Sabtu, 15 Oktober 2016

Analisis Sumber Penggunaan Dana Pada Perusahaan Kontraktor

Perkembangan dunia bisnis sekarang ini terus menerus mengalami perubahan yang sangat cepat. Proses perubahan itu telah mengantarkan dunia uhasa ke era baru yang disebut era persaingan global yang berkembang antara negara di dunia. Dalam aktivitas perdagangan pada era persaingan global ini, peluang (opportunity) dan ancaman (theat) harus menjadi serius oleh para pelaku bisnis.
      Dasar inilah dapat dicermati bahwa banyak perusahaan mengalami  kelemahan pada aspek finansial, maka perusahaan perlu melakukan pembenahan lebih dini. Pembebanan aspek finansial itu yang dapat dilakukan melalui konsolidasi internal, peningkatan efisiensi, rasionalisasi, dan rekstrukturisasi yang merupakan langkah yang strategis agar perusahaan tetap dapat langgeng. Langkah-langkah strategis bagi perusahaan di Indonesia telah menjadi kenyataan untuk menghadapi era globalisasi perdagangan.
     Pemulihan kepercayaan dan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi kita, diperlukan strategis atau cara dalam melaksanakan pembangunan. Berhasil tidaknya strategis perdagangan tersebut banyak tergantung dari partisipasi seluruh lapisan masyarakat, dalam arti bahwa dukungan dan bantuan mereka dalam pembangunan sangat menentukan laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang.
      Dengan demikian, peluang yang diperlukan suatu pengelolaan manajemen perusahaan adalah kerjasama antara sub sistem masing-masing yang terdapat dalam perusahaan. Sub sistem yang erat hubungannya dengan masalah yang dibahas adalah aspek finansial. Kesinambungan atau kelancaran aktivitas perusahaan memerlukan pembenahan aspek likuiditas dan aktivitas operasional. Sedangkan untuk memperoleh keuntungan yang berarti harus memperhatikan aspek  profitabilitas. Hal ini di satu pihak dan profitabilitas di pihak lain sering timbul pertentangan. Dalam hal ini terjadi kadang-kadang disebabkan keinginan perusahaan manajer keuntungan yang tinggi, sehingga potensi likuiditas nya agak diabaikan.
      Mengelola secara efektif dan efisien yang melalui pengendalian analisis pada sumber dan penggunaan modal kerja, dengan laporan-laporan statistik melalui penggunaan keuangan yang direncanakan, mengawasi, mengarahkan, mengevaluasi dan mengkoordinasikan aktvitas dari berbagai fungsi, satuan operasional.
      Analisis sumber dan penggunaan dana dalam mengelola aktivitas perusahaan yang merupakan bagian dari rencana yang diintegrasikan dengan baik untuk memelihara adanya efisiensi. Penggunaan struktur organisasi memungkinkan untuk melakukan arus sumber dana dan penggunaan modal kerja dengan rencana dan tindakan yang ditetapkan lebih dahulu pengablikasian efektif dari penggunaan keuangan tersebut harus sepenuhnya ke dalam rencana-rencana perusahaan dan mberikan suatu tingkat pengendalian biaya-biaya operasional meliputi catatan yang menetapkan pelaporan keuangan yang memuat pertanggungjawaban yang benar-benar efektif.
      Aspek finansial perusahaan yang perlu mendapat perhatian khusus direncanakan seefektif mungkin oleh manajemen adalah rencana kebutuhan sumber dan penggunaan modal kerja. Karena modal kerja itu sangat berpengaruh terhadap kegiatan perusahaan, maka sumber dana   dipandang perlu dikelola secara cermat, karena sumber dan penggunaannya agar kesinambungan kegiatan perusahaan tercapai, untuk keperluan itu, perusahaan perlu memiliki perhatian yang cukup dibidang manajemen modal kerja.    

      Untuk memenuhi pangsa pasar sangat dibutuhkan perencanaan pengelolaan dana eksternal dalam meladeni order lokal dan order interlokal. Karena perusahaan ini bekerja sesuai dengan order, maka aktivitas secara kontinyu dapat menerima seluruh order (langganan) yang dapat mengembangkan kegiatan perusahaan.     
A  Pengertian Sumber Dana
      Indriyo, dalam bukunya Manajemen Keuangan (1997:27) mengatakan bahwa dana adalah adalah merupakan kekayaan atau aktiva yang diperlukan oleh perusahaan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dan yang selalu berputar.
      Selanjutnya Bambang Riyanto, dalam bukunya Dasar-Dasar Pembelanjaan Pererushaan (2004 : 49) mengemukakan bahwa dana dengan adanya 3 (tiga) konsep yaitu :
1.   Konsep Kwantitatif
Konsep ini mendasarkan pada kwantitas dari pada dana yang tertanam dalam keseluruhan unsur-unsur aktiva lancar dimana aktiva ini merupakan aktiva yang sekali berputar kembali dalam bentuk semula, atau aktiva dimana dana tertanam di dalamnya akan dapat bebas lagi dalam waktu yang pendek. Dana yang dimaksud adalah modal kerja bruto, yaitu keseluruhan dari pada aktiva lancar.
1.    Konsep Kwalitatif
Konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa mengganggu likuiditasinya.
Dana yang dimaksud adalah modal kerja netto yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas hutang lancarnya.
2.    Konsep Fungsional
Konsep ini berdasarkan fungsi dari pada dana dalam menghasilkan pendapatan (income). Setiap dana yang dikerjakan dalam perusahaan adalah dimaksud untuk menghasilkan laba.

B   Jenis-jenis Dana
      Bambang Riyanto, dalam bukunya Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan (2004  : 175) membedakan jenis-jenis dana yaitu :
      Dana asing atau hutang adalah dana yang berasal dari luar perusahaan yang sifatnyasementara bekerja di dalam perusahaan dan bagi perusahaan yang bersangkutan dan tersebut merupakan “hutang”, yang pada saatnya harus dibayar kembali.
      Dana asing atau hutang dibagi atas tiga golongan yaitu :
 1. Dana asing atau hutang jangka pendek (short termdebt), yaitu jangka waktunya pendek, kurang dalam satu tahun terdiri dari:
a.    Kredit rekening koran
b.    Kredit dari penjual
c.    Kredit dari pembeli dan
d.    Wesel.
2.    Dana asing atau hutang jangka menengah (intermediate term deb), yaitu hutang jangka waktunya atau umurnya lebih dari satu tahun.
3.    Dana asing atau hutang jangka panjang (long term debt) umumnya lebih dari sepuluh tahun terdiri dari:
a.    Pinjaman obligasi
b.    Pinjaman hipotik.
4.    Dana sendiri adalah dana yang berasal dari pemilik (dari dalam) perusahaan atau sumber intern yang ternama untuk waktu yang tidak tertentu lamanya, berupa keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan dan dana sendiri yang berasal dari luar perusahaan atau sumber extern yaitu dana yang berasal dari pemilik perusahaan terdiri dari:
1. Dana saham adalah tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu perusahaan Bentoel saham tersebut dapat berupa saham biasa (commond stock), saham preferren stock) dan saham preferren kumulatif (commulative preferren stock).
2. Cadangan yang dimaksud adalah merupakan cadangan yang dibentuk dari keuntungan yang didapat oleh perusahaan selama beberapa periode yang telah lalu atau dari tahun sedang berjalan antara lain: cadangan espansi, cadangan modal kerja, cadangan selisih kurs dan cadangan umum.
3. Keuntungan  atau  laba  ditahan adalah keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan yang mana sebagian dibayar sebagai devident dan sebagian ditahan oleh perusahaan, akan tetapi apabila perusahaan belum mempunyai tujuan tertentu mengenai penggunaan keuntungan, maka keuntungan tersebut merupakan keuntungan yang ditahan.

C  Pengertian Sumber dan penggunaan Dana
    1. Pengertian Sumber Dana
Bambang Riyanto, dalam bukunya Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan (2004 : 78) mengatakan bahwa sumber dana yang dapat diperoleh untuk membelanjai suatu investasi ialah:
a.    Sumber dana dari dalam perusahaan (internal source) dapat diartikan sebagai bentuk dana dimana pemenuhan kebutuhan dananya berasal dari dalam perusahaan itu sendiri, dengan kata lain dana dengan kekuatan atau kemampuan sendiri. Dana dari dalam perusahaan dapat diadakan dengan atau menggunakan laba cadangan dari sebagian sisa hasil usaha yang merupakan unsur dana sendiri sebagai sumber dana interen. Akumulasi penyusutan aktiva tetap karena jangka waktu penggunaan dari aktiva tersebut biasanya lama, misalnya 5 (lima) tahun, maka cadangan penyusutan yang masih menganggur dapat digunakan dan disebut sebagai sumber dana insentif. Dana dari dalam perusahaan terdiri dari :
b.    Dana yang berasal dari pemilik perusahaan.
c.    Saldo keuntungan yang ditanam kembali dalam peusahaan. Saldo ini adalah keuntungan yang tidak diambil oleh anggota.
d.    Surplus dana dan akumulasi penyusutan atau yang disebut sebagai cadangan dana. Terdiri atas nilai buku dan nilai pasar dari harta yang dimiliki oleh perusahaan.
e.    Sumber dana dari luar perusahaan (external source) yaitu pemenuhan kebutuhan dana diambil atau beras dari sumber-sumber dana yang ada diluar perusahaan. Dana yang berasal dari luar perusahaan adalah dana yang berasal dari pihak bank, asuransi, dan kreditur lainnya. Dana yang berasal daripada kreditur adalah hutang bagi perusahaan yang disebut sebagai dana pinjaman. Dana pinjaman yang dimaksud adalah dana yang didapat dari pihak ketiga (kreditur).
   2. Pengertian penggunaan dana
      Bambang Rianto dalam bukunya Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan (2004 : 95), mengatakan bahwa pengunaan dana akan menyebabkan perubahan-perubahan bentuk maupun penurunan jumlah aktiva lancar, tetapi penurunan aktiva tidak selalu diikuti olah penurunan dana.
      Penggunaan aktiva lancar menyebabkan berkurangnya dana, hal ini disebabkan karena :
a.    Pembayaran biaya atau ongkos perusahaan meliputi pembayaran upah, gaji, pembelian bahan baku atau barang dagangan, suplies kantor dan pembayaran biaya-biaya lainnya,
   Pembayaran biaya operasi ini akan mengakibatkan terjadinya penjualan atau penghasilan perusahaan yang bersangkutan.
   Penggunaan aktiva lancar untuk operasi ini baru merupakan pengunaan dana kalau jumlah biaya suatu periode lebih besar dari pada jumlah penghasilannya (timbulnya kerugian). Besarnya pengunaan dana untuk biaya operasi ini akan dapat ditentukan dengan jalan menganalisis laporan perhitungan rugi laba perusahaan tersebut, yaitu jumlah depresiasi dan amortisasi periode tersebut.
b.    Kerugian yang diderita perusahaan karena adanya penyualan surat berhargan atau efek maupun kerugian insindentil lainnya.
Diluar usaha pokok perusahaan harus dilaporkan tersendiri dalam laporan kerja perusahaan. Hal ini dimaksudkan agar laporan itu lebih informatif bagi pembaca.
Adapun kerugian yang rutin atau insidentil akhirnya akan mengakibatkan berkurangnya dana perusahaan.
c.    Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan tertentu dalam jangka panjang lainnya, misalnya dana pelunasan obligasi, dana pensin pengawai dan lain-lain.
d   Pembayaran hutang-hutang jangka panjang yang meliputi hutang hipotik, hutang opligasi, ataupun hutang jangka panjang lainnya mengakibatkan penarikan kembali untuk atau seterusnya saham perusahaan yang beredar, atau adanya hutang jangka panjang, diimbangai dengan berkurangnya aktiva lancar.
f.     Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau aktiva lancar lainnya yang mengakibatkan berkurngnnya aktiva lancar atau timbulnya hutang lancar yang berakibat kurangnnya dana.
g.    Pengambilan uang atau barang dangangan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadi (prive) atau adanya pengambilan bagian keuntungan oleh pemilik perusahaan perorangan atau persekutuan atau adanya pembayaran deviden dalam perseroan terbatas.
Dari uraian diatas maka sumber-sumber dana adalah merupakan elemen-elemen diluar dana (current assets dan current libilities) atau sering disebut perubahan current account. Kalau besarnya dan pengunaan dana maka tidak efek nettonya terhadap dana.
      Untuk lebih jelasnya sumber dan penggunaan dana adalah sebagai berikut :
      1.  Sumber dana
a.   Laba ditahan
b.   Bertambahnya penyusutan
1.    Bertambahnya hutang dangang
2.    Bertanbahnya hutang jangka panjang
3.    Bertambahnya kredit bank.
4.    Pengunaan dana
a.    Bertambahnya kas
b.    Bertambahnya piutang
c.    Bertambahnya persediaan
d.    Bertambahnya kendaraan
e.    Bertambahnya inventaris
f.     Berkurangnya misin dan peralatan
g.    Berkurangnya hutang lain-lain
D  Pengertian Pembelanjaan Perusahaan
      Untuk meninjau struktur keuangan suatu perusahaan dalam hubungannya dengan likuiditas dan profitabilitas (rentabilitas) adalah merupakan kebijaksanaan pembelanjaan perusahaan. Hal ini disebabkan karena likuiditas dan profitabilitas muncul sebagai akibat dari kebijaksanaan pembelanjaan dalam hal ini dapat memperoleh dana atau atau modal untuk membelanjai kegiatan perusahaan untuk mencapai tujuannya.
      Menurut Bambang Riyanto dalam bukunya Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan (2004 : 29) mengemukakan bahwa pembelanjaan perusahaan yang meliputi semua aktivitas yang bersangkutan dengan usaha untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan oleh perusahaan beserta usaha untuk menggunakan dana tersebut seefisien mungkin.
      Selanjutnya, Alex S. Nitisemito, dalam bukunya Pembelanjaan Perusahaan (2001 : 17) mengemukakan bahwa pembelanjaan perusahaan merupakan semua kegiatan perusahaan yang ditujukan untuk mendapatkan dan menggunakan modal dengan cara efektif dan efisien dalam penggunaan dana yang telah diperoleh.
      Dari definisi pembelanjaan yang dikemukakan penulis tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, pembelanjaan meliputi usaha-usaha yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk menarik dan mengumpulkan dana beserta modal dengan biaya yang rendah dan dengan syarat yang menguntungkan, serta secara efisien dan efektif.
      Lanjut Lukman Syamsuddin dalam bukunya Manajemen Keuangan Perusahaan (1999 : 115) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut pembelanjaan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari ilmu ekonomi dan dapat dikatakan bahwa pembelanjaan perusahaan adalah merupakan penerapan prinsip ekonomi dalam pengelolah (to manage) keputusan-keputusan yang menyangkut masalah financial.
      Alex S. Nitisemito, dalam bukunya Pembelanjaan Perusahaan (2001: 113) mempertegas secara rinci arti penting dari pembelanjaan, sebagai berikut :
a. Menimbulkan perbedaan tingkat keuangan
b. Mempengaruhi kelancaran jalannya perusahaan
c. Mempengaruhi jalannya dalam pemasaran
d. Dapat menyebabkan kegagalan perusahaan
      Sebagai bagian dari ilmu ekonomi yang sesungguhnya pembelanjaan itu menerapkan prinsip-prinsip ekonomi dalam pengambilan keputusan keuangan, dan secara luas pembelanjaan tersebut menyangkut berbagai aspek sehingga keputusan pembelanjaan, dapat mempengaruhi tingkat harga, bahkan kelancaran jalannya perusahaan secara keseluruhan.
      Definisi pembelanjaan lainnya dikemukakan oleh C. James Van dalam bukunya Finacial Management Policy (2000: 115) sebagai, investment decesion adalah keputusan yang berhubungan dengan struktur modal, financial decesion yaitu keputusan untuk menentukan struktur keuangan dan struktur modal perusahaan yang optimal agar dapat meningkatkan dan memaksimumkan pendapatan dan kekayaan para pemegang saham atau pemilik perusahaan. Sedangkan deviden decesion adalah keputusan yang berhubungan dengan pembagian keuntungan bagi pemegang saham dan laba yang ditahan.
      Jadi pengertian pembelanjaan tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelanjaan bukan saja bagaimana mendapatkan laba tetapi juga bagaimana penggunaan dana tersebut dapat dipandang sebagai usaha penarik modal atau disebut pembelanjaan aktif dapat dipandang juga sebagai usaha penggunaan modal kerja, dalam hal ini suatu perusahaan yang memiliki uang dan meminimkannya pada perusahaan lain maka disebut juga pada perusahaan pembelanjaan pasif, dapat berupa kuantitatif (besarnya modal yang akan ditarik) dapat pula dalam artian kwalitatif (kenis modal yang akan ditarik).
      Untuk artian kuantitatif meliputi persoalan-persoalan tentang berapa lama modal akan ditarik, pendapatan apa yang diperoleh dengan modal kerja tersebut (sektor rentabilitas).
      Selain itu dari segi sumber, pembelanjaan dapat berasal dari dalam berupa laba cadangan, laba tidak dibagi (pembelanjaan intern), sedangkan pembelanjaan dari luar berasal dari para kreditur, pemilik atau calon pemilik (pembelanjaan ekstern).
      Suad Husnan dalam bukunya Analisa Pembelanjaan (2000 : 3), istilah pembelanjaan perusahaan merupakan terjemahan dari kata Business/ Corporate Finance, yang biasa diartikan sebagai penggunaan uang dan sumber dana. Dengan kata lain, pembelanjaan perusahaan akan membicarakan untuk menggunakan dan memperoleh dana, yang dilakukan dalam konteks perusahaan.
      Kegiatan untuk menggunakan dan mendapatkan dana tersebut, baik dalam lingkup perusahaan, negara, ataupun individu, perlu diatur atau dikelola, agar tujuan yang telah ditetapkan. Di atas telah disebutkan bahwa kegiatan untuk memperoleh dan menggunakan dana perlu dikelolah sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tentu setiap perusahaan bisa merumuskan tujuan yang berbeda-beda tetapi disini kata akan gariskan tujuan yang seharusnya dipilih dalam kegiatan memperoleh dan dapat menggunakan dana tersebut yang tujuannya normatif.
E   Penentuan Besarnya Kebutuhan Dana
        Besarnya kecilnya dana yang dibutuhkan, tergantung pada kebutuhan perusahaan dalam memenuhi permintaan pasar, menurut Bambang Riyanto, dalam bukunya Dasar-Dasar Pembelanajaan Perusahaan (2004 : 12) hal itu ditentukan oleh dua faktor, yaitu :
 1.   Pengeluaran kas rata-rata setiap hari
 2.  Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja.
      Kas adalah merupakan alat yang mempunyai penggunaan yang tinggi karena dengan tersedinya kas, maka akan membiayai kewajiban-kewajiban, setiap harinya seperti untuk keperluan pembelian bahan mentah, bahan penolong, upah buruh dan apa saja yang dapat memenuhi segala kewajiban perusahaan.
      Hal ini tidak berarti bahwa perusahaan harus mempunyai simpanan kas yang tinggi. Karena dengan demikian berarti bahwa mengutamakan kepentiungan faktor likuiditas, tetapi akan menekan rentabilitas perusahaan di lain pihak ada keharusan untuk menahan jumlah minimal pada kas supaya perubahan dapat memenuhi kewajiban-kewajiban dengan baik. Persediaan minimal adalah apa yang disebut dengan persediaan bersih kas.
      Adapun persediaan bersih kas dapat dihasilkan untuk memperoleh keuntungan, besarnya persediaan bersih kas tergantung pada :
a.       Sifat transaksi komersial dan keuangan, sifat pada transaksi dalam arti bagaimana pembelian bahan dan penjualan hasil akhir dilakukan, misalnya dengan tunai atau kredit. Bila transaksi dilakukan dengan tunia, maka tidak perlu persediaan kas yang tinggi. Begitupula dengan sering tidaknya transaksi keuangan (penerimaan pembayaran) akan berpengaruh terhadap bersihnya kas.
b.    Bersihnya antara penerimaan dan pengeluaran. Besar kecilnya  selisih antara penerimaan dan jumlah pengeluaran kas dalam satu periode tertentu, untuk menentukan pula suatu tingkat persediaan bersih kas. Di samping itu penerimaan dan pengeluaran yang dapat diramalkan atau diduga terlebih dahulu.Misalnya ada pemogokan, kegagalan dan penjualan produksi dan lain-lainnya.   
      Apabila telah dapat ditentukan besarnya persediaan ersih kas, maka diatur penerimaan dan pengeluaran kontinuitras dapat terjamin dengan tidak menurunkan likuiditas di atas, maupun rentabilitas untuk dapat engatur penerimaan dan pengeluaran alat dengan baikdan efisien perlu dibuat cash budget.
      Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan cash budget oleh Farid Djahidin dalam bukunya Analisa Laporan Keuangan (2000 : 114) adalah  jumlah penerimaan selama periode tertentu, misalnya dalam satu bulan, pada umumnya penerimaan yang berasal dari :
a.    Penjualan tunai
b.    Debitur yang membayar hutang-hutangnya
c.    Sumber-sumber lain, misalnya penjualan aktiva tetap
d.    Jumlah pengeluaran-pengeluaran selama periode tertentu, sperti pembelian bahan/ bahan lainnya secara tunai
e.    Pembayaran hutang pernisgssn dan hutang lainnya.
f.     Adanya surplus atau defisit.

F  Evaluasi  Kinerja Keuangan
      Analisa ratio financial penilaian terhadap kinerja keuangan di masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Tujuan  untuk menemukan kelemahan-kelemahan di dalam kinerja   keuangan perusahaan yang dapat menyebabkan masalah-masalah masa yang akan datang dan untuk menentukan kekuatan- kekuatan  perusahaan yang dapat diandalkan. Misalnya analisa internal yang dilakukan oleh karyawan suatu perusahaan dapat ditujuan terhadap penilaian likuiditas perusahaan atau penilaia penyelenggarakan-penyelenggaraan perusahaan di masa lalu. Analisa rasio finacial juga berasal dari luar perusahaan sebagian usaha untuk menentukan keandalan kredibilitas perusahaan atau potensi industri. Dari manapun analisa berasal alat yang digunakan pada dasarnya sama.
      Rasio finansial merupakan alat utama dalam analisa keuangan, karena dapat dipergunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan mengenai kesehatan keuangan perusahaan.
     Dalam implementasi analisa rasio finansial terhadap kerja keuangan biasanya terdapat dua cara perbandingan yang akan dipergunakan perusahaan. Menurut apa yang dijelaskan oleh Van Horne dan Wachowichz, Manajemen Keuangan Perusahaan, (1997 : 133) tentang kedua cara perbandingan tersebut, sebagai berikut :
1.   Perbandingan internal
Analisa dapat membandingkan rasio saat ini dengan rasio masa lalu dan masa yang akan datang dalam perusahaan yang sama. Rasio lancar, rasio dari aktiva dibagi kewajiban lancar untuk tahun sekarang dapat di bandingkan rasio lancar tahun sebelumnya.
Jika rasio finansial diurutkan dalam beberapa periode tahun, analisa dapat mempelajari  komposisi  perubahan dan menentukan apakah terdapat perbaikan atau menurunan dalam kondisi keuangan dan kinerja perusahaan.
 2.   Perbandingan  eksternal dan sumber-sumber rasio industri
Metode  perbandingan yang kedua  melibatkan  perbandingan rasio satu perusahaan dengan perusahaan-perusahaan  sejenis atau dengan rata-rata industri titik waktu yang sama. Perbandingan ini memberikan pandangan mendalam tentang kondisi keuangan dan kinerja relatif dari perusahaan. Rasio ini juga membantu dalam mengidentifi kasikan penyimpangan dari rata-rata standar industri.
Dengan perbandingan internal, perusahaan akan dapat mengetahui kecenderungan perubahan yang terjadi selama beberapa periode tahun buku yang akan dianalisis. Sedangkan melalui perbandingan eksternal perusahaan dapat melihat kekuatan persaingan (competition power) yang ada pada perusahaannya, yaitu dengan membandingkan rasio-rasio finansial internal perusahaan dengan suatu standar atau norma indutri. Akan tetapi industri yang dimaksudkan adalah rasio - rasio finansial yang di terbitkan oleh badan-badan atau lembaga-lembaga keuangan sebagai standar atau ukuran atau ukuran yang dapat dibandingkan dengan rasio finansial suatu perusahaan.  
       Pendapat lain dari Cahyono, Analisa Kinerja Keuangan, (2000 : 392) juga membagi metode-metode penganalisaan rasio-rasio finansial menjadi 2 (dua) perbandingan, yaitu :
1.  Membandingkan  rasio  sekarang ( present  ratio )  dengan ratio-ratio  kita dari  waktu-waktu  yang  lalu  ( ratio historis) dengan rasio-rasio yang diperkirakan untuk waktu-waktu yang akan datang dari perusahaan yang sama. Misalnya current rasio, tahun 1997 dibandingkan dengan current ratio dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan cara perbandingan tersebut akan dapat diketahui perubahan- perubahan dari rasio tersebut dari tahun ketahun. Dengan menganalisa satu macam rasio saja tidak banyak artinya, karena dapat mengetahui faktor-faktor apa yang menyebabkan adanya perubahan. 
2.   Membandingkan rasio-rasio dari suatu perusahaan (rasio perusahaan/ company ratio) dengan rasio-rasio semacam dari perusahaan lain yang sejenis atau industri rasio (rasio industri/rasio rata-rata/rasio standar) untuk waktu yang sama.                                                      
     Dengan membandingkan rasio perusahaan dengan rasio industri, maka akan dapat diketahui apakah perusahaan yang bersangkutan itu dalam aspek finansial tertentu berada di atas rata-rata industri (above average), berada pada rata-rata (average) atau terletak dibawah rata-rata (below average).
      Jadi ada 2 (dua) metode perbandingan yang digunakan perusahaan untuk menganalisa rasio finansial oleh Amin Tunggal, Dasar-Dasar Analisa Laporan Keuangan, (2002 : 125) yaitu analisa internal dan eksternal. Perbandingan internal, yaitu rasio-rasio internal yang dibandingkan antara rasio-rasio (rasio historis) yang lalu dengan rasio sekarang (present ratio). Perbandingan eksternal  yaitu  rasio-rasio yang  sengaja dikeluarkan oleh lemaga-lembaga keuangan atau badan-badan keuangan untuk dijadikan standar bagi perusahaan - perusahaan dalam  menganalisa rasio-rasio finansialnya.
      Dengan demikian, perbandingan internal dan eksternal merupakan indikator perusahaan dalam menyusun rasio finansial Manajer keuangan dapat mengambil salah satu indikator dari keduanya. Indikator ini untuk menjawab kondisi kinerja keuangan perusahaan, sehingga dapat mengambil kebijaksanaan strategis tentang pembelanjaan perusahaan di masa yang akan datang. Di Amerika Serikat perbandingan rasio perusahaan dengan rasio industri sudah sangat luas penggunaannya karena di negara tersebut ada beberapa badan atau bank yang menyusun rasio-rasio industri antara lain "DUN and Bradstreef dan Robert Morris Associates ( RMA )" (Anonim  2002 :  214). Di Indonesia jika perusahaan hendak mengadakan analisa rasio, mungkin pada saat ini hanya dapat mengadakan analisa rasio internal belum adanya lembaga atau badan yang menyusun rasio industri.

G   Usaha Untuk Memperbesar Profit Margin

      Besar kecilnya profit margin  pada setiap transaksi penjualan ditentukan oleh kedua faktor yaitu net sales laba usaha. Besar kecilnya laba usaha atau net operating income tergantung kepada pendapatan dari sales dan besarnya biaya usaha (operating expenses).
      Bambang Riyanto, dalam bukunya Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, (2004 : 31) dengan jumlah operating expenses tertentu dengan profit margin dapat diperbesar dengan sales, atau dengan jumlah sales tertentu, profit margin dapat diperbesar dengan menekan atau memperkecil operating expenses.
      Dengan demikian, untuk memperbesar profit margin ada dua alternatif dalam usaha untuk memperbesar profit margin, yaitu :
1.    Dengan menambah biaya usaha (operating expenses) sampai pada tingkat tertentu diusahakan tercapai tambahan sales yang sebesar-besarnya atau dengan kata lain, tambahan sales harus lebih besar daripada tambahan operating expenses.
2.    Perubahan besarnya sales dapat disebabkan karena perubahan harga penjualan per unit apabila volume sales dalam unit sudah tertentu (tetap) atau disebabkan karena bertambahnya luas penjualan dalam unit kalau tingkat harga per unit produk sudah tertentu.  
      Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa pengertian menaikkan tingkat sales disini dapat berarti memperbesar pendapatan dan sales dengan jalan, sebagai berikut :
 1.  Memperbesar volume sales dalam unit pada tingkat harga penjualan barang tertentu.
 2.  Menaikkan harga tingkat penjualan per unit pada produk luas sales dalam unit tertentu. 
      Dengan mengurangi pendapatan dari sales sampai tingkat tertentu diusahakan adanya pengurangan oprating expenses yang sebesar-besarnya, atau dengan kata lain mengurangi biaya usaha relatif lebih besar dari pada berkurangnya pendapatan dan sales. Meskipun jumlah daripada sales selama periode tertentu berkurang, tetapi oleh karena disertai berkuragnya operating expenses yang lebih sebanding maka akibatnya ialah bahwa profit marginnya makin besar.

 DAFTAR PUSTAKA 
Cahyono, Bambang, 2000, Analisa Kinerja Keuangan, Edisi Kedua, TPWT, Jakarta.

Djarwanto, 1999, Pokok-Pokok Analisa Laporan Keuangan, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.

Husnan, Suad, 2000, Pembelanjaan Perusahaan, (Dasar-Dasar Manajemen Keuangan),  Liberty, Yogyakarta.

Horne, Van dan Wacwichz, 1999, Analysis Financial, Edisi Kelima, Cetakan Pertama, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Lukman, Syamsuddin, 1999, Manajemen Keuangan Perusahaan, (Konsep Aplikasi Dalam Perencanaan), Edisi Baru, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Tunggal, Amin, 2002, Analisa Laporan Keuangan, Fakultas Ekonomi, UGM,  Yogyakarta.

Van Horn, James C, 1997, Manajemen dan Kebijakan Keuangan Perusahaan, Edisi Ketujuan, Intermedia, Jakarta.

Nitisemito, Alex, S, 2001, Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Kedua, Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Riyanto, Bambang, 2004, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Kedua, Yayasan Penerbit  Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar