Kamis, 13 Oktober 2016

Kebijaksanaan Investasi Terhadap Peningkatan laba

A.  Pengertian Pembelanjaan

       Perkembangan Pembelanjaan dalam perusahaan dapat berubah-ubah setiap saat harus mengikuti sesuai dengan perkembangan perusahaan dalam dunia bisniss. Dalam mempelajari keadaan pembelanjaan pada saat ini, kita harus melihat latar belakang untuk mengetahui sejarah pemikiran dan praktek pembelanjaan. Perspektif sejarah sejaumana untuk mengerti mengapa praktek-praktek pembelanjaan yang sekarang terjadi seperti yang kita lihat. Pengkajian sejarah juga akan membantu kita untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya perkembangan di masa yang akan datang.    
      Salah satu fungsi pembelanjaan perusahaan yaitu bagaimana usaha untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan oleh perusahaan dengan cara yang menguntungkan dan juga bagaimana menggunakan dana yang ada secara efektif dan efisien di dalam perusahaan.
      Untuk memperoleh pengertian yang lebih jelas mengenai pembelanjaan perusahaan, sdebaiknya terlebih dahulu kita menelaah tentang pengertian pembelanjaan sebagaimana yang diperhadapkan  kepada berbagai persoalan yang menyangkut masalah keputusan di bidang keuangan.
      Mengenai fungsi fungsi pembelanjaan perusahaan menurut James  Van Horne (2003 : 11) mengemukakan bahwa the function of finance can be broken down into the three major decisions the firm must make the investment decision, the financing decision and the devidend decision. Each mush beconsidered in relation to objective of the firm.
       Definisi tersebut dimaksudkan bahwa fungsi pembelanjaan perusahaan mencakup tiga jenis pengambilan keputusan, yaitu pengambilan keputusan investasi (investment decision), keputusan pembelanjaan (financing decision) dan keputusan mengenai kebijaksanaan deviden (dividend decision).
      Selanjutnya Pearson Hunt, (2000 : 3) juga membahas tentang fungsi pembelanjaan perusahaan dengan menitik beratkan pada hubungannya dengan pengambilan keputusan mereka berpendapat bahwa pengambilan keputusan untuk berinvestasi pada perusahaan tentu mempunyai analisa dan pertimbangan-pertimbangan berdasarkan dari laporan keuangan perusahaan.
      Dengan demikian, dari pengertian tersebut bahwa fungsi pembelanjaan perusahaan  adalah masalah yang utama perusahaan dalam usahanya untuk mencapai sasaran/ tujuan yang diharapkan.
   
B.  Sumber-Sumber Pembelanjaan
      Dengan diterimanya suatu keputusan investasi, maka timbullah suatu masalah bagaimana caranya untuk mendapatkan pembelanjaan yang paling menguntungkan mengingat para pemilik uang yang mengharapkan beberapa hasil dari metode pemakaiannya.
      Menurut James Van Horne (2000 : 15) dapat dikatakan bahwa sumber pembelanjaan ditinjau dari sudut asalnya berdiri atas :
  1. Sumber intern (Internal Sources)
  2. Sumber eksteren (eksternal sources)
      Dalam membedakan modal pinjaman dan modal sendiri dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Modal pinjaman
Modal pinjaman yaitu modal yang di dapat dari pihak ketiga yang berupa pinjaman. Atas modal ini perusahaan harus membayar balas jasa berupa bunga.
a.    Modal pinjaman jangka panjang (short term debt), yaitu modal yang jangka waktunya kurang dari satu tahun tingkat perputarannya.
a.     Modal pinjaman jangka menengah (intermediate term debt), yaitu modal pinjaman yang jangka waktunya antara satu sampai tiga tahun.
b.     Modal pinjaman jangka panjang (long term debt) yaitu modal pinjaman yang mempunyai jangka waktunya lebih dari tiga tahun. 
  1. Modal sendiri
Modal sendiri yaitu modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan pengambil bagian dalam perusahaan dan merupakan modal yang akan tetap ditanamkan dalam perusahaan, dapat digolongkan modal ini dipergunakan selama perusahaan yang bersangkutan berjalan.
Modal sendiri ini dapat terdiri dari :
a.     Modal yang berasal dari pemilik perusahaan ditambah dengan modal yang berasal dari sekutu komanditer.
b.     Saldo keuntungan yang ditanam kembali dalam perusahaan. Saldo ini adalah bagian keuntungan yang tidak diambil  oleh pemilik perusahaan atau dibagi kepada persero komanditer.
c.     Surplus modal dan akumulasi penyusutan atau yang disebut sebagai cadangan modal. Modal terddiri atas selisih nilai buku dan nilai pasar dari harta yang dimiliki perusahaan.
      Sehubungan dengan uraian, maka perbedaan keduanya menurut Bambang Riyanto, (2004 : 163) memberikan gambaran tentang modal asing, sebagai berikut :
a.      Modal yang terutama memperlihatkan kepada kepentingan sendiri, yaitu kepentingan kreditur.
b.      Modal pinjaman yang tidak mempunyai pengaruh terhadap penyelenggaraan perusahaan.
c.      Modal dengan beban  bunga yang tetap tanpa memandang adanya keuntungan atau kerugian.
d.      Modal yang hanya sementara turut bekerja sama di dalam perusahaan.
e.      Modal yang dijamin, modal yang mempunyai hak didahulukan (hak preferent) sebelum modal sendiri.      
      Sedangkan Bambang Riyanto, (2004 : 173) memberikan gambaran tentang modal sendiri, sebagai berikut :
a.       Modal terutama tertarik dan berkepentingan terhadap kontinuitas, kelancaran dan keselamatan perusahaan (berkesinambungan).
b.       Modal yang dengan kekuasaannya dapat mempengaruhi politik perusahaan.
c.       Modal yang mempunyai hak atas laba sesudah pembayaran bunga kepada modal asing.
d.       Modal yang digunakan di dalam perusahaan untuk waktu yang tidak tertentu.
e.       Modal yang menjadi jaminan, dan haknya adalah sesudah modal asing di dalam likuiditas. 
      Jadi dengan demikian, untuk mendapatkan dana dari kreditur diperlukan hubungan yang baik dengan pihak yang bersangkutan. Dalam hal ini, sangat perlu diperhatikan usaha untuk menjaga hubungan yang telah selesai agar supaya jangan menjadi rusak bahkan harus ditingkatkan. Di samping itu diperlukan usaha-usaha perluasan, perbaikan pengaturan perusahaan dan peningkatan relasi/ langganan yang kesemuanya tujuannya untuk lebih meningkatkan kepercayaan pihak luar terhadap perusahaan.

C.  Pengertian Investasi
   
      Keputusan untuk menanamkan dana dalam suatu investasi bagi suatu  perusahaan atau investor dalam memainkan perannya haruslah dipertimbangkan dengan matang. Kegagalan dalam menentukan jenis investasi akan menimbulkan kerugian yang besar bagi perusahaan atau investor.
      Lebih jelasnya mengenai pengertian investasi akan diberikan gambaran oleh para ahli atau sarjana menyangkut teori tentang investasi atau berinvestasi pada perusahaan..
      James Van Horne (2002 : 76) mengemukakan bahwa capital investment is current cash outlay in the anticipation benefits to be in the future.
      Sementara itu lebih jauh Abbas Kartadinata (2003 : 42) menyatakan bahwa investasi adalah konversi uang pada saat sekarang dengan perhitungan untuk memperoleh arus dana atau penghematan atus dana di masa yang akan dating.
      Kedua definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penanaman dana dalam suatu investasi bertujuan untuk memperoleh manfaat yang menguntungkan di masa yang akan datang.
      Dengan demikian, suatu perusahaan penanamkan investasi dapat dibedakan atas investasi dalam aktiva lancar dan investasi dalam aktiva tetap. Pada aktiva lancar,  dan investasi yang ditanamkan pada persediaan, piutang dan aktiva lancar lainnya.
      Pengambilan keputusan yang diharapkan dapat diterima dalam waktu singkat yaitu kurung atau sama dengan satu tahun (satu periode), sedangkan dalam aktiva tetap, pengembaliannhya diharapkan dapat diterima dalam jangka waktu lebih dari satu tahun atau sesuai dengan umur investasi.
      Investasi dalam aktiva tetap meliputi tanah, bangunan, mesin-mesin/ peralatan, inventaris dan gedung. Oleh beberapa ilmuawan diberikan pengertian mengenai investasi tetap itu sendiri, oleh Bambang Riyanto (2004 : 10) menyatakan bahwa aktiva tetap ialah aktiva yang tahan lama yang tidak atau yang secara berangsur-angsur habis turut dalam proses produksi.
       Berbicara terhadap aktiva tetap artinya aktiva yang cukup lama dipergunakan dalam hal berangsur-angsur dapat diartikan sebagai harta dipergunakan dalam jangka waktu cukup lama atau mempunyai jangka waktu satu tahun sampai dengan lima tahun.
      Jadi aktiva adalah aktiva yang sifatnya relatif tetap atau tahan lama (yang tidak atau secara berangsur-angsur habis turut serta dalam proses produksi) dan mengalami proses produksi jangka waktu lama.
      Bambang Riyanto (2004 : 10) menyatakan bahwa aktiva tetap ialah aktiva yang tahan lama yang tidak atau yang secara berangsur-angsur habis turut serta dalam proses produksi.
      Jadi aktiva adalah aktiva yang sifatnya relatif tetap, tahan lama (yang tidak atau secara berangsur-angsur habis turut serta dalam proses produksi) dan mengalami prose perputaran dalam jangka waktu yang lama. Untuk memberikan pengertian yang lebih detail mengenai investasi dalam aktiva tetap, menurut M. Manullang (2003 : 110) menyatakan bahwa investasi dalam bentuk aktiva tetap adalah penanaman modal dalam aktiva dengan harapan perusahaan dapat menghasilkan keuntungan melalui operasinya.
      Berdasarkan dari beberapa definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa para investor yang menanamkan investasinya dalam aktiva tetap merupakan pengorbanan sejumlah kas pada waktu sekarang untuk memperoleh penghasilan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, dapatlah pula dikatakan bahwa dengan pertimbangan di atas, perlu diadakan suatu penilaian atau rangking atas usul investasi, agar dapat diambil suatu keputusan apakah investasi yang akan dikelola itu menguntungkan atau tidak menguntungkan.
      Agar dapat merealisasikan makusud tersebut, maka dapat digunakan alat evaluasi, yaitu Capital Budgeting Analysis. Untuk menggunakan alat analisis ini berbagai informasi diperlukan antara lain :
  1. Besarnya pendapatan yang diharapkan akan diperoleh atau diterima pada setiap periode atau tahun.
  2. Umur ekonomis (economic life ) proyek.
  3. Besarnya capital budgeting.
      Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa perusahaan mengadakan investasi dalam bentuk aktiva tetap adalah dengan harapan bahwa perusahaan tersebut, seperti halnya pada investasi dalam aktiva lancar. Letak perbedaan antara investasi aktiva tetap dan investasi lancar, hanya terletak pada jangka waktu dan cara pengembalian dana yang diinvestasikan dalam kedua golongan aktiva tersebut.
      Untuk mengembalikan dana yang diinvestasikan pada waktu dan jumlah sebagaimana yang diharapkan oleh perusahaan, maka tentunya dibutuhkan suatu perencanaan perhitungan tentang dana yang harus di keluarkan guna keperluan investasi tersebut, maka dalam hal ini diperlukan Capital Budgeting.                       
      Bambang Riyanto (2004 : 112) memberikan gambaran umum tentang capital budgeting menyatakan bahwa keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pengeluaran dan dimana jangka waktu pengembalian dana tersebut melebihi waktu satu tahun.
      Selanjutnya Matz dan Uzry (2003 : 37) menyatakan bahwa anggaran pengeluaran aktiva modal (Capital Expenditures Budget) merupakan komitmen jangka panjang dari sumber-sumber dana untuk merealisir keuntungan-keuntungan di masa akan datang.
       Berdasarkan beberapa definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa capital budgeting merupakan alat analisis yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dan sebagai dasar pemilihan atau seleksi dalam menentukan apakah investasi yang dilaksanakan itu menguntungkan atau tidak.
      Dengan dasar inilah untuk melihat kegunaan dan fungsi dari capital bugteing mempunyai peranan penting dalam memainkan peranannya capital budgeting, yaitu :
1.      Pengeluaran dana untuk keperluan investasi biasanya melibatkan jumlah dana yang sangat besar. Dengan jumlah dana yang sangat besar itu mungkin tidak dapat diperoleh dalam jangka waktu yang pendek atau mungkin tidak dapat diperoleh secara sekaligus, oleh karena itu harus disusun terlebih dahulu rencana yang teliti dan dipertimbangkan dengan matang.
2.      Dana yang dikeluarkan akan terikat untuk jangka waktu yang panjang. Ini berarti bahwa perusahaan harus selalu menunggu selama waktu yang panjang atau lama, sampai ke seluruhan dana yang tertanam dapat diperoleh kembali oleh perusahaan dan ini akan terpengaruh bagian penyediaan dan untuk keperluan-keperluan lain.
3.      Kesalahan dalam pengambilan keputusan mengenai pengeluaran dana tersebut akan mempunyai akibat yang panjang dan berat, oleh karena itu apabila terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan di bidang ini, maka tidak dapat diperbaiki tanpa suatu pengorbanan atau kerugian.
4.      Investasi dalam aktiva tetap menyangkut harapan untuk memperoleh pendapatan penjualan di masa yang akan datang. Oleh karena mengakibatkan kesalahan dalam mengadakan ramalan akan dapat mengakibatkan adanya over atau under investmen dalam aktiva tetap. Apabila investasi dalam aktiva tetap melebihi dari pada diperlukan maka akan memberikan beban yang besar bagi perusahaan. Sebaliknya, apabila jumlah investasi dalam aktiva tetap terlalu kecil, maka akan dapat mengakibatkan perusahaan beroperasi yang tinggi, sehingga akan mengurangi daya saingnya atau kemungkinan besar hilangnya sebagian pasar (konsumen akan lari untuk mencari produk yang harganya agak murah).
      Pertimbangan-pertimbangan dalam pengambilan keputusan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa capital budgeting merupakan dasar dalam pemilihan yang dapat memberikan informasi kepada pihak yang berwenang, dalam hal ini pihak pengambil keputusan untuk dilaksanakan atau ditolaknya suatu rencana investasi atas suatu proyek dapat menanam modal pada perusahaan.

D.   Kriteria Penilaian Investasi
Abdul Choliq (2004 : 33) dalam penilaian criteria investasi yang biasa digunakan dalam evaluasi proyek penanaman investasi jangka panjang, antara lain :
1.    Pengertian Net Present Value
Net Present Value Method merupakan salah satu metode penilaian investasi dengan memperhatikan time value of money. Pengertian time value of money dapat diamati melalui uraian dari Charles T Horngren (1999 : 379), menyatakan bahwa A Dollar in the hand to day is worth more than a dollar to be received (or spent) five years today.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sejumlah uang yang kita miliki sekarang nilainya lebih rendah dari jumlah uang yang sama, yang akan dating kita terima di masa yang akan dating.
Untuk dapat menyamakan nilai sekarang dari sejumlah uang yang akan diterima di masa yang akan dating maka diperlukan suatu rate of return tertentu. Hal ini dijelaskan oleh Charles T Horngren (1999 : 382) menyatakan bahwa sehubungan dengan penilaian investasi dengan menggunakan Metode Net Value, maka proceeds atau  cash flow diskontokan atas dasar biaya modal atau rate of return yang diinginkan. Sebelum menguraikan lebih lanjt tenyang Methode Present Value, maka perlu juga dikemukakan tentang pengertian biaya modal pada perusahaan.    
Biaya modal atau cost of capital adalah biaya yang secara riil harus ditanggung oleh perusahaan karena adanya penggunaan modal. Karena sumber modal perusahaan yang permanent, maka dapat dibagi aatas modal dan modal pinjaman, maka cost of capitalnya diperhitungkan dari masing-masing sumber dana untuk kemudian ditentukan biaya modal rata-rata (Average Cost of Captal). Jika kita menghubungkan  antara cost of capital dengan metode-metode penilaian investasi, yaitu Net Present Value, maka cost of capital berfungsi sebagai discount rate yang digunakan untuk menghitung nilai sekarang
Apabila nilai sekarang dari proceeds atas dasar discount rate tersebut (yaitu sebesar cost of capital) lebih besar dari pada nilai sekarang dari pengeluaran investasinya sehingga nilai sekarang netto atas net present valuenya positif, maka usul investasi tersebut diterima.  
Menurut Charles T Horngren (1999 : 382) dengan formula, sebagai berikut :
                            n            At 
          NPV   =      Σ                          - Io
                           t   =  0   (1  +  k)t

di mana :
                  NPV    =  Net Present Value
                  k          =  Discount rate
                  At         =  Net Cash Flow pada periode t
                  n          =  Periode yang terakhir
                  t           =  Periode yang diperhitungkan.
Dalam periode ini yang pertama-tama harus dihitung adalah nilai sekarang dari pendapatan yang diharapkan atas dasar discount rate tertentu dan kemudian jumlah present value dari pengeluaran modal (capital outlays) atau nilai initial investment yang juga dinamakan nilai tunai bersih.
Bilaman jumlah dari keseluruhan pendapatan yang diharapkan lebih besar dari pada present value investasinya, maka hasil investasi tersebut dapat diterima. Sebaliknya bilamana jumlah present value dari seluruh pendapatan lebih kecil dari present value dari investasinya, ini berarti bahwa net present valuenya negatif, maka usul investasinya tersebut ditolak.     
2.    Pengertian Internal Rate of Return
Metode lain yang dapat dipakai dalam menilai usul dari suatu investasi adalah “Internal Rate of Return” metode ini menghitung rate of return yang akan menyamakan nilai sekarang dari suatu investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan dating. Jika rate of return adalah lebih besar dari pada cost of capital yang diperhitungkan, maka investasi dikatakan layak untuk menguntungkan.
Selanujtnya, Abbas Kartadinata (2003 : 112) menyatakan bahwa internal rate of return sebagai berikut, tingkay diskonto yang akan menyamakan nilai tunai arus dana di masa yang akan datang dari suatu proyek dengan jumlah investasi semula.
Sedangkan Charles T Horngren (1999 : 379) menyatakan bahwa metode internal rate of return ini didasarkan atas usaha untuk mendapatkan suatu rate of return yang dapat menjadikan present value dari proceeds sama besarnya dengan net present value dari outlays.
Dengan kata lain bahwa, bilamana kita menggunakan metode internal rate of return, maka fungsi cost of capital sama dengan cut – off rate dalam hal kita  mengadakan evaluasi terhadap usul-usul investasi. Untuk mencari internal rate of return dapat dilakukan melalui trial and error system coba-coba.
Selanjutnya, untuk mencari atau mendapatkan discount rate, diraci dengan jalan rate secara random untuk menghitung net present value. Bilamana net present value yang diperoleh adalah positif, maka langkah selanjutnya adalah memilih kembali rate yang lebih tinggi sampai mendapatkan net present value yang negative.    
3.    Profitability Ratio (PR)
Menurut Abdul Haliq (2004 : 41) profitability ratio adalah untuk menghitung perbandingan present value dari net benefit (PV benefit di luar investasi) dengan present value dari investasi (PV investasi) atau secara jelas formulasinya dapat dilihat sebagai berikut :
                                  PV Net benefit
Profitability ratio   =
                                        PV Investasi

     Keterangan :
-       PV net benefit =  Present Value dari Net Benefit
-       PV investasi   =  Present value dari investasi

E. Pengertian Cash Flow
      Pada dasarnya setiap penanaman investasi mengandung dua macam aliran kas. Bambang Riyanto (2004 : 114) mengemukakan bahwa aliran kas terdiri dari :
1.     Aliran kas keluar netto (net out flow cash) yaitu yang diperlukan untuk investasi baru, dan
2.     Aliran kas masuk netto tahunan (net annual in flow of cash) yaitu sebagai hasil dari investasi baru tersebut, yang sering pula disebut “net cash proceeds” atau cukup dengan istilah proceeds
      Dari definisi tersebut menunjukkan bahwa yang dianggap sebagai aliran keluar kas adalah sejumlah dana yang dikeluarkan untuk keperluan investasi, sedangkan aliran kas masuk netto tahunan adalah hasil dari investasi yang ditanamkan tersebut.
      Perbedaan definisi antara cash flow atau proceeds dengan laba yang dilaporkan dari laporan keuangan yang telah dibuat perusahaan.  Laporan keuangan akan menunjukkan data tentang laba yang belum tentu menunjukkan kas perusahaan, karena ada pos yang dianggap pengeluaran menurut laporan rugi laba, sementara itu konsep cash flow mwnganggap bukan pengeluaran. Pos yang dianggap pengeluaran menurut laporan rugi laba adalah depresiasi. Oleh karena itu pada konsep cash flow dapatlah dihitung dengan menggunakan rumus menurut Suad Husnan dan Suwarsono (2004 : 241), sebagai berikut :
1.     Kas masuk kotor = laba setelah pajak  + penyusutan, kalau kita menganggap bahwa proyek tersebut dibelanjai dengan modal mandiri sluruhnya.
2.     Kas masuk bersih Charles T Horngren (1999 : 382)= laba setelah pajak + penyusutan + bunga ( I – tax), kalau proyek tersebut dibelanjai sebagian dengan modal pinjaman.    


F  Pengertian Payback Periods
      Menurut Abdul Choliq dkk (2004 : 59) payback periods dapat diartikan sebagai jangka waktu kembalinya investasi yang telah dikeluarkan, melalui keuntungan yang diperoleh dari suatu proyek yang telah direncanakan.
      Semakin cepat waktu pengembalian, semakin baik untuk diusahakan resiko yang mungkin terjadi. Akan tetapi payback periods ini telah mengabaikan nilai uang pada saat sekarang ini (present value).
      Kelemahan-kelemahan lain dari payback periods ini, sebagai     berikut :
1.      Payback periods digunakan untuk mengukur kecapatan kemblinya dana, dan tidak mengukur keuntungan proyek pembangunan yang telah direncanakan.
2.      Payback periods mengabaikan benefit yang diperoleh sesudah dana investasi itu kembali.
      Perangkat untuk mengukur payback periods diantaranya, dapat dibagi menjadi :
  1. Dengan net benefit kumulatif
  2. Dengan menggunakan net benefit rata-rata tiap tahun.
      Untuk selanjutnya, dalam menghitung jangka waktu pengembalian investasi, maka digunakan peralatan analisis net benefit dengan formula sebagai berikut :
                                                     Investasi
Payback periods  =
                                        Net benefit rata-rata tiap tahun
     
      Sedangkan menurut Bambang Riyanto (2004 : 124) memberikan definisi payback period menyatakan bahwa payback period adalah suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan proceeds atau aliran kas netto (net cash flows).
      Selanjutnua menurut Djarwanto Ps (2003 : 51) menyatakan bahwa payback period dapat didefinisikan sebagai berikut, payback period adalah lamanya waktu yang diperlukan untuk menutup kembali original cash outlay. Pada umumnya dikatakan lebih pendek jangka waktunya adalah lebih baik.
      Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian tersebut maka dapat dikatakan bahwa payback periode period dari suatu investasi menggambarkan panjang waktu yang diperlukan agar dana yang tertanam pada suatu investasi dapat diperoleh kembali seluruhnya. Apabila proceeds setiap tahunnya sama jumlahnya, maka payback dari suatu investasi dapat dihitung dengan cara membagi jumlah investasi dengan proceeds tahunan.

     Selanjutnya, apabila kita harus memilih salah satu dari beberapa usul investasi atas dasar metode payback periode ini, maka kita akan memilih usul investasi yang mempunyai payback period yang lebih pendek. Apabila proceeds sesuatu investasi tidak sama besarnya dari tahun ke tahun, dengan sendirinya cara perhitungan di atas tidak memungkinkan. Oleh karena itu perlu menghitung proceeds tahun per tahun, sehingga keseluruhan  investasi dapat diperoleh kembali

DAFTAR PUSTAKA 
Choliq, Abdul,  Rivai Wirasasita, 2004, Evaluasi Proyek, Suatu Pengantar, Cetakan Ke Empat, Cetakan kedua, Bandung.

Djarwanto, 2003, Pokok-Pokok Analisa Laporan Keuangan, Edisi Pertama, Penerbit BPFE, Jakarta.

Horngren, Charles T, 1999, Cost Accounting A Managerial Emphasis, Fourth Edition, New Delhi Prentice-Hall of India.

Husnan, Suad, 2004, Analisa Ratio Keuangan, Edisi Kelima, Penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jakarta.

Kartinata, Abbas, 2003, Analisa Belanja, Edisi Ketujuh, PT Bina Aksara, Jakarta.

Manullang, M, 2003, Pokok-Pokok Pembelanjaan, Manajemen Keuangan, Edisi Ketiga, Cetakan Ketiga, Liberty, Jakarta

Matz, Adolp and Usry, 2003, Cost Accounting, Planning, and Control, Terjemahan Taufik Salim dkk, Edisi Ke Tujuh, Jilid Dua, Erlangga, Jakarta.

Riyanto, Bambang, 2004, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Ketujuh, Cetakan Kedelapan, Fakultas Ekonomi Gajah Mada, Yogyakarta.

Van Horne, James C. 2000, Manajemen dan Kebijakan Keuangan Perusahaan, Edisi Ketujuh, Penerbit Intermedia, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar