Rabu, 12 Oktober 2016

Promosi dan Peningkatan Volume Penjualan

A   Pengertian Pemasaran

      Sebagaimana diketahui bahwa pemasaran ialah bagaimana cara meningkat volume penjualan hasil produksi, karena biasanya hasil produksi susah untuk menembus pemasaran sebab kapan hasil produksi tidak bersaing, yang tidak bisa    bersaing hasil produksi di pasaran.
      Dalam membicarakan pengertian pemasaran kita harus melihat beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli pemasaran karena dalam memberikan defenisi pemasaran kita sering menjupai beberapa penafsiran yang dapat memberikan estimasi bagaimana cara meningkatkan volume penjualan sesuai dengan titik pandang masing-masing ahli. Pada dasarnya prinsip-prinsip ini secara umum defenisi-defenisi tersebut mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu bahwa kegiatan atau aktivitas pemasaran barang dan jasa bukan hanya sekedar kegiatan menjual barang/jasa tetapi lebih luas dari pada itu.
      Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka pemasaran berarti suatu aktivitas atau kegiatan manusia berlangsung dalam kaitannya jual beli di pasar, atau berarti bekerja dengan pasar untuk mewujudkan pertukaran yang potensial dengan maksud untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan  manusia.
      Pemasaran merupakan salah satu kegiatan pokok yang dilaksanakan dalam  mempertahankan kelangsungan hidup suatu perusahaan  dengan  tujuan  untuk  memperoleh laba. Berhasil tidaknya pencapaian tujuan tersebut tergantung bagaimana memasarkan  suatu  produk  itu sendiri sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai.
      Pemasaran merupakan suatu proses pemilihan, pasar mana yang akan kita masuki, produk apa yang kita pasarkan, berapa harga yang kita tetapkan serta distributor mana yang akan kita gunakan. Oleh sebab itu, maka sasaran yang ingin dicapai perusahaan adalah untuk volume peningkatan penjualan Dalam hal ini bukan semata-mata didasarkan pada selera dan pemenuhan keinginan di dalam memasarkan produknya agar supaya produk yang ditawarkan itu dapat terjual.
      Untuk memperjelas pengertian pemasaran ini, maka dikutip oleh beberapa para ahli. Menurut Sofyan Assauri, dalam bukunya Manajemen Pemasaran Suatu Pendekatan Analisis (2001: 2), menyatakan bahwa, pemasaran adalah untuk menyediakan dan menyampaikan barang dan jasa tepat pada orang, atau konsumen  pada tempatnya dan waktu serta harga yang tepat dengan promosi dan komunikasi yang tepat.
      Selanjutnya, W.S Stanton dalam bukunya Marketing Praktis, (2000 : 4), mengemukakan bahwa pemasaran adalah stau sistem dari keseluruhan kegiatan yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosi kan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan untuk memenuhi kebutuhan baik pembeli yang ada maupun pembeli potensial.
      Kalau kita menelaah lebih lebih jauh didifinisikan tersebut, maka pada dasarnya pemasaran merupakan suatu sistem yang terkait untuk membuat perencanaan, penentuan harga, melaksanakan promosi,


mendistribusikan barang dan  jasa  dalam rangka  memuaskan  kebutuhan dan  keinginan para  konsumen.
      Sedangkan Winardi, dalam bukunya Azas-Azas Marketing (2002 : 10) mendefinisikan bahwa pemasaran adalah pelaksanaan aktivitas dunia usaha yang mengamati arus benda-benda serta jasa-jasa pada produsen ke konsumen atau pihak yang menggunakannya.
      Dari definisi tersebut di atas menunjukkan bahwa pemasaran adalah semua kegiatan proses pemindahan barang atau jasa dari pihak produsen ke pihak konsumen dengan menggunakan suatu keseluruhan distribusi dalam rangka memperlancar arus pertukaran barang atau jasa hasil produksi tersebut.
     Alex S. Nitisemito dalam bukunya Azas-Azas Marketing, (2000: 13), memberikan pengertian tentang pemasaran yaitu pemasaran adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk memperlancar arus barang dan jasa dari produsen kekonsumen secara efisien dengan maksud menciptakan permintaan yang efektif.
    Sedangkan Philip Kotler dalam bukunya Manajemen Pemasaran (2002 : 5) mengemukakan bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial yang memberikan kepada individu atau kelompok, apa yang mereka butuhkan, inginkan dan ciptakan serta menukarkan produk-produk dan nilai dengan individu dan kelompok lainnya.
     Salah satu beberapa kegiatan manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan adalah melakukan suatu proses pertukaran, jadi dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil pemasaran diciptakan oleh para penjual dan pembeli atau lebih dikatakan bahwa pemasaran diciptakan oleh para   produsen   dan   konsumen dalam  paya    memenuhi    kebutuhan
dan keinginan yang jumlahnya tidak terbatas. Jelas bahwa antara produsen dan konsumen senantiasa beberapa untuk mencari kepuasan dengan cara meraih keuntungan, sedangkan dalam pihak para konsumen memenuhi kebutuhan prestasi pemilikan barang dan jasa yang ditawarkan oleh produsen.
      Dengan memperhatikan beberapa definisi pemasaran yang jelas dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasaran merupakan suatu interaksi yang berusaha untuk menciptakan hubungan pertukaran serta usaha yang terpadu untuk mengembangkan rencana-rencana strategis yang diarahkan pada pemasaran kebutuhan dan keinginan konsumen, guna mendapatkan penjualan yang menghasilkan laba.

B   Pengertian Manajemen Pemasaran

      Dalam melakukan pemasaran hasil  produksi  pada perusahaan, oleh Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, Analisis Perencanaan (2002 : 201), menyatakan bahwa manajemen pemasaran terhadap memasarkan hasil produk bagaimana pada  tingkat kepuasan konsumen, apakah  sepatutnya barang tersebut diproduksi,  ataukah sudah sesuai  dengan  selera konsumen. Dengan dasar ini perusahaan perlu adanya  jaminan produk, sehingga mutu dan kualitas tetap menjadi perioritas utama  agar langganan tetap memilih pada produk yang  telah lama disenangi.
      Jika  ditelaah  lebih  lanjut,  sebenarnya  terdapat dalam  berbagai  faktor yang  dapat  mempengaruhi  pilihan ditetapkan para konsumen dalam rangka menentukan pilihannya mengenai mengenai produk yang dikonsumsinya menurut WS. Stanton, Marketing Praktis (2000 : 11) menyatakan bahwa .
      Faktor-faktor manajemen  tersebut  pada perusahaan  antara  lain  tingkat pendapatan,  pendidikan  dan status sosial  yang  disandang oleh para konsumen yang secara potensial akan  mengkonsumsi barang  yang akan dipasarkan perusahaan. Ketiga faktor  ini akan  turut  berpengaruh  bagi perilaku  konsumen  sehingga perusahaan  perlu mengkajinya, dan meningkatkan  produknya sehubungan  dengan  upaya perusahaan  didalam meningkatkan volume penjualan.
      Dengan  melakukan  suatu kajian atau  studi  terhadap perilaku  konsumen dalam mengkonsumsi suatu  barang,  akan diperoleh  suatu  petunjuk  yang konkret  mengenai   perlu tidaknya  perusahaan  melakukan  perluasan  dan  penyebaran  produk-produknya  dipasar. Sehubungan dengan hal  ini  maka Sofyan  Assauri, dalam bukunya Manajemen Pemasaran Suatu Pendekatan Analisis (2001  : 17)  mengemukakan  bahwa  dengan mengkaji  manajemen pemasaran tersebut, perusahaan   dapat mengetahui  diagnosa tentang siap dan apa  serta bagaimana  kebenaran   mengenai   pemakaian   suatu produk.         
      Beberapa definisi tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai  berikut
1.    Manajemen pemasaran bagaimana produk itu memberikan tingkat kepuasan konsumen
2.    Dapat sesuaikan dengan selera konsumen, dengan merasa puas terhadap hasil produk
3.    Mutu dan kualitas dijamin yang diprioritaskan produk barang
4.    Bagaimana memberikan konsumen adalah tetap menjadi pilihan tetap para konsumen.
5.    Diagnosa tentang siap dan kebenaran mengenai pemakaian produk.       
      Hasil  pengkajian  tentang  perilaku konsumen  tersebut  digunakan oleh perusahaan untuk menentukan perlu tidaknya  perusahaan merubah strategi pemasaran produknya. Dengan demikian, jelas terlihat bahwa aspek  perilaku konsumen perlu mendapatkan perhatian dari manajemen perusahaan,  saat mana perusahaan yang bersangkutan  merencanakan untuk mempertahankan posisinya di pasar. Meskipun  terdapat banyak faktor yang memungkinkan suatu perusahaan untuk mempertahankan posisinya dipasar,namun masalah perilaku konsu­men  ini  perlu mendapatkan perhatian  yang  cukup  serius,   khususnya  bagi barang-barang industri yang pangsa pasarnya berada pada kalangan masyarakat yang berpenghasilan relatif tinggi. Secara  lebih konkret dapat dikemukakan  bahwa  unsur manajemen yang dijalankan bagian pemasaran barang,  pada  dasarnya mencerminkan  tanggapan atau respon mereka terhadap  berba­gai  rangsangan pemasaran. Tanggapan atau  respon tersebut terutama  terlihat  melalui berbagai bentuk pewadahan  pro­duk, harga, daya tarik advertensi dan unsur  lainnya  yang berdampak secara psikologi bagi konsumen.
      Mengenai perlunya perusahaan menelaah mengenai periku konsumen tersebut,  maka perlu adanya  perincian  mengenai  dimensi  penting  dari unsur prilaku  konsumen.  Sehubungan dengan  konteks  ini,  maka Yanti B. Sugarda dalam bukunya Kerangka Strategi Perusahaan (2001:  119) membedakan  adanya  tiga dimensi  perilaku  konsumen  dalam konteks pembelian  suatu  produk,  dimana  dimensi-dimensi tersebut meliputi :
1.  Dimensi cognitif (pikiran)
2.  Dimensi effective (perasaan)
3.  Dimensi conative (perbuatan)
      Komponen  cognitive merupakan elemen rasional  yang dipergunakan dalam proses penelaahan secara mental mengenai adanya perilaku konsumen dalam mengkonsumsi barang.  Kompo­nen efective merupakan elemen emosional serta adanya  unsur perasaan  yang secara alamiah berada pada  setiap  individu yang akan mengkonsumsi barang. Komponen conative merupakan suatu  kecenderungan  untuk melakukan suatu  tindakan  atau perbuatan sehingga konsumen akan melakukan pembelian terhadap produk-produk yang ditawarkan oleh perusahaan di pasar.

C   Pengertian dan Tujuan Promosi
1. Pengertian Promosi

      Sebagaimana diketahui bahwa sukses tidaknya  kegiatan pemasaran tidak hanya tergantung pada kualitas produk  yang dihasilkan,  kebijaksanaan yang tepat, tetapi juga  melalui banyaknya  konsumen yang berkelanjutan untuk menjaga  agar hubungan tersebut jangan terputus, maka diperlukan hubungan yang sistimatis dengan pembeli potensial para perantara. 
      Kata Promosi atau komunikasi pemasaran dapat memberikan interprestasi dan  bahasa  yang  berbeda-beda.   Pada dasarnya  maksud  kata promosi adalah  untuk  memberitahu, membujuk  dan  mengingatkan. Tujuannya untuk mempengaruhi potensial consumer's atau pedagang perantara melalui  komunikasi (bauran  promosi). Ditinjau dari segi ini  maka  yang termasuk dalam  kegiatan ini adalah  advertising,  promosi dagang, publisitas penjualan pribadi. Keempat macam promosi tersebut  merupakan  komunikasi yang  umum  digunakan, guna mempengaruhi  pikiran dan tingkalaku pembeli.  Oleh karena itu, peranan promosi dalam pemasaran sangat diperlukan oleh perusahaan dalam meningkatkan usahanya.
      Untuk lebih mengetahui pengertian promosi sebagaimana yang dikemukakan oleh Winardi, dalam bukunya Manajemen Pemasaran (2003 : 379), bahwa promosi adalah (usaha untuk menunjukkan sesuatu) kerap kali latihan promosi  dihubungkan  dengan  perdagangan,   kepriwisataan, produksi yang berarti untuk memajukan ketiga usaha tersebut dengan sasaran laba yang semaksimal mungkin".
      Berdasarkan  pengertian tersebut di atas, maka  dapat ditarik  suatu kesimpulan bahwa promosi  adalah  merupakan suatu  usaha yang digunakan oleh perusahaan baik yang  ber­gerak di bidang jasa, industri maupun perdagangan.  Promosi penjualan  menurut  Basu  Swastha, dalam bukunya Manajemen Pemasaran Modern  (2002 :  115)  mempunyai tujuan, sebagai berikut :
1.  Memperkenalkan suatu barang  atau jasa yang dihasilkan industri  dengan  sasaran untuk  meningkatkan  penjualan suatu produk sehingga dapat memperoleh laba yang  semaksimal mungkin.
2. Memberikan kesan atau daya tarik bagi orang akan membeli suatu produk yang ditawarkan jika memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
3. Menyampaikan pesan menarik dengan cara yang jujur  untuk menciptakan

2 . Tujuan Promosi

      Promosi  pada perusahaan mempunyai  tujuan  tertentu, yaitu untuk menyampaikan suatu barang yang sudah diproduksi pada konsumen, agar informasi dapat meluas, maka  digunakan beberapa media masa menunjang informasi tersebut.
      Basu Swasta dan Irawan dalam bukunya Manajemen Pemasaran Modern (2002 : 10) bahwa dalam praktek promosi mempunyai beberapa tujuan untuk menyampaikan  misi, sebagai berikut :
1. Modifikasi  tingkah  laku,  dimaksudkan  disini   adalah penjualan dalam promosi yang berusaha menciptakan  kesan tentang  dirinya dan mendorong pembeli barang  dan  jasa melalu  usaha  perubahan  tingkah laku  serta  pendapat konsumen.  Konsumen sebelumnya tidak senang menggunakan produk perusahaan, selanjutnya diarahkan agar mau  beralih  kepada produk yang ditawarkan atau yang  dihasilkan perusahaan,  misalnya dengan mengatakan  "Penjualan  gas elpiji”  pada PT. Nusamin lebih mudah.
2. Memberitahu,  berarti kegiatan promosi  ditujukan  untuk memberitahu tentang  pasaran  produk  perusahaan. Dengan kata lain promosi ini  bersifat informatif kepada  konsu­men  sehingga  dapat membantu mereka  dalam  pengambilan keputusan pembeli.
3. Membujuk,  dengan  cara promosi yang  sifatnya  membujuk (persuasif) yang diharapkan penjualan dapat ditingkatkan dengan terlebih dahulu membujuk konsumen agar mau membe­lanjakan  uangnya terhadap produk yang  ditawarkan  oleh perusahaan. Umumnya metode promosi ini kurang  disenangi oleh  masyarakat,  tetapi kenyataannya  sekarang  justru banyak  muncul adalah promosi yang  sifatnya  persuasif.
      Hal ini dimaksudkan untuk mendorong pembeli dan berusaha untuk menciptakan kesan positif terhadap produk  perusa­haan  serta  memberi pengaruh yang  lama  pada  perilaku pembeli. Di samping itu promosi yang sifatnya  persuasif lebih diutamakan jika produk bersangkutan mulai memasuki tahap pertumbuhan.    
4.   Mengingatkan, yaitu promosi yang sifatnya mengingatkan untuk  dilakukan  terutama  dalam  memperhatikan   merek produk dihati masyarakat dan perlu dilakukan seama tahap kedewasaan di dalam siklus kehidupan produk ini, berarti pula perusahaan berusaha untuk paling tidak mempertahan­kan pembeli yang ada.

D   Promotion Mix/ Bauran Promosi
      Perusahaan harus mendisrtibusikan biaya promosi  yang digunakan dalam pemasangan iklan, baik melalui  elektronik maupun iklan cetak, sehingga perusahaan selalu mencari cara untuk  bisa mencapai efektivitas dengan beralih  dari  satu alat promosi ke alat promosi yang lain karena nilai ekonominya lebih baik. Menurut Agus Maulana dalam bukunya Azas-Azas Marketing (2003 : 115) dalam merancang  bauran promosi akan lebih rumit bila  satu alat  promosi  digunakan untuk mempromosikan  barang  lain.
      Banyak faktor yang mempengaruhi pemasar dalam memilih alat-alat promosi yang bisa meningkatkan volume penjualan. Promosi yang banyak ragam dan penggunaan iklan,  maka sukar sekali membuat generalisasi yang menyeluruh  kualitas khusus  dari iklan sebagai suatu komponen  bauran promosi, namun kualitas kualitas bauran promotion, sebagai berikut :
1) Penampilan  publik, artinya iklan model komunikasi  yang paling  memasyarakat.  Sifat publik  iklan  menghasilkan suatu pengesahan terhadap produk yang diiklankan memberi perwatan standar.
2)   Biaya serap, artinya iklan atau media yang dapat meresap karena  penjual bisa mengurani pesan. Juga  memungkinkan pembeli  menerima dan membandingkan pesan dari  berbagai saingan. Iklan berskala besar memungkinkan sesuatu  yang  positif mengenai besarnya suatu perubahan.
3) Ungkapan perusahaan yang diperjelas, artinya iklan mampu mendramatisasi suatu perusahaan beserta produknya  melalui lukisan inilah, bunyi dan warna.
4)   Tidak  adanya  tatapmuka,  artinya  iklan  tidak  begitu memaksa, seperti tenaga penjual.   

E   Pengertian Penjualan

      Sebenarnya laba yang diperoleh suatu perusahaan merupakan pencerminan diri usaha-usaha perusahaan yang memberikan kepuasan konsumen. Untuk mencapai hal itu, perusahaan harus dapat menyediakan dan menjual barang atau jasa yang paling sesuai menurut konsumen dengan harga yang dapat dijangkau tetapi tidak merugikan produsen artinya dengan harga yang layak.
      Dengan demikian, sasaran perusahaan dalam melaksanakan tugas pokok tersebut serta untuk mencapai tujuan sebagai unit usaha adalah meningkatkan volume penjualannya, karena penjualan adalah sumber pendapatan bagi perusahaan.
      Stanton, dalam bukunya Strategi Pemasaran, (1999 : 8) memberikan definisi sederhana tentang penjualan, bahwa penjualan adalah bagian pemasaran itu sendiri adalah salah satu bagian dari keseluruhan sistem pemasaran.
      Pengertian penjualan berarti bahwa menyerahkan barang atau jasa aktivitas lainnya dalam suatu periode dengan membebankan suatu jumlah tertentui pada langganan/ konsumen atau pembeli/ penerima barang atau jasa.
      Penjualan barang dagangan oleh sebuah perusahaan dagang biasanya hanya disebut “Penjualan” diberikan definisi oleh Soemarso, Akuntansi Manajemen, (1999 : 178) jumlah transaksi penjualan yang terjadi biasanya  cukup besar dibandingkan dengan jenis transaksi yang lain. Beberapa perusahaan hanya menjual barangnya secara tunai, perusahaan yang lain hanya menjualnya secara kredit, dan yang lain lagi menjual barangnya dengan kedua syarat jual beli tersebut.    
      Penjualan adalah suatu proses pertukaran barang dan/ atau jasa antara penjua;l dan pembeli. Tugas pokok adalah mempertemukan pembeli dan penjual. Hal ini dapat dilakukan secara langsung  atau melalui wakil mereka sebagai distrbutor.
      Fungsi penjualan mencakup sejumlah fungsi-fungsi sebagai berikut :
1.    Fungsi perencanaan
2.    Fungsi memberi kontrak ( contractual function )
  3.  Fungsi menciptakan permintaan (demand creation)
  4.  Fungsi ,mengadakan perundingan (negotiation)
  5.  Fungsi kontraktual (contractual fungtion)
      Pada umumnya, para pengusaha mempunyai tujuan untuk mendapatkan laba tertentu (mungkin maksimal), dan mempertahankan atau bahkan meningkatkannya untuk jangka waktu lama. Tujuan tersebut dapat direalisasikan apabila penjualan dapat dilaksanakan seperti yang direncanakan. Dengan demikian tidak berarti bahwa barang dan jasa yang terjual selalu akan menghasilkan laba. Oleh karena itu pengusaha harus memperhatikan beberapa faktor-faktor sebagai berikut :
1.  Modal yang diperlukan
2.   Kemampuan merencanakan
3.    Kemampuan menentukan tingkat harga yang tepat
4.    Kemampuan memilih penyalur yang tepat
5.    Kemampuan menggunakan cara-casra promosi yang tepat
6.    Unsur penunjang
      Perusahaan, pada umumnya mempunyai tiga tujuan umum dalam penjualan   yaitu
       1.  Mencapai tujuan tertentu
       2.  Mendapatkan laba tertentu
      3.   Menunjang pertumbuhan per

F   Pengertian Biaya Promosi  

      Untuk lebih memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen, maka salah satu faktor yang penting adalah penatapan harga jual, akan tetapi sebelum ditetapkan harga jual terlebih dahulu dtetapkan besarnya biaya promosi dalam memasarkan barang. Biaya promosi menurut  Philip Kotler, dalam bukunya Manajemen Pemasaran, (2002 : 28), menyatakan bahwa biaya promosi  sebagai alat yang digunakan untuk sarana penghubung terjadinya transaksi jual beli barang dan jasa.
      Biaya pemasaran merupakan salah satu alternatif bagi perusahaan bagaimana untuk memperlancar barang dan jasa hasil produk, karena  bermunculan produk yang sama, peranan biaya pemasaran dalam memerangi saingan dan tantangan perlu diatasi serta harus dilewati,  kecermatan dan kelihaian pengelola perusahaan ditentukan oleh keunggulan menghadapi pesaing muncul dengan sendirinya.   
      Bilamana terjadi suatu kesalahan dalam pemlihan dalam penatapan harga jual akan memberikan pengaruh yang dapat memperlambat atau menghambat usaha penyaluran barang dan jasa. Produk yang sudah memenuhi Standar Industri Indonesia (SII) dan sudah memenuhi selera konsumen namun jika ternyata harga tinggi dibandingkan dengan produk perusahaan lain, maka produk tidak mempunyai kemampuan dan inisiatif atau  kurang bertanggung jawab, maka usaha penyaluran akan mengalami hamabatan.
      Secara umum biaya pemasaran dapat dibedakan dalam beberapa macam menurut rangkaiannya, sebagai berikut :
 1.  Produsen ke konsumen, ialah dalam bentuk saluran distribusi yang paling pendek dan sederhana adalah saluran distribusi dari produsen langsung ke konsumen tanpa menggunakan perantara, atau bisa disebut distribusi secara langsung. Produsen disini kurang memperhatikan salurtan distrbusi yang telah terbangun selama ini.
 2. Produsen ke pengecer ke konsumen, ialah suatu hal dapat dipengaruhi oleh konsumen atau pengecer secara langsung untuk melakukan penjualan kepada konsumen. Adapun beberapa kriteria produsen yang mendirikan toko pengecer sehingga secara langsung melayani konsumen, mempunyai pengaruh kepada masyarakat, bekepribadian tinggi, dikenal oleh masyarakat.
 3.  Produsen ke pedagangan besar ke pengecer ke konsumen, yang berarti  bahwa saluran distribusi ini banyak digunakan oleh produsen, dan dinamakan sebagai saluran distribusi tradisional. Produsen disini hanya berhubungan kepada pedagang besar (pengusaha besar) tidak melayani pengecer dan penjual. Produsen disini khususnya melayani dalam partai besar tanpa menghiraukan pengecer dan penjual.
 4. Produsen ke agen ke pengecer ke konsumen, dalam melaksanakan saluran distribusi produsen memilih agen (agen penjualan atau pabrik) sebagai penyalurannya. Produsen menjalankan kegiatan perdagangannya besar dalam saluran distribusi yang ada dan sasaran penjualannya terutama diajukan kepada pengecer.

 5.  Produsen ke agen ke pedagangan besar ke pengecer ke konsumen, yang berarti saluran distribusi ini berfungsi untuk saling menggunakan agen sebagai perantara untuk menyalurkan barangnya kepada pedagang besar yang kemudian menjualnya kepada toko-toko kecil agen yang terlihat dalam saluran distribusi ini terutama agen penjualan.   DAFTAR PUSTAKA

Assauri, S, 2001, Manajemen Pemasaran Suatu Pendekatan Analisis, Edisi Kedua, Balai Penelitian Fakultas  Ekonomi, UGM, Yogyakarta. 

Kotler, P, 2002, Manajemen Pemasaran, Analisis Perencanaan dan Pengendalian, Terjemahan Jaka Wasana, 2000, Edisi kelima, Cetakan Kedua,  Erlangga, Jakarta.

Maulana, A, 2003, Azas - Azas Marketing, Cetakan Ketiga, Edisi       Kedua,  Alumni, Bandung.

Nitisemita, A,S, 2000, Azas - Azzas Marketing, Edisi Ketiga, Liberty, Yogyakarta.               

Sugarda, B.Y, 2001, Kerangka Strategi Perusahaan, Manajemen dan Usahawan Indonesia,  Edisi ke 21, Jakarta.

Soemarso, 1999, Akuntansi Manajemen, Edisi Ketiga, Cetakan Ketujuh, Liberty, Yogyakarta.

Stanton, W.S, 2000, Marketing Praktis, Edisi Kedua, Cetakan Pertama,  Liberty Yogyakarta.

Swastha,  B, dan  Irawan, 2002,  Manajemen  Pemasaran  Modern, Edisi Kedua,  Cetakan Kedua, Liberty, Yogyakarta.

Winardi, 2002, Azas - Azas Marketing, Cetakan Ketiga, Edisi Kedua, Alumni, Bandung.     


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar