Jumat, 14 Oktober 2016

Efisiensi dan Efektivitas Biaya Pemasaran Terhadap Peningkatan Laba

Zaman terus berubah sesuai dengan perkembangan budaya manusia telah menimbulkan terobosan baru. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah menyebabkan bergesernya nilai-nilai yang dianut masyarakat, semakin hilangnya batas-batas wilayah suatu negara, timbulnya masalah lingkungan dan tumbuhnya kesadaran lingkungan juga semakin banyak dan beraneka ragamnya jumlah barang dan jasa yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat.
Kebutuhan manusia juga terus berkembang seiring dengan berkembangnya budaya. Namun tuntutan untuk pemenuhan kebutuhan yang terus meningkat tersebut yang juga semakin banyaknya serta beraneka ragamnya produk yang ada serta ditawarkan tidak lagi berbanding lurus dengan pendapatan konsumen.
Pendapatan riil masyarakat pada dasarnya dalam beberapa tahun terakhir ini tidak meningkat, kalaupun sebagian ada yang mengalami peningkatan, percepatannya tidak seimbang atau kalah dengan tuntutan – tuntutan kebutuhan. Keadaan tersebut bukan saja menimbulkan kesulitan bagi masyarakat konsumen namun juga berpengaruh pada produsen yang mana timbulnya suatu persaingan yang semakin ketat atau meningkat.

Untuk dapat bertahan dalam dunia bisnis yang kondisi persaingannya terus meningkat maka suatu perusahaan harus dituntut dapat menguasai pasar dengan menggunakan produk yang telah dihasilkannya. Pemasaran tidak lain daripada suatu proses perpindahan barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Atau dapat dikatakan pemasaran adalah semua kegiatan usaha yang bertalian dengan arus penyerahan barang dan jasa dari produsen ke konsumen.Dalam pemasaran ada empat kegiatan utama yang lazim disebut sebagai 4 P yaitu : Produk, Harga, dan Tempat, serta Promosi.
Penggolongan biaya bergantung pada untuk apa biaya tersebut digolongkan, untuk tujuan yang berbeda diperlukan cara penggolongan biaya yang berbeda pula, atau tidak adil satu cara penggolongan biaya yang dapat dipakai untuk semua tujuan menyajikan informasi biaya. Salah satu penggolongan biaya yang sering dilakukan adalah penggolongan biaya sesuai dengan fungsi pokok dari kegiatan/aktivitas perusahaan (Cost classified according to the function of business activity). Fungsi pokok dari kegiatan perusahaan-perusahaan dapat digolongkan kedalam : Fungsi produksi, Fungsi pemasaran, dan Fungsi administrasi dan umum, serta Fungsi keuangan (financial).
Atas dasar fungsi tersebut di atas, biaya dapat dikelompokkan menjadi : biaya produksi, dan biaya pemasaran, serta biaya  administrasi dan umum. Penelitian ini dibatasi pada biaya pemasaran (efesiensi dan efektivitasnya) yaitu biaya yang dikeluakan dalam rangka penjualan produk selesai sampai dengan pengumpulan piutang menjadi kas. Biaya ini meliputi biaya untuk melaksanakan: fungsi penjualan; fungsi penggudangan produk selesai;  fungsi pengepakan dan pengiriman; fungsi advertensi; fungsi pemberian kredit dan pengumpulan piutang;  serta fungsi pembuatan faktur dan administrasi penjualan. Dalam melakukan analisis biaya pemasaran cara yang digunakan dapat digolongkan menjadi tiga  bagian :
1.        Analisis biaya pemasaran menurut jenis biaya
2.        Analisis biaya pemasaran menurut fungsi pemasaran

3.        Analisis biaya pemasaran menurut cara penerapan usaha pemasaran.
 A.   Pengertian Pemasaran dan Manajemen Pemasaran
1.    Pengertian Pemasaran
Pemasaran merupakan masalah yang sangat penting bagi suatu perusahaan karena keberhasilan perusahaan tersebut dalam mengoptimalkan keuntungan yang diperoleh dan menjalankan aktivitas usahanya, tercermin pada kemampuan memasarkan produk yang dihasilkan.
Sering di jumpai banyak pembicaraan mengenai penjualan, pembelian, transaksi dan perdagangan. Istilah ini sudah jelas tidak sama dengan pengertian pemasaran. Masih banyak orang yang belum dapat menafsirkan  pemasaran seperti yang sebenarnya. Timbulnya penafsiran yang tidak tepat ini, utamanya disebabkan oleh sebagian orang yang belum mengerti secara mendalam apa yang dimaksud dengan pemasaran.
Adanya kesalahan pengertian tersebut menimbulkan pandangan yang keliru bukan hanya tentang kegiatan yang terdapat dalam bidang pemasaran, tetapi juga tugas seorang tenaga yang bergerak dalam bidang pemasaran. Bilamana masyarakat membicarakan tentang pemasaran, pada umumnya yang dimaksud adalah permintaan atau pembelian.

Tenaga penjualan atau manajer penjualan dalam membicarakan tentang pemasaran, sebenarnya mereka berbicara penjualan. Menurut manajer toko serba ada misalnya, maka pemasaran dapat diartikan sebagai kegiatan pengeceran / penjajakan.
Istilah pemasaran yang dibicarakan sebenarnya penafsiran terbatas pada satu bagian dari kegiatan pemasaran yang menyeluruh. Pada dasarnya pembatasan diatas berada dalam lingkup kegiatan atau aktivitas yang berkaitan dengan usaha untuk menyerahkan barang atau jasa yang dihasilkannya pada suatu tingkat harga yang dapat memberikan keuntungan padanya.
Dari uraian diatas, terlihat bahwa pemasaran dalam arti sempit oleh para pengusaha sering diartikan sebagai pendistribusian, termasuk kegiatan yang dibutuhkan untuk menempatkan produk yang berwujud pada tangan konsumen rumah tangga dan pemakai industri. Pengertian ini tidak mencakup kegiatan mengubah bentuk barang. Akan tetapi, pengertian pemasaran sebenarnya lebih luas dari kegiatan tersebut.
Menurut Sofjan Assauri, Manajemen Pemasaran (2004 : 5) Pemasaran adalah sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
Pertukaran merupakan konsep inti dari pemasaran yang mencakup perolehan produk yang diinginkan dari seseorang dengan menawarkan sesuatu sebagai gantinya.
Kemudian menurut Mahmud Machfoedz, Pengantar Pemasaran Modern (2005 : 7) Pemasaran adalah bekerja dengan pasar untuk menciptakan pertukaran dengan tujuan memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. 
Sedangkan menurut M. Mursid dalam Manajemen Pemasaran (2006 : 26) Pemasaran adalah semua kegiatan usaha yang bertalian  dengan arus penyerahan barang dan jasa dari produsen ke konsumen.
Dari definisi tersebut diatas menunjukkan bahwa pemasaran adalah semua kegiatan proses pemindahan barang atau jasa dari pihak produsen ke pihak konsumen dengan menggunakan suatu keseluruhan distribusi dalam rangka memperlancar arus pertukaran barang atau jasa tersebut.
Pandangan lain mengenai pemasaran dikemukakan menurut Alex S. Nitisemito, Marketing (1997 : 13) bahwa “Pemasaran adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen secara efisien dengan maksud untuk menciptakan permintaan yang efektif”.
Melihat definisi yang dikemukakan oleh Alex S. Nitisemito, maka marketing bukan hanya semata - mata untuk menjual barang dan jasa tetapi kegiatan tersebut harus dilaksanakan secara efisien, sehingga dapat memperlancar pemindahan barang dari produsen ke konsumen serta memenuhi permintaan masyarakat, jadi dengan adanya kegiatan pemasaran maka masyarakat dapat memenuhi kebutuhan secara efisien dan efektif.
2.    Manajemen Pemasaran
Setiap perusahaan mengarahkan kegiatan usahanya untuk menghasilkan produk yang dapat memberikan kepuasan kepada konsumen sehingga dalam jangka waktu dan dalam jumlah produk tertentu dapat diperoleh keuntungan seperti yang diharapkan.
Dalam hal tersebut, usaha pemasaran dalam menunjang keberhasilan perusahaan tidak lepas dari manajemen pemasarannya.
Menurut Sofjan Assauri, Manajemen Pemasaran (2004 : 12) Manajemen Pemasaran merupakan kegiatan penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian program - program yang dibuat untuk membentuk, membangun dan memelihara, keuntungan dari pertukaran melalui sasaran pasar guna mencapai tujuan perusahaan dalam jangka panjang.
Selanjutnya menurut Mahmud Machfoedz, Pengantar Pemasaran Modern (2005 : 11) Manajemen Pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian program yang dipolakan untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran manfaat dengan pembeli dengan maksud untuk mencapai tujuan perusahaan.
Definisi lain dikemukakan oleh Buchari Alma dalam Philip Kotler, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa (2004 : 86) Manajemen Pemasaran adalah kegiatan menganalisa, mengawasi segala kegiatan, guna mencapai tingkat pemasaran sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
Selanjutnya Buchari Alma dalam Ben M. Enis, Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa (2004 : 86) Manajemen Pemasaran proses untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh individu atau perusahaan.
Apabila seseorang atau perusahaan, ingin memperbaiki pemasarannya, maka harus melakukan kegiatan pemasaran sebaik mungkin. Untuk keberhasilan kegiatan manajemen pemasaran pada perusahaan, maka diperlukan masukan misalnya berasal dari informasi kegiatan yang berjalan dilapangan.

B.   Pengertian dan Pengukuran Efisiensi
Kata efisien menjadi efisiensi adalah pencapaian suatu tujuan dengan perhitungan dari segala pengeluaran biaya yang seminimal mungkin, dan waktu yang turut berpengaruh dalam hal sesuatu yang ingin dicapai. Pencapaian tujuan dengan hal memperhitungkan segala pengeluaran berarti ada efisiensi biaya yang minimal.
Dalam usaha untuk memaksimalkan suatu kegiatan tentunya sangat berhitung dari segi waktu yang telah mempunyai jadwal dari segala pekerjaan yang akan dikerjakan, sehingga bisa tepat waktu yang ditentukan.
Menurut Ibnu Syamsi dalam The Liang Gie, Efisiensi, Sistem dan Prosedur Kerja (2004 : 4) Efisiensi adalah perbandingan terbaik antara suatu hasil dengan usahanya. Antara suatu hasil dengan usaha perbandingannya yaitu :
1.    Hasil adalah suatu kegiatan dapat disebut efisien, jika dengan usaha tertentu dapat memberikan hasil yang maksimal, dari segi mutu atau jumlah satuan hasil itu.
2.    Usaha adalah suatu kegiatan dapat dikatakan efisien, jika dengan usaha tertentu dapat memberikan hasil yang minimal, mencakup lima unsur : pikiran, tenaga jasmani, waktu, ruang, dan benda.
Untuk menentukan apakah suatu kegiatan efisien atau tidak maka prinsip – prinsip atau persyaratan efisiensi harus terpenuhi, sebagai berikut :
1.    Efisiensi harus dapat diukur
Standar untuk menentukan batas antara efisien dan tidak efisien adalah ukuran normal. Ukuran normal ini merupakan standar awal, selanjutnya menentukan apakah suatu kegiatan itu efisien atau tidak. Batas ukuran normal untuk pengorbanan adalah ukuran maksimum, sedangkan batas ukuran normal untuk hasil adalah minimum.

2.    Efisiensi mengacu pada petimbangan rasional
Rasional artinya segala pertimbangan harus berdasarkan akal sehat, masuk akal, logis, bukan emosional. Dengan pertimbangan rasional, objektivitas pengukuran dan penilain akan lebih terjamin.
3.    Efisiensi tidak boleh mengorbankan kualitas (mutu)
kuantitas boleh saja ditingkatkan tetapi jangan mengorbankan kualitasnya. Mutu harus tetap di jaga dengan baik.
4.    Efisiensi merupakan teknis pelaksanaan
Pelaksanaan operasional dapat diusahakan seefisien mungkin, sehingga tidak terjadi pemborosan.
5.    Pelaksanaan efisien harus disesuaikan dengan kemampuan organisasi yang bersangkutan
Pengukuran efisien hendaknya didasarkan pada tingkat kemampuan yang dimilikinya, baik mengenai sumber daya manusianya, dananya maupun fasilitasnya.
6.    Tingkatan efisien
Secara sederhana dapat ditentukan penggolongan efisien, misalnya :
a.    Tidak efisien,
b.    Kurang efisien,
c.    Efisien,
d.    Lebih efisien, dan
e.    Paling efisien (optimal)
Syarat – syarat tersebut diatas harus dipenuhi untuk menentukan tingkat efisiensinya. Efisiensi dapat dilihat dari segi hasil dan juga dapat dilihat dari segi pengorbanan. Semua itu dimulai dengan batas ukuran normal.

C.   Pengertian dan Pengukuran Efektivitas
Pada dasarnya setiap aktivitas atau kegiatan selalu mempunyai tujuan yang ingin dicapai tujuan individu adalah untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhannya berupa materi maupun non materi dari hasil kerjanya. Sedangkan tujuan dari hasil sebuah organisasi maupun perusahaan adalah pencapaian nilai kerja yang efektif dan efisien, sesuai dengan rencana yang sebelumnya dibuat oleh perusahaan.
Menurut The Liang Gie, Efektivitas Kerja Bagi Pembangunan Negara (1997 : 24) Efektif adalah suatu kegiatan terbaik antara usaha dengan hasilnya, antara suatu pekerjaan dengan hasil yang dicapai untuk mencapai tujuan.
Efektif juga tidak terlepas dari beberapa pengaruh dari pekerjaan itu sendiri. Kemampuan seorang pimpinan karyawan untuk bekerja secara efektif bukanlah bakat yang dibawa sejak lahir, melainkan dapat ditumbuh kembangkan atau ditingkatkan serta dibiasakan. Kemampuan tersebut lebih banyak merupakan hasil latihan, pemahaman dan penghayatan, kemudian sampai menjadi kebiasaan. Bahkan dapat dikatakan bahwa dalam diri seseorang sebenarnya sudah ada kecenderungan untuk berbuat secara efektif.
Pada umumnya setiap pekerja dalam melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan tertentu ingin memperoleh hasil atau tujuan tertentu. Sebaliknya, dalam usaha mencapai tujuan tertentu, pekerja tersebut menghadapi pelaksanaan kegiatan terutama dalam usaha yang minimal. Jadi kecenderungan dalam pekerjaan hendaknya dikembangkan oleh setiap orang sehingga menjadi kebiasaan berpikir dan bertindak dalam dirinya.
Selanjutnya oleh jones dalam Abdul Halim (2004 : 164) mendefenisikan efektivitas adalah suatu ukuran keberhasilan atau kegagalan dari organisasi dalam mencapai tujuan. Ukuran efektivitas harus dinilai atas tujuan yang bisa dilaksanakan dan bukan konsep tujuan yang maksimum.
Maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah pencapaian tujuan dengan menggunakan peralatan yang tepat untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari sebuah usaha.

D.   Pengertian dan jenis – jenis Biaya Pemasaran
1.    Pengertian Biaya Pemasaran
Untuk lebih memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen, maka salah satu faktor yang penting adalah penetapan harga jual, akan tetapi sebelum ditetapkan harga jual terlebih dahulu ditetapkan besarnya biaya pemasaran dalam memasarkan barang. Biaya pemasaran adalah biaya dalam rangka penjualan produk selesai sampai dengan pengumpulan piutang menjadi kas.
Menurut Syahyunan 2006, dalam Manfaat Perencanaan dan Pengawasan Biaya Operasional dalam Meningkatkan Efesiensi, USU Digital Library, (http:usu digital library, diakses 04 juni 2008), : biaya pemasaran merupakan salah satu alternatif bagi perusahaan bagaimana untuk memperlancar barang dan jasa hasil produk, karena bermunculan produk yang sama, peranan biaya pemasaran dalam memerangi saingan dan tantangan perlu diatasi serta harus dilewati, kecermatan dan kelihaian pengelola perusahaan ditentukan oleh keunggulan menghadapi persaingan muncul dengan sendirinya.
Bilamana terjadi suatu kesalahan dalam pemilihan dan penetapan harga jual maka akan memberikan pengaruh yang dapat memperlambat atau menghambat usaha penyaluran barang dan jasa. Produk yang sudah memenuhi Standar Industri Indonesia (SII) dan sudah memenuhi selera konsumen namun harga mahal dibandingkan dengan produk perusahaan lain, maka produk tidak mempunyai daya saing, sehingga usaha penyaluran akan mengalami hambatan. Untuk menghindari terjadinya risiko tersebut maka perusahaan – perusahaan harus menganalisa biaya pemasaran secara cermat.
2.    Jenis – Jenis Biaya Pemasaran
Menurut Syahyunan 2006. dalam Manfaat Perencanaan dan Pengawasan Biaya Operasional dalam Meningkatkan Efesiensi, USU Digital Library, (http:usu digital library, diakses 04 juni 2008), : Analisis biaya pemasaran digolongkan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut :
1.    Analisis biaya pemasaran menurut jenis biaya
Dalam analisis ini, biaya pemasaran dipecah sesuai dengan jenis biaya pemasaran seperti : gaji, biaya iklan, biaya perjalanan, biaya depresiasi, biaya pemeliharaan kendaraan dan sebagainya. Dengan analisis manajemen dapat mengetahui perincian biaya pemasaran tapi tidak dapat memperoleh informasi mengenai biaya yang telah dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan pemasaran tertentu.
2.    Analisis biaya pemasaran menurut fungsi pemasaran
Fungsi pemasaran adalah suatu kegiatan pemasaran yang memerlukan pengeluaran biaya. Analisis biaya pemasaran menurut fungsi pemasaran bertujuan untuk pengendalian biaya. Langkah analisis biaya pemasaran menurut fungsi pemasaran adalah sebagai berikut :
a.    Ditentukan dengan jelas fungsi – fungsi pemasaran sehingga dapat diketahui secara tepat siapa yang bertanggung jawab untuk melaksanakan fungsi tersebut.
b.    Penggolongan tiap jenis biaya pemasaran sesuai dengan fungsinya.
c.    Sedapat mungkin ditentukan ukuran jasa yang dihasilkan oleh setiap fungsi.
d.    Langkah terakhir adalah menentukan biaya persatuan kegiatan pemasaran dengan cara membagi total biaya pemasaran yang dikeluarkan untuk fungsi tertentu dengan jumlah satuan jasa yang dihasilkan oleh fungsi yang bersangkutan.
3.    Analisis biaya pemasaran menurut cara penerapan usaha pemasaran
Analisis biaya pemasaran ini berguna untuk menyajikan kepada manajemen profitability usaha pemasaran tertentu. Analisis biaya pemasaran menurut cara penerapan usaha pemasaran dapat dibagi menurut ; jenis produk, daerah pemasaran, besar pesanan, dan saluran distribusi.
Secara konseptual dimungkinkan untuk merinci total selisih biaya administrasi dan umum, selisih biaya diluar  usaha kedalam selisih yang dibelanjakan dan selisih kapasitas. Namun rincian selisih tersebut jarang dihitung biasanya hanya dibandingkan antara biaya yang bersangkutan dengan realisasinya. Hal ini disebabkan karena biaya tersebut pada umumnya merupakan biaya kebijakan.
                                                                  Nilai Input
Presentase Efisiensi Produksi =                                                x 100%
                                                            Nilai Output Yang Dihasilkan

E.   Pengertian dan Jenis – Jenis Biaya
1.    Pengertian Biaya
Pengertian biaya saat ini sudah semakin luas seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan para pemakai istilah tersebut seperti : akuntan, ekonomi, manajer, dan lain – lain. Para pemakai istilah tersebut umumnya telah memiliki definisi tentang biaya sehingga sukar bagi kita untuk memberikan pengertian yang tepat atas biaya yang dimaksud.
Menurut Mulyadi Akuntansi Biaya (1999 : 8) Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.
Empat unsur pokok dalam definisi diatas, sebagai berikut :
1.    Biaya merupakan sumber ekonomi,
2.    Diukur dalam satuan uang,
3.    Yang telah terjadi atau secara potensial akan terjadi,
4.    Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu.
Adapun definisi lain tentang biaya menurut Syahyunan 2006. dalam Manfaat Perencanaan dan Pengawasan Biaya Operasional dalam Meningkatkan Efesiensi, USU Digital Library, (http:usu digital library, diakses 04 juni 2008), : Biaya adalah suatu nilai tukar, prasyarat, atau pengorbanan guna memperoleh manfaat. Dalam akuntansi keuangan, prasyarat atau pengorbanan tersebut pada tanggal prolehan dinyatakan dengan pengurangan kas atau aktiva lainnya pada saat ini atau di masa mendatang.
Dari pengertian diatas dapat kita ketahui bahwa telah terjadi pengorbanan ekonomis untuk mencapai suatu manfaat tertentu. Pengorbanan yang tercantum dalam neraca pada kas aktiva merupakan biaya yang belum terpakai (unexpired cost) . Pengorbanan yang langsung memperoleh hasil pada periode yang sama dengan terjadinya pengorbanan (expired cost) akan menjadi faktor penurang dari hasil untuk mendapatkan laba.
2.    Jenis – Jenis Biaya
Penggolongan biaya tergantung untuk apa biaya tersebut digolongkan, untuk tujuan yang berbeda diperlukan cara penggolongan yang berbeda pula. Salah satu penggolongan biaya yang sering dilakukan adalah pengolongan biaya sesuai dengan fungsi pokok dari kegiatan perusahaan. Fungsi pokok dari kegiatan perusahaan dapat digolongkan kedalam :
a.    Fungsi produksi yaitu yang berhubungan dengan kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang siap untuk dijual.
b.    Fungsi pemasaran yaitu fungsi yang berhubungan dengan kegiatan penjualan produk selesai yang siap di jual dengan cara yang memuaskan pembeli dan dapat memperoleh laba sesuai yang diinginkan perusahaan sampai dengan pengumpulan kas dari hasil penjualan.
c.    Fungsi administrasi dan umum adalah fungsi yang berhubungan dengan kegiatan penentuan kebijaksanaan, pengarahan, dan pengawasan kegiatan perusahaan secara keseluruhan agar dapat berhasil guna dan berdaya guna.
d.    Fungsi keuangan yaitu fungsi yang berhubungan dengan kegiatan keuangan atau penyediaan dana yang diperlukan perusahaan.
Atas dasar fungsi tersebut, maka biaya dapat dikelompokkan menjadi :
a.    Biaya produksi yaitu yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi atau kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai. Biaya produksi dapat digolongkan ke dalam :
1.    Biaya Bahan Baku yang dikelompokkan sebagai biaya utama
2.    Biaya Tenaga Kerja Langsung
3.    Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Biaya Overhead dapat digabung menjadi biaya konversi yang dalam hal ini mencerminkan biaya untuk mengubah bahan langsung menjadi bahan jadi.
b.    Biaya pemasaran yaitu biaya dalam rangka penjualan produk selesai sampai dengan pengumpulan piutang menjadi kas. Biaya ini meliputi biaya untuk melaksanakan : fungsi penjualan, fungsi penggudangan produk selesai, fungsi pengepakan dan pengiriman, fungsi advertensi, fungsi pemberian kredit dan pengumpulan piutang, fungsi pembuatan faktur dan administrasi penjualan.
c.     Biaya administrasi dan umum yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi administrasi dan umum. Biaya ini terjadi dalam penentuan kebijaksanaan, pengarahan, dan pengawasan kegiatan perusahaan secara keseluruhan.
d.    Biaya keuangan adalah semua biaya yang terjadi dalam melaksanakan fungsi keuangan, misalkan : biaya bunga.

F.    Pengertian dan Jenis – Jenis Laba
Menurut Commite on terminology, Sofyan Safri Harahap, Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan (1997 : 112) Laba sebagai jumlah yang berasal dari pengurangan harga pokok produksi, biaya lain, dan kerugian dari penghasilan atau penghasilan operasi.
Sedangkan definisi laba menurut Soemarso, Akuntansi, Suatu Pengantar (2000 : 273 ) Laba adalah selisih lebih pendapatan atas biaya – biaya yang terjadi sehubungan  dengan kegiatan usaha untuk memperoleh pendapatan tersebut selama periode tertentu. Apabila biaya lebih besar dari pendapatan, selisihnya disebut rugi. Oleh karena laba merupakan hasil pengurangan biaya terhadap pendapatan, maka kelayakan penetapan laba atau rugi adalah menentukan jumlah biaya yang terjadi dalam periode tertentu.
Adapun jenis – jenis laba sebagai berikut :
1.    Laba bersih (net income) adalah selisih lebih semua pendapatan dan keuntungan terhadap semua biaya dan kerugian. Jumlah ini merupakan kenaikan bersih terhadap modal.
2.    Laba bruto (gross profit) adalah penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan. laba bruto kadang disebut juga laba kotor.
3.    Laba ditahan (retained earnings) adalah jumlah akumulasi laba bersih dari sebuah perseroan terbatas dikurangi distribusi laba (income distribution) yang dilakukan.

G.   Pengertian dan Jenis – Jenis Laporan Keuangan
 Laporan keuangan sangat penting bagi suatu badan usaha karena dengan laporan keuangan ini dapat diketahui keikutsertaan suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya. Laporan keuangan digunakan unuk menulusuri nilai moneter dari barang dan jasa kedalam dan keluar perusahaan. Laporan keuangan memberikan sarana untuk memantau tiga kondisi utama keuangan dari sebuah organisasi atau perusahaan, yaitu :
1.    Likuiditas, kemampuan untuk mengubah aktiva menjadi kas agar dapat memenuhi kebutuhan serta kewajiban keuangan jangka pendek.
2.    Kondisi umum keuangan, keseimbangan jangka panjang antara hutang dan kekayaan, sisa aktiva sesudah dikurangi hutang.
3.    Profitabilitas, kemampuan untuk memperoleh laba secara tetap dan selama kurun waktu yang panjang.
 Menurut Martono, Manajemen Keuangan (2005 : 51) Laporan Keuangan menggambarkan kondisi dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Adapun jenis laporan keuangan yang lazim dikenal : Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Arus Kas.
Dari definisi diatas laporan keuangan sebagai hasil dari suatu proses akuntansi yang berguna bagi pihak yang berkepentingan untuk pemakaiannya, baik pihak – pihak yang ada dalam perusahaan maupun diluar perusahaan.
Laporan keuangan disusun guna memberikan informasi kepada berbagai pihak, secara garis besar jenis laporan keuangan dibagi atas dua laporan utama yaitu :
1.    Neraca
Neraca merupakan salah satu laporan keuangan utama yang menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada suatu tanggal tertentu. Neraca merupakan informasi keuangan yang menyangkut aktiva, kewajiban, dan modal perusahaan.
Neraca merupakan dasar bagi pengguna laporan keuangan untuk mengetahui tingkat pengembalian investasi perusahaan, mengevaluasi struktur modal perusahaan, dan melalui likuiditas dan fleksibilitas keuangan perusahaan.
2.    Perhitungan Laba Rugi
Perhitungan laba rugi adalah menggambarkan jumlah hasil, biaya dan laba rugi perusahaan dalam waktu tertentu. Laba rugi sebagai kelebihan atau defisit penghasilan di atas biaya selama periode tertentu.
Untuk melihat keberasilan suatu perusahaan dalam periode tertentu, dapat dilihat dari perhitungan laba rugi perusahaan. Semakin besar laba yang diperoleh perusahaan, maka semakin efisien perusahaan dalam menggunakan sumber daya yang dimilikinya.

DAFTAR PUSTAKA
Assauri, Sofjan, 2004. Manajemen Pemasaran, Dasar, Konsep dan Startegi. PT. Raja Grafindo, Jakarta.

Alma, Buchari, 2004. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Cetakan Ketujuh, Edisi Revisi, Penerbit Alfabeta, Bandung.

Harahap, S,S, 1997. Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. PT. Raja Grafindo, Persada, Jakarta.

Liang, The Gie, 1997. Efektivitas Kerja Bagi Pembangunan Negara. Yogyakarta.

Machfoedz, Mahmud, 2005. Pengantar Pemasaran Modern. Unit Penerbit dan Percetakan, Akademi Manajemen Perusahaan, YKPN, Yogyakarta.

Martono dan Harjito, Agus, D, 2005. Manajemen Keuangan. Penerbit, Ekonisia, Kampus Fakultas Ekonomi UII, Yogyakarta.

Mursid, M, 2006. Manajemen Pemasaran. Bumi Aksara, Jakarta.

Mulyadi, 1999. Akuntansi Biaya. Edisi Kelima, Penerbit Aditya Media, Yogyakarta.

Nitisemito, Alex, S, 1997. Marketing. Edisi Ketujuh, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta.

Soemarso, 2000. Akuntansi, Suatu Pengantar. Buku Kedua, Edisi Keempat, Penerbit PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Syamsi, Ibnu, 2004. Efisiensi, Sistem dan Prosedur Kerja. Edisi Revisi, Penerbit PT. Bumi Aksara, Jakarta.

Syahyunan, 4 Juni 2008. Manfaat Perencanaan Dan Pengawasan Biaya Operasional Dalam Meningkatkan Efisiensi. Usu Digital Libraray (online) di akses 4 Juni 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar