penulis memaparkan pengertian pemasaran dari kutipan buku.
            Menurut Indriyo Gitusodarmo dalam buku manajemen pemasaran (2000;1) mengemukakan pengertian pemasaran sebagai suatu kegiatan yang mengusahakan agar produk yang dipasarkan itu dapat diterima dan disenangi oleh pasar. Sedangkan menurut Chandra Gregorius yang berpendapat lain mengenai pemasaran dalam buku strategi dan program pemasaran (2001 ; 1) bahwa pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran barang dan jasa yang bernilai satu sama lain.
Selanjutnya menurut Marius P. Angipora dalam buku dasar-dasar pemasaran (2002;5) berpendapat lain mengenai pemasaran. Menurutnya pemasaran adalah proses bisnis yang dinamis karena merupakan suatu proses integral yang menyeluruh dan bukan gabungan aneka fungsi dan pranata yang terurai.
Dunia pemasaran yang pada awalnya hanya dikenal bagi dunia usaha dan peranannya yang sederhana bagi suatu perusahaan yang mencari keuntungan pada akhirnya telah merasuk dalam kehidupan kita sehari-hari baik sebagai individu, kelompok organisasi non laba maupun organisasi laba bahkan Negara.
Berdasarkan defenisi tersebut, disimpulkan bahwa semua kegiatan pemasaran ditujukan agar produknya dapat diterima dan kemudian disenangi oleh pasar. Tidak semua produk dapat diterima oleh pasar, banyak produk yang tidak laku dijual. Agar supaya suatu produk dapat diterima oleh pasar haruslah dilakukan berbagai kegiatan, tanpa kegiatan-kegiatan tertentu produk tidak dapat diterima oleh pasar. Sebelum produk itu dapat diterima terlebih dahulu harus ada upaya agar produk tersebut dapat dikenal pasar terutama yang menjadi segmen. Kegiatan untuk membuat agar suatu produk itu dapat dikenal saja tidaklah mudah. Banyak produk dipasarkan pada saat ini yang kita sendiripun tidak ketahui atau belum pernah mengenalnya. Keadaan ini merupakan bukti bahwa kegiatan pemasarannya kurang baik.
Kegiatan yang dilakukan untuk memasarkan produk merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pengusaha setelah produk itu selesai diproduksi atau siap dijual. Hal ini tidaklah demikian karena kegiatan untuk membuat agar produk itu dapat diterima, sebenarnya haruslah direncanakan sebelumnya sehingga produk itu betul-betul dapat sesuai dengan kebutuhan serta keinginan pasar. Apabila produk itu tidak cocok dengan kebutuhan atau selera pasar maka produk tersebut tidak akan dapat diterima oleh pasar. Agar kegiatan pemasaran dapat berjalan sesuai tujuannya maka diperlukan adanya kegiatan manajerial, karena kegiatan pemasaran yang direncanakan dengan baik, diorganisasikan, dikoordinasikan, serta diawasi akan membuahkan hasil yang memuaskan. Selain itu, pemasaran juga dapat diartikan sebagai proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penetapan harga, promosi dan distribusi gagasan, barang dan jasa dalam rangka memuaskan tujuan individu dan organisasi.
Dari beberapa defenisi defenisi yang telah dikemukakan, dapat dijelaskan bahwa arti pemasaran adalah jauh lebih luas daripada penjualan. Pemasaran mencakup usaha perusahaan yang dinilai dengan mengidentisir kebutuhan konsumen yang perlu dipuaskan, menentukan produk yang hendak diproduksi, menentukan harga produk yang sesuai, menentukan cara-cara- promosi dan penyaluran/penjualan produk tersebut. Jadi kegiatan pemasaran adalah kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan sebagai suatu sistem.
            Dengan memperhatikan beberapa defenisi pemasaran di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan pemasaran mengandung arti yang cukup luas, yaitu mencakup segala aktifitas yang berhubungan dengan pelaksanaan yang mengumpulkan dan menyalurkan barang-barang dan jasa dari produsen ke tangan konsumen.
2.    Manajemen Pemasaran
            Adapun pengertian manajemen pemasaran menurut Philip Khotler dalam bukunya Marketing (2001:11) manajemen pemasaran merupakan analisis, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program-program yang dirancang untuk menciptakan, membuat dan menangani pertukaran yang menguntungkan dengan para pembeli, dengan maksud agar meraih tujuan perusahaan, seperti keuntungan, laju penjualan, dan sebagainya.
            Selain itu, Oka A. Yuti dalam bukunya Tour and Travel Marketing (2006;19) mengungkapkan bahwa pemasaran dapat dilihat sebagai alat (tool) manajemen yang diharapkan dapat membantu agar perusahaan mampu tumbuh dan berkembang secara profesional. Pada dasarnya pemasaran sangat erat kaitannya dengan kegiatan dalam memindahkan barang dan jasa (goods and services), dari produsen yang mengasilkannya ke tangan konsumen yang membutuhkannya, menguntungkan dalam persaingan yang wajar.
Sehubungan dengan hal ini maka Sofyan Assauri, dalam bukunya Manajemen Pemasaran Suatu Pendekatan Analisis (2001 : 17) mengemukakan bahwa dengan mengkaji manajemen pemasaran tersebut, perusahaan dapat mengetahui diagnosa tentang siap dan apa serta bagaimana kebenaran mengenai pemakaian suatu produk. Beberapa definisi tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut
1.    Manajemen pemasaran bagaimana produk itu memberikan tingkat kepuasan konsumen
2.    Dapat sesuaikan dengan selera konsumen, dengan merasa puas terhadap hasil produk
3.    Mutu dan kualitas dijamin yang diprioritaskan produk barang
4.    Bagaimana memberikan konsumen adalah tetap menjadi pilihan tetap para konsumen.
5.    Diagnosa tentang siap dan kebenaran mengenai pemakaian produk
Hasil pengkajian tentang perilaku konsumen tersebut digunakan oleh perusahaan untuk menentukan perlu tidaknya perusahaan merubah strategi pemasaran produknya. Dengan demikian, jelas terlihat bahwa aspek perilaku konsumen perlu mendapatkan perhatian dari manajemen perusahaan, saat mana perusahaan yang bersangkutan merencanakan untuk mempertahankan posisinya di pasar. Meskipun terdapat banyak faktor yang memungkinkan suatu perusahaan untuk mempertahankan posisinya dipasar,namun masalah perilaku konsumen ini perlu mendapatkan perhatian yang cukup serius, khususnya bagi barang-barang industri yang pangsa pasarnya berada pada kalangan masyarakat yang berpenghasilan relatif tinggi. Secara lebih konkret dapat dikemukakan bahwa unsur manajemen yang dijalankan bagian pemasaran barang, pada dasarnya mencerminkan tanggapan atau respon mereka terhadap berbagai rangsangan pemasaran. Tanggapan atau respon tersebut terutama terlihat melalui berbagai bentuk pewadahan produk, harga, daya tank advertensi dan unsur lainnya yang berdampak secara psikologi bagi konsumen.
Mengenai perlunya perusahaan menelaah mengenai periku konsumen tersebut, maka perlu adanya perincian mengenai dimensi penting dari unsur prilaku konsumen. Sehubungan dengan konteks ini, maka Yanti B. Sugarda dalam bukunya Kerangka Strategi Perusahaan (2001: 119) membedakan adanya tiga dimensi perilaku konsumen dalam konteks pembelian suatu produk perusahaan, dimana dimensi-dimensi yaitu pikiran, perasaan dan perbuatan untuk memenuhi permintaan konsumen.
Komponen cognitive merupakan elemen rasional yang dipergunakan dalam proses penelaahan secara mental mengenai adanya perilaku konsumen dalam mengkonsumsi barang. Komponen efective merupakan elemen emosional serta adanya unsur perasaan yang secara alamiah berada pada setiap individu yang akan mengkonsumsi barang. Komponen conative merupakan suatu kecenderungan untuk melakukan suatu tindakan atau perbuatan sehingga konsumen akan melakukan pembelian terhadap produk-produk yang ditawarkan oleh perusahaan di pasar.
Menurut Sofjan Assauri (2004 : 12) Manajemen Pemasaran merupakan kegiatan penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian program - program yang dibuat untuk membentuk, membangun dan memelihara, keuntungan dari pertukaran melalui sasaran pasar guna mencapai tujuan perusahaan dalam jangka panjang.
Sedangkan Mahmud Machfoedz (2005 : 11) Manajemen Pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian program yang dipolakan untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran manfaat dengan pembeli dengan maksud untuk mencapai tujuan perusahaan.
Definisi lain dikemukakan oleh Buchari Alma dalam Philip Kotler (2004 : 86) Manajemen Pemasaran adalah kegiatan menganalisa, mengawasi segala kegiatan, guna mencapai tingkat pemasaran sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Seperti yang dikatakan Buchari Alma dalam Ben M. Enis (2000 : 86) Manajemen Pemasaran proses untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh individu atau perusahaan.
Apabila seseorang atau perusahaan, ingin memperbaiki pemasarannya, maka harus melakukan kegiatan pemasaran sebaik mungkin. Untuk keberhasilan kegiatan manajemen pemasaran pada perusahaan, maka diperlukan masukan misalnya berasal dari informasi kegiatan yang berjalan dilapangan.

B. Pengertian Biaya (fee) dan Promosi (promotion)  
     1. Pengertian Biaya (fee)
            Biaya merupakan bagian terbesar dari pengorbanan-pengorbanan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa. Karenanya diupayakan pengorbanan yang sekecil-kecilnya atau menekan biaya seefisien mungkin untuk menghindari pemborosan yang dapat merugikan perusahaan. Dalam suatu perusahaan, biaya merupakan pengeluaran suatu aktifitas yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka kegiatan operasional perusahaan. Memberikan pengertian yang lebih jelas tentang biaya, maka berikut ini akan diberikan beberapa pendapat.
            Abas Kartadinata (2000 ; 124) dalam buku Akuntansi dan Analisa Biaya, menyatakan bahwa biaya adalah pengorbanan yang diukur dengan satuan uang yang dikeluarkan untuk mencapai suatu tujuan.
            Berdasarkan defenisi di atas maka dapat diasumsikan bahwa biaya merupakan pengorbanan-pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dengan satuan uang untuk memperoleh barang atau jasa agar tercapai tujuan tertentu. Biaya sangat perlu dipertimbangkan oleh para manajer dalam mengelola perusahaan. Karena biaya merupakan sumber informasi bagi pengelola perusahaan.
      2.  Promosi (promotion)
            Oka A. Yuti dalam buku Tour and Travel Service (2006 ; 34) menulis bahwa promosi (promotion) adalah suatu proses bagaimana suatu perusahaan menyampaikan informasi kepada target pasar tentang hal-hal yang menyangkut produk, harga, tempat di mana produk dijual dengan melakukan persuasif supaya target pasar mau melakukan pembelian.
            Promosi dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti pemasangan iklan (advertising), promosi penjualan (sales promotion), melakukan persuasif melalui personal selling dan dibantu dengan Public Relation, sehingga promosi yang dilakukan dapat menjadi efektif.  Suatu promosi dikatakan baik kalau komunikasi dilakukan secara baik pula. Artinya informasi yang disampaikan hendaknya sejalan dengan kualitas produk yang ditawarkan.
C. Pengertian Biaya Promosi (Promotion Fee)
            Menurut Sutoyo Siswanto dalam buku Kerangka Dasar Manajemen Pemasaran (2001 ; 181)  biaya promosi adalah pengeluaran dalam satuan uang dan potensial dalam rangka kegiatan memperkenalkan produk, meyakinkan dan mengingatkan kembali manfaat produk kepada pembeli dengan sasaran dan harapan agar mereka tergerak hatinya dan secara sukarela membeli produk.
Biaya promosi dalam hal biaya yang dikeluarkan untuk memperkenalkan barang dagangan dari produsen ke konsumen, maka salah satu faktor yang penting adalah penatapan biaya promosi, akan tetapi sebelum ditetapkan biaya yang akan dikeluarkan terlebih dahulu berapa besarnya biaya promosi dalam memasarkan barang. Biaya promosi menurut Philip Kotler, dalam bukunya Manajemen Pemasaran, (2002 : 28), menyatakan bahwa biaya promosi sebagai alat yang digunakan untuk sarana penghubung terjadinya transaksi jual beli barang dan jasa. Biaya promosi merupakan salah satu alternatif bagi perusahaan bagaimana untuk memperlancar barang dan jasa hasil produk, karena bermunculan produk yang sama, peranan biaya promosi dalam memerangi saingan dan tantangan perlu diatasi serta harus dilewati, kecermatan dan kelihaian pengelola perusahaan ditentukan oleh keunggulan menghadapi pesaing muncul dengan sendirinya.
Bilamana terjadi suatu kesalahan dalam pemlihan dalam penetapan biaya promosi akan memberikan pengaruh yang dapat memperlambat atau menghambat usaha penyaluran barang dan jasa. Produk yang sudah memenuhi Standar Industri Indonesia (Sll) dan sudah memenuhi selera konsumen namun jika ternyata harga tinggi dibandingkan dengan produk perusahaan lain, maka produk tidak mempunyai kemampuan dan inisiatif atau kurang bertanggung jawab, maka usaha penyaluran akan mengalami hamabatan.
Secara umum biaya promosi oleh Sofyan Assauri dalam bukunya manajemen pemasaran, dasar konsep dan strategi (2001 : 112) dapat dibedakan dalam beberapa macam rangkaiannya, sebagai berikut:
1.    Biaya promosi, ialah sejumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperkenalkan produk barang dan jasa, sehingga barang yang belum dinelkan oleh masyarakat umum dapat diketahui karena perusahaan telah mengeluarkan biaya hanya dalam bentuk jasa pada salah satu media penerbit untuk dipromosikan.
2.    Promosi dalam istilah memunculkan barang yang belum populer di masyarakat umum agar dapat diketahui khayalak ramai dan dapat dipengaruhi oleh konsumen atau pengecer secara langsung untuk melakukan penjualan kepada konsumen. Adapun beberapa kriteria produsen yang mendirikan toko pengecer sehingga secara langsung melayani konsumen, mempunyai pengaruh kepada masyarakat, bekepribadian tinggi, dikenal oleh masyarakat.
3.    Banyaknya produk yang belum dikenal oleh masyarakat, yang berarti bahwa hasil produk barang biasanya langsung ke konsumen untuk memperlancar arus barang pada pasar tradisional. Produsen disini hanya berhubungan kepada pedagang besar (pengusaha besar) tidak melayani pengecer dan penjual. Produsen disini khususnya melayani dalam partai besar tanpa menghiraukan pengecer dan penjual.
4.    Berfungsinya promosi dalam meningkatklan arus barang produsen ke agen ke pengecer ke konsumen, dalam melaksanakan saluran distribusi produsen memilih agen (agen penjualan atau pabrik) sebagai penyalurannya. Produsen menjalankan kegiatan perdagangannya besar dalam saluran distribusi yang ada dan sasaran penjualannya terutama diajukan kepada pengecer.
5.    Biaya promosi telah diperhitungkan untuk mencapai tujuan, maka produsen ke agen ke pedagangan besar ke pengecer ke konsumen, yang berarti saluran distribusi ini berfungsi untuk saling menggunakan agen sebagai perantara untuk menyalurkan barangnya kepada pedagang besar yang kemudian menjualnya kepada toko-toko kecil agen yang terlihat dalam saluran distribusi ini terutama agen penjualan.
            Definisi di atas menitikberatkan pada pentingnya biaya dalam mendukung kegiatan promosi produk untuk dikenal oleh konsumen atau pembeli, juga manfaat dari produk sehingga pembeli meyakini akan keunggulan produk yang ditawarkan yang nantinya diharapkan setelah membeli, konsumen secara sukarela kembali membeli produk yang telah dikenalinya.
            Tujuan promotion fee adalah agar dapat memperkenalkan produk, mempromosikan secara langsung, publikasi dan iklan dengan baik, benar dan lancar dengan didukung oleh biaya yang memadai agar meyakinkan dan mengingatkan kembali manfaat produk kepada calon pembeli dengan sasaran dan harapan agar mereka tergerak hatinya dan secara sukarela membeli produk.
            Adapun menurut Sofyan Assauri dalam bukunya manajemen pemasaran, dasar konsep dan strategi (2001 : 112) alat-alat yang dapat digunakan untuk mempromosikan suatu produk yang tidak lepas dari peranan biaya promosi, dapat dipilih beberapa cara yaitu:    
  1. Iklan atau publikas
            Advertensi merupakan alat utama bagi perusahaan untuk mempengaruhi konsumennya. Advertensi ini dapat dilakukan oleh pengusaha lewat surat kabar, radio, majalah, bioskop, televisi ataupun dalam bentuk poster-poster yang dipasang di pinggir jalan atau tempat-tempat yang strategis. Dengan membaca atau melihat advertensi itu diharapkan para konsumen atau calon konsumen akan terpengaruh lalu tertarik untuk membeli produk yang di advertensikan tersebut.
            Oleh karena itu, advertensi ini haruslah dibuat sedemikian rupa sehingga menarik perhatian para pembaca. Pemilihan media atau massa media yang akan dipergunakan dalam periklanan haruslah sesuai dengan kebiasaan para konsumen, misalnya dengan memasang iklan di surat kabar ataupun majalh yang menjadi langganannya. Masing-masing media memiliki penggemar atau pelanggan sendiri-sendiri. Ada majalah-majalah khusus yang digemari oleh kalangan tertentu (eksklusif) dan ada majalah yang hanya digemari oleh para remaja, bahkan ada majalah khusus yang banyak dibaca oleh para petani di pedesaan misalnya. Oleh karena itu maka dalam memilih media iklan ini haruslah diperhatikan target audiensi atau sasaran pasar yang akan dituju.
     2. Promosi Penjualan (Sales Promotion)
            Promosi penjualan adalah kegiatan perusahaan untuk menjajakan produk yang dipasarkannya sedemikian rupa sehingga konsumen akan mudah melihatnya dan bahkan dengan cara penempatan dan pengaturan tertentu maka produk tersebut akan menarik perhatian konsumen. Dalam sebuah toko sepeda yang menggantungkan sepeda yang dijualnya tinggi, diharapkan akan menarik perhatian para calon pembelinya. Cara lain agar dapat dilihat dengan memasang produk tersebut di etalase toko yang mudah dilihat orang lewat bahkan dilengkapi pula dengan dekorasi tertentu sehingga akan menarik perhatian para calon pembelinya. Bentuk lain yang termasuk pula dalam sales promotion ini adalah dengan memberikan sampel produk kepada calon konsumen. Contoh atau sampel produk yang diberikan kepada pengunjung secara gratis dengan harapan mereka akan tertarik dan senang menggunakan produk tersebut.
     3. Publikasi (Publication)
            Publisitas merupakan cara yang biasa digunakan oleh pengusaha untuk secara tidak langsung kepada konsumen agar mereka menjadi tahu dan menyenangi produk yang dipasarkan. Cara ini dibuat dengan membuat berita tentang produk atau perusahaan yang menghasilkan produk etrsebut di media massa, misalnya saja berita di majalah, berita di radio atau televisi dan sebagainya. Dengan berita itu, maka para pembaca secara tidak sadar telah terpengaruh oleh berita tersebut. Berita macam ini akan lebih efektif karena bersifat bebas yang pada umumnya oleh konsumen lebih dapat dipercaya kebenarannya daripada informasi yang datanya dari para pengusaha sendiri dalam bentuk iklan ataupun cara promosi yang lain.
     4. Personal Selling   
            Personal selling merupakan kegiatan perusahaan untuk melakukan kontak langsung dengan konsumennya. Dengan kontak langsung ini diharapkan akan terjadi hubungan atau interaksi positif antara pengusaha dengan calon konsumennya. Kontak langsung akan dapat mempengaruhi secara lebih intensif para konsumen karena dalam hal ini pengusaha dapat mengetahui keinginan dan selera konsumen serta gaya hidupnya dan dengan demikian maka pengusaha dapat menyesuaikan cara pendekatan atau komunikasinya dengan konsumen secara lebih tepat yang sesuai dengan selera konsumen yang bersangkutan. Yang termasuk kategori personal selling ini adalah:
1.    Door to door selling
2.    Mail order
3.    Telephone selling
4.    Direct selling
Keempat bentuk promosi tersebut yaitu iklan, promosi penjualan, publisitas dan personal selling itu, oleh pengusaha haruslah diberi perhatian secara cermat dalam bentuk pengeluaran biaya promosi sehingga akan mampu secara efektif untuk mempengaruhi para konsumen agar menjadi lebih tertarik untuk membeli produk yang dipasarkan itu.
Sebuah perusahaan modern harus mengelola sistem komunikasi pemasaran yang kompleks. Perusahaan itu berkomunikasi dengan perantara, konsumen dan berbagai lapisan masyarakat. Sedangkan konsumen ikut serta dalam komunikasi dari mulut ke mulut dengan komunikasi yang lainnya.
Bauran promosi (promotional mix) dibuat untuk memberikan informasi dan mempengaruhi para pembeli dan calon pembeli yang potensial sehubungan kebaikan-kebaikan produk atau servis dari suatu perusahaan.
D. Pengertian Traffic Movement Report
Menurut Oka, Yoeti dalam bukunya Tours and Travel Marketing (2006:12), menjelaskan bahwa traffic movement report adalah arus pergerakan penumpang (passenger) dalam suatu airlines dari boarding point (kota atau airport tempat penumpang dijadwalkan berangkat) ke deplaning point (kota atau airport tempat penumpang dijadwalkan mengakhiri perjalanannya dalam suatu penerbangan tertentu), yang dipantau dan didata serta dilaporkan secara terus menerus setiap hari dan secara periodik.
Laporan tersebut dimaksudkan untuk mengetahui tinggi rendahnya arus penumpang atau sedikit banyaknya penumpang yang dapat diangkut atau memilih menggunakan jasa penerbangan yang dimaksud ke semua tujuan, termasuk didalamnya juga adalah laporan tentang data dari pesaing (competitor) pangsa pasar (market share).
            Selanjutnya seperti yang telah dikemukakan Edi Wardojo dalam bukunya Airline Passenger Reservation (2006 ; 1) berpendapat bahwa karakteristik produk Airline berbeda dengan produk manufaktur seperti furniture, kendaraan bermotor, barang elektronik dan sebagainya. Produk manufaktur merupakan produk yang berupa barang sehingga dapat diraba dengan panca indra, dapat dicoba sebelum dilakukan transaksi pembelian dan dapat disimpan digudang untuk dijual pada kesempatan lain apabila tidak terjual dalam waktu tertentu. Sedangkan produk Airline merupakan produk yang berupa jasa sehingga mempunyai karakteristik sebagai berikut:
     1. Intangible (tidak nampak, tidak dapat disentuh)
            Produk Airline merupakan produk jasa sehingga tidak tampak dan tidak dapat diraba dengan panca indra. Produk Airline juga tidak dapat di uji coba terlebih dahulu oleh calon penumpang sebelum melakukan transaksi pembelian, melainkan hanya dapat dirasakan oleh pembelinya pada saat proses produksi berlangsung.
     2. Perishable (mudah rusak)
            Produk Airline sangat tergantung pada waktu karena pertama produk Airline hanya dapat dinikmati oleh penumpang pada saat dilakukan produksi yaitu pada saat keberangkatan pesawat sampai tiba di tempat tujuan. Kedua, apabila sampai pada saat keberangkatan pesawat produk tersebut tidak terjual, maka sisa produknya tidak dapat disimpan atau dijual pada kesempatan lainnya. Artinya apabila pada saat keberangkatan pesawat jumlah seat yang terjual sebanyak 70% dari kapasitas yang tersedia dan seat yang tidak terjual sebanyak 30%, maka sisa seat yang tidak terjual tesebut yaitu 30% merupakan kerugian bagi Airline karena tetap harus diterbangkan dan tidak dapat disimpan untuk dijual pada kesempatan lain.
     3. High Cost (biaya tinggi)
            Airline merupakan perusahaan yang syarat dengan teknologi tinggi dengan nilai investasi yang sangat mahal. Hal ini dapat kita lihat dari setiap tahapan proses produksi seperti dalam penyediaan armada pesawat berikut perawatannya, penanganan schedule planning, crew planning, reservasi, sampai penyediaan alat pendukung pelayanan sebelum pelayanan, selama penerbangan, setelah penerbangan dan lain-lain. Karena tingginya biaya produksi tersebut maka mengakibatkan harga produk Airline juga relatif mahal.
     4. High Risk
            Dalam melakukan proses produksi, Airline juga mempunyai resiko yang sangat tinggi seperti dalam perawatan armada pesawat, dalam operasional penerbangan, dalam pengelolaan proses distribusi dan lain-lain. Walaupun demikian dalam proses produksinya, Airline tetap menggunakan faktor keselamatan dan kenyamanan penerbangan. Dalam melaksanakan proses produksi Airline harus mengikuti standar yang telah ditentukan secara internasional seperti yang dikeluarkan oleh Federal Aviation Authorities (FAA), International Air Transport Association (IATA), International Civil Aviation Organization (ICAO) dan sebagainya. Dengan demikian walaupun mempunyai resiko yang sangat tinggi, kualitas produk terutama dalam hal keselamatan dan kenyamanan penerbangan tetap terjamin.
            Melihat karakteristik produk Airline tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa laporan data traffic movement report sebagai pengelolaan hasil pendistribusian produk Airline wajib dijadikan acuan bagi perusahaan penerbangan dalam upaya untuk mencapai tujuan dari perusahaan.
E. Pengertian dan Karakteristik jasa
1.   Pengertian Jasa
Pada dasarnya tidak ada definisi secara luas tentang jasa yang digunakan oleh pemasar. Kenyataannya memang sulit diketahui tentang batas-batas yang jelas antara organisasi dan unit usaha yang menjadi bagian bagi penyalur barang dengan organisasi yang menawarkan jasa. Namun dalam penulisan ini penulis mengangkat masalah jasa yang dibeli dan ditukar dipasar, yang disebut juga jasa pertukaran.
Menurut Basu Swasta dalam bukunya asas-asas marketing (1997:318) dikatakan bahwa :Jasa pertukaran adalah barang yang tidak kelihatan (intangible Product) yang dibeli dan dijual dipasar melalui transaksi pertukaran yang saling memuaskan”
Dari defenisi diatas jelas terlihat salah satu unsur penting adalah bahwa jasa merupakan produk yang tidak kelihatan, sehingga dapat disimpulkan bahwa (1) jasa merupakan produk yang tidak kelihatan yang dilaksanakan dan tidak diproduksi, (2) Nilai dan keuntungan dari suatu jasa dapat dibeda-bedakan diantara pemakaiannya karena sebagian sumber untuk melaksanakan jasa berasal dari pembeli, sedangkan pengertian       jasa yang dikemukakan oleh Philip Kotler dan Paul N. Bloom dalam bukunya Teknik dan strategi pemasaran jasa Profesional (1999:152) yang mengataka secara jelas bahwa :
“Jasa adalah kegiatan atau masalah yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lainnya, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan seseorang memiliki sesuatu “.
Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa ada terdapat tiga unsur yang pokok yaitu: (1) Terjadi proses tukar menukar, (2) yang dipertukarkan itu tidak berwujud, (3) hasil dari pertukaran tersebut tidak membawa pemilikan (dalam bentuk fisik).
2.  Karakteristik Jasa
Didalam literatur pemasaran secara umum diuraikan bahwa jasa itu dapat digolongkan dalam dua golongan besar antara lain jasa industri dan jasa konsumen. Namun disini penulis hanya menitik beratkan pada jasa konsumen saja. Dimana jasa itu sendiri banyak digunakan secara meluas dalam masyarakat.
Seperti halnya dengan barang, menurut Basu Swasta dan Irawan dalam bukunya manajemen pemasaran modern (1997:167), maka jasa konsumen ini dapat dibagi dalam tiga golongan yakni : (a) Jasa konvenien, (b) Jasa shopping, (c) Jasa spesial. Penggolongan jasa ini sangat relatif karena suatu jasa bagi seseorang merupakan jasa konvenien tetapi bagi orang lain merupakan jasa shopping atau jasa spesial dan sebaliknya, dengan penggolongan ini hanya didasarkan pada prilaku dari pada konsumen dalam mencari atau membelinya.
1.   Pemasaran jasa konvenien (Convenience Goods)
Jasa konvenien adalah jasa konsumsi yang pembelinya sering dan masyarakat membeli dengan melakukan usaha yang minimal.
Dengan demikian istilah konvenien dapat diartikan sebagai : dekat dengan rumah pembeli, mudah dicapai dengan alat-alat transportasi, atau dekat dengan tempat dimana pembeli bekerja. Oleh sebab itu pertimbangan yang paling efektif untuk jasa konvenien adalah lokasi. Itulah sebabnya lokasi merupakan variable pemasaran yang penting dalam jasa konvenien. Dalam artian bahwa harga tidaklah merupakan faktor penting dalam pembelian jasa-jasa konvenien.
2.   Pemasaran jasa shopping (Shopping Goods)
Jasa shopping adalah jasa konsumsi yang dipilih atau dibeli oleh masyarakat sesudah mengadakan pertimbangan terhadap kualitas, harga, dan reputasi.
Jelaslah bahwa konsumen membutuhkan informasi untuk membandingkan jasa shopping, komunikasi merupakan faktor yang sangat mendukung. Oleh sebab itu perusahaan yang ingin berhasil dalam pemasaran jasa shopping diharuskan untuk menyediakan informasi yang lengkap dan menarik buat konsumen. Sehingga promosi merupakan kunci sukses apabila jasa tersebut mau dibeli oleh konsumen.
3. Pemasaran jasa spesial (Specialty Goods)
Jasa special adalah jasa konsumsi dimana dalam pembeliannya pembeli harus melakukan usaha pembelian khusus dengan cara tertentu atau dengan pembayaran yang lebih besar. Upaya pengembangan ini harus difokuskan pada kepuasan konsumen. Sehingga lokasi hanya merupakan faktor sekunder dalam pemasaran jasa special. Walaupun lokasinya jauh dan harganya tinggi, namun konsumen tetap mencarinya.
Menurut Zeithaml  et.Al. dalam Scoot Dru dalam bukunya custumer satisfaction (2003:38) mengemukakan lima dimensi dalam menentukan kualitas jasa, yaitu :
1. Reliability (Keterandalan)
Yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan janji yang ditawarkan.
2. Responsiveness (Kesigapan)
Yaitu respon atau kesigapan karyawan dalam membantu pelanggan dan memberikan pelayanan cepat dan tanggap, yang meliputi : kesigapan karyawan dalam melayani pelanggan, kecepatan karyawan dalam menangani transaksi, dan penanganan keluhan pelanggan.
3. Assurance (Jaminan)
Meliputi kemampuan karyawan atas : pengetahuan terhadap prodak secara cepat, kualitas keramahtamahan, perhatian dan kesopanan dalam memberikan pelayanan, keterampilan dalam memberikan informasi, kemampuan dalam memberikan keamanan didalam memanfaatkan jasa yang ditawarkan, dan kemampuan dalam menanamkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan.
4. Emphaty (Empati)
Yaitu perhatian secara individual yang diberikan perusahaan kepada pelanggan seperti kemudahan untuk menghubungi perusahaan, kemampuan karyawan untuk berkomunikasi dengan pelanggan, dan usaha perusahaan untuk memahami keinginan dan kebutuhan pelanggan.
5. Tangibles (Nyata)
Meliputi penampilan fasilitas fisik seperti gedung dan ruangan front Office, tersedia tempat parkir, kebersihan, kerapian dan kenyamanan ruangan, kelengkapan peralatan komunikasi dan penampilan karyawan. 

 DAFTAR PUSTAKA
Alma, Buchari, 2004. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Cetakan Ketujuh, Edisi Revisi, Penerbit Alfabeta, Bandung.

Anton Dajan, 2000. Statistika, edisi, kedua Cetakan Pertama,  BPFE, Yogyakarta

Assauri, Sofjan, 2004. Manajemen Pemasaran, Dasar, Konsep dan Startegi. PT. Raja Grafindo, Jakarta.
Cravens, David, 2002, Pemasaran Strategis, edisi 4, Jilid 2  Erlangga, Jakarta

Edi, Wardojo, 2006, Airline Passenger Reservation, Cetakan I (Pertama)
            Eviexena Mediatama, Bekasi

Gitosudarmo, Indriyo, 2000, Manajemen Pemasaran, Edisi Pertama,  BPFE, Yogyakarta
           
Irianti, Yosal, 2004, Manajemen Strategis, Ghalia Indonesia Jakarta

Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran. Edisi Milenium,Jakarta Bagian   Penerbit Prenhallindo.

Machfoedz, Mahmud, 2005. Pengantar Pemasaran Modern. YKPN, Yogyakarta.

Oka, Yoeti, 2006, Tours and Travel Marketing, Cetakan Kedua, Pradnya   Paramita, Jakarta

Rismiati, Catur E, dan Suratno Bondan, 2001, Pemasaran Barang dan Jasa, Kanisius, Bandung
           
Scoot Dru, Ph.D. 2003. Customer Satisfaction. Jakarta : Bagian Penerbit Lembaga PPM.

Swastha Basu, Irawan. 1997. Manajemen Pemasaran Modern. Edisi II, Liberti Yogyakarta.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar