Rabu, 05 Oktober 2016

Analisis Maksimisasi Laba Industri

Pengertian Biaya Untuk menghasilkan sesuatu apakah itu barang atau jasa maka perlulah dihitung dan diketahui besarnya biaya yang dikeluarkan atau yang perlu dan kemungkinan memperoleh pendapatan yang mungkin diterima. Setiap pengorbanan biaya selalu diharapkan akan mendatangkan hasil lebih besar dari pada biaya dikorbankan tersebut pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang pengusaha hendaknya dapat mengetahui setiap untuk yang merupakan komponen biaya perusahaan.Dalam hal ini, total biaya selalu dapat dihitung dan dapat dibandingkan dengan total penerimaan yang mungkin dapat di peroleh. Berbicara mengenai masalah biaya merupakan suatu masalah yang cukup luas, oleh karena di dalamnya terlihat dua pihak yang saling berhubungan. Oleh Winardi, (2000: 147), menyatakan bahwa bilamana kita memperhatikan biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk suatu proses produksi, maka dapat dibagi ke dalam dua sifat, yaitu yang merupakan biaya bagi produsen mendapat bagi pihak yang memberikan faktor produksi yang bersangkutan. Demikian halnya bagi konsumen, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh alat pemuas kebutuhannya atau merupakan pendapatan bagi pihak yang memberikan alat pemuas kebutuhan tersebut. Oleh Ikatan Akuntansi Indonesia, (1993: 26) dikatakan bahwa Biaya ( cost ) adalah jumlah yang diukur dalam satuan uang, yaitu pengeluaran-pengeluaran dalam bentuk konstan atau dalam bentuk pemindahan kekayaan dengan pengeluaran modal saham, jasa-jasa yang disertakan atau kewajiban-kewajiban yang ditimbulkannya, dalam hubungannya dengan barang-barang atau jasa-jasa yang diperoleh atau yang akan diperoleh. Dari definisi dan pengertian biaya di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa pengertian biaya yang dikemukakan di atas adalah suatu hal yang masih merupakan pengertian secara luas oleh karena itu semua yang tergolong dalam pengeluaran secara nyata keseluruhannya termasuk biaya. Sejalan dengan definisi dan pengertian di atas, maka D. Hartanto, (1999: 89), memberikan atasan tentang biaya (cost) dan ongkos (expense), adalah sejumlah biaya-biaya yang dianggap akan dapat memberikan manfaat atau service potensial di waktu yang akan datang dan karenanya merupakan aktiva yang dicantumkan dalam neraca. Sebaliknya expense atau expred cost adalah biaya yang telah digunakan untuk menghasilkan prestasi. Jenis-jenis pengeluaran termasuk biaya ini tidak dapat memberikan manfaat lagi diwaktu yang akan datang, maka tempatnya adalah pada perkiraan laba rugi. Dalam pengertian biaya yang dikemukakan oleh Hartanto yang telah memisahkan tentang pengertian yang akan datang dan tercantum dalam neraca. Sedangkan expenses atau ongkos biaya yang menghasilkan prestasi dan tidak memberikan manfaat diwaktu yang akan datang. Sedangkan biaya yang dimaksudkan pada masa yang akan datang, nantinya akan diperhitungankan pada saat sejumlah pengeluaran-pengeluaran dalam proses produksi. Klasifikasi Biaya Dalam suatu proses produksi melibatkan unsur-unsur biaya dibebankan menurut kelompok biaya tertentu guna menyusun harga pokok produksi dapat digabungkan ke dalam unsur-unsur biaya. Tetapi ini tidaklah segera dapat dipandang sebagai biaya, karena itu harus sesuai dengan faktor biaya, karena biaya itu harus sesuai dengan faktor biaya yang dianut perusahaan. Sehubungan dengan unsur-unsur biaya tersebut, maka D. Hartanto, (1999: 37) mengelompokkan biaya menurut tujuan perencanaan dan pengawasan, sebagai berikut : "1) Biaya variabel dan biaya tetap 2) Biaya yang dapat dikendalikan". Sedangkan Mulyadi ( 2001: 57 ), menghubungkan tingkah laku biaya dengan perubahan volume kegiatan sebagai biaya variabel adalah biaya yang secara total berfluktuasi secara langsung sebanding dengan volume penjualan atau produksi, atau ukuran kegiatan yang lain. Sedangkan biaya tetap atau biaya kapasitas merupakan biaya untuk mempertahankan kemampuan beroperasi perusahaan pada tingkat kapasitas tertentu. Dari gambaran umum di atas, maka dapat diketahui sebagai berikut : 1) Biaya variabel adalah sejumlah biaya yang ikut berubah untuk mengikuti volume produksi atau penjualan. Misalnya atau bahan langsung hanya yang ikut dalam proses produk, bahan baku langsung yang dipakai dalam proses produksi biaya tenaga kerja langsung. 2) Biaya tetap adalah sejumlah biaya yang tidak berubah walaupun ada perubahan volume produksi atau penjualan. Misalnya gaji bulanan, asuransi, penyusutan, biaya umum dan lain-lain. Sifat-sifat biaya tersebut sangat penting untuk diketahui seorang manajer dalam perencanaan usaha pengembangan karena dengan demikian akan didapatkan suatu gambaran klasifikasi biaya yang baik untuk tujuan perencanaan dan pengawasan. Klasifikasi biaya yang baik ini, oleh Adoloph Mazt (1999: 97), sebagai berikut : 1) Manufacturing cost, adalah semua biaya yang muncul sejak pembelian bahan-bahan sampai berubah menjadi produk selesai (final product). Manufacturing cost terbagi atas a) Prime cost (biaya utama), adalah biaya dari bahan-bahan secara langsung dan upah tenaga kerja langsung dalam kegiatan pabrik. - Prime cost terdiri dari : - Direct material, yaitu semua bahan baku yang membentuk keseluruhan bahan yang dapat secara langsung dimasukkan dalam perhitungan kerja pokok - Direct cost, yaitu setiap tenaga kerja yang ikut secara langsung pemberian sumbangan dalam proses produksi. b) Manufacturing expenses, dapat juga disebut factory over head cost atau atau biaya pabrikkasi tidak langsung. Yang termasuk golongan biaya ini adalah : - Indirect labour, yaitu tenaga kerja yang tidak terlibat langsung dalam proses produksi, misalnya kepada bagian bengkel, mandur, pembantu umum dan sebagainya. - Other manufacturing expenses, yaitu biaya - biaya tidak langsung selain dari indirect labour dan indirect material, seperti biaya atas penggunaan tanah,pajak penghapusan, pemeliharaan dan perbaikan 2) Commercial expenses, yang meliputi : a. Selling expenses, semua ongkos yang dikeluarkan setelah selesainya proses produksi sampai pada saat terjualnya. Ongkos-ongkos ini meliputi penyimpangan, pengangkutan penagihan dan ongkos yang menyangkut fungsi-fungsi penjualan. b. Administration expenses, adalah ongkos-ongkos yang meliputi ongkos perencanaan dan pengawasan.Biasanya semua ongkos-ongkos tidak dapat dibebankan pada bagian produksi atau penjualan dipandang sebagai ongkos administrasi. Adapun penjelasan dari unsur-unsur biaya tersebut di atas, adalah sebagai berikut : 1) Historical cost, merupakan biaya yang telah terjadi dimasa lalu, sedangkan budgeting cost adalah biaya yang diperkirakan terjadi pada masa yang akan datang. 2) Variabel cost, adalah biaya yang secara keseluruhan akan berubah-ubah dengan berubahnya volume produksi atau penjualan. Sedangkan fixed cost, adalah biaya secara keseluruhan tidak akan mengalami perubahan pada suatu tingkat produksi atau penjualan walaupun kegiatan mengikuti perkembangan. 3) Total cost, adalah sejumlah biaya dari pada biaya obyektif. Sedangkan unit cost, adalah biaya rata-rata dari setiap unit dari obyektif. 4) Manufacturing cost, adalah biaya yang diperlukan untuk menghasilkan barang (dengan menggunakan mesin, peralatan dan tenaga kerja). Manufacturing cost terdiri dari direct cost, material cost, direct labour cost dan inderect cost/overhead cost. Sedangkan administratif cost adalah biaya-biaya yang diperlukan pengelolaan perusahaan secara keseluruhan dalam aktivitasnya. 5) Direct cost, adalah biaya-biaya yang mudah ditelusuri terhadap suatu obyek tertentu. Sedangkan indirect cost adalah biaya - biaya yang tidak ditelusuri hubungannya dengan obyek tertentu. Sedangkan priod cost merupakan biaya-biaya yang ditimbulkan karena berjalannya waktu. Dengan kata lain, period cost adalah setiap biaya yang dialokasikan berdasarkan waktu. Minimisasi Biaya Pada dasarnya biaya merupakan sejumlah pengorbanan untuk mencapai hasil, maka dalam usaha perusahaan dapat memaksimalkan labanya dianggap perlu menggunakan metode-metode program dan matematik. Untruk dapat merancang dan mengalokasikan berbagai sumber daya manusia dari berbagai alternatif penggunaan sumber daya yang telah ditetapkan agar minimisasi biaya yang optimal dapat tercapai. Meskipun demikian dianggap perlu perusahaan menentukan kepasitas produksi yang menguntungkan. Lebih lanjut Sukamto Rekso Hadiprodjo dan Harsono Hadi Widjoyo (1997: 80) mengemukakan bahwa dalam usaha meminimumkan biaya atau minimisasi biaya dianggap perlu melakukan usaha penentuan tingkat produksi masing-masing produk dengan memperhatikan batasan faktor-faktor produksi untuk memperoleh tingkat keuntungan yang maksimal. Pengertian dan Tujuan Maksimisasi Laba Sebagaimana diketahui bahwa keberadaan perusahaan mempunyai tujuan tertentu, sehingga perusahaan berusaha semaksimal mungkin dalam memaksimalkan laba sebagai tujuan umum perusahaan (bisnis) adalah "Membuat suatu produk atau jasa dengan biaya yang serendah-rendahnya, menjual dengan harga wajar, dan membentuk kebiasaan". Dalam pembuatan keputusan merupakan elemen penting manajemen produksi dan operasi, karena semua manajer harus membuat keputusan-keputusan, maka tidak ada salahnya bila kita membicarakan masalah pembuatan keputusan. Dengan melaksanakan usahanya perusahaan dalam hal menggunakan sumber daya manusia (sering disebut faktor-faktor produksi) tenaga kerja, mesin-mesin peralatan, bahan mentah dan sebagainya. Dalam proses transportasi bahan mentah dan tenaga kerja menjadi produk atau jasa. Selanjutnya, T. Hani Handoko (2001: 84) mengemukakan bahwa dalam penentuan maksimisasi laba perusahaan akan menetapkan teknik-teknik atau metode perangcangan dan pengalokasian berbagai sumber daya yang terbatas di antara berbagai alternatif penggunaan sumber daya manusia untuk mendukung kontinuitas usaha, serta dapat meminimalisasi biaya yang telah dioptimalkan. Problem produksi biasanya diformulasikan sebagai maksimalisasi keuntungan dimana sumber daya dialokasikan untuk mencapai efektifitas yang maksimal dan distribusi modal berbagai periode, di mana fungsi-fungsi dan tujuan di eksperimenkan dalam kaitannya dengan Net Present Value (NPV) aplikasi-aplikasi yang bermaksud. a. Pemilihan proses yang dapat membantu manajemen untuk memilih kombinasi metode produksi yang terbaik dari yang tersedia. b. Pencampuran (blending) untuk menentukan biaya terkecil dari kombinasi unsur-unsur yang akan membentuk sebuah spesifikasi produk yang dihasilkan. c. Transportasi untuk menentukan biaya transportasi minimal menggunakan rute yang tersedia. Dari ketiga aplikasi ini mempunyai fungsi dan tujuan yaitu biaya yang minimal, artinya segala aktivitas dapat dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Maksimisasi Laba Untuk memproduksi sesuatu barang dan jasa biasanya mempunyai kendala dalam memperlancar produk akibat dari faktor biaya, karena biaya merupakan obyek yang menjadi kendala di samping tenaga kerja dari kegiatan produksi Mulyadi (2001; 8) mengemukakan bahwa biaya dalam arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomi yang diukur dalam satuan uang yang telah menjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Kaitannya dengan pengertian biaya dalam arti luas, sebagai berikut : 1) Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi 2) Diukur dalam satuan uang 3) Yang telah terjadi atau yang secara potensial akan terjadi 4) Pengorbanan tersebut untuk tujuan tertentu. Selanjutnya, Mulyadi (2001; 10) mengemukakan bahwa biaya dalam arti sempit dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva. Untuk membedakan pengertian biaya dalam arti luas, maka pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva ini disebut dengan istilah “Harga Pokok”. Jika pengorbanan sumber ekonomi tidak menghasilkan manfaat, maka pengorbanan tersebut merupakan rugi. Jika seorang pengusaha telah mengeluarkan biaya tetapi pengorbanan tidak mendatangkan keuntungan (revenue), maka pengorbanan ini disebut rugi. a. Persediaan Bahan Baku Persediaan bahan baku biasanya disebut bahan mentah yang merupakan suatu persediaan dipergunakan untuk menjamin kelangsungan proses produksi. Dengan adanya persediaan pengamanan dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan bahan yang mungkin disebabkan oleh penggunaan bahan baku yang lebih besar dari perkiraan semula yang disebabkan permintaan barang dari konsumen bertambah besar pula atau keterlambatan dalam penerimaan bahan baku yang dipesan. Oleh karenanya tenggang waktu (lead time) dalam pemesanan bahan baku yang tidak dapat dihindari maka resiko untuk kehabisan persediaan dapat terjadi, karena persediaan yang telah ditetapkan berdasarkan taksiran akan habis sama sekali sebelum penerimaan dari bahan baku yang telah dipesan. Agus Asyhari (1997; 64) dalam bukunya Manajemen Produkasi dan Perencanaan Sistem Produksi mengatakan bahwa persediaan pengaman atau Safety Stock merupakan suatu persediaan bahan baku yang dicadangkan sebagai pengaman dan kelangsungan proses produksi. Dari pengertian yang di kemukakan diatas dapat dikatakan bahwa persediaan pengaman merupakan persediaan minimun yang merupakan cadangan yang harus ada untuk menjamin proses produksi dari perusahaan b. Biaya Tenaga Kerja Biaya tenaga kerja sebagai salah satu biaya konversi, di samping biaya overhead pabrik, yang merupakan salah satu biaya untuk mengubah bahan baku yang menjadi produk jadi. Berdasarkan Mulyadi (2001; 343) mengemukakan bahwa tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk mengolah produk. Biaya tenaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan tenaga kerja manusia tersebut. Dalam perusahaan biaya tenaga kerja digolongkan atas berbagai macam cara menurut fungsi pokok dalam perusahaan, menurut kegiatan pada bagian dalam perusahaan menurut jenis pekerjaan dan menurut hubungannya dengan produk atau jasa yang dihasilkan. Secara lebih terperinci tehnik-tehnik pengukuran kerja dapat digunakan untuk maksud-maksud tersebut, sebagai berikut : 1) Mengevaluasi pelaksanaan kerja karyawan Pelaksanaan evaluasi ini dilakukan melalui perbandingan keluaran yang nyata selama periode waktu tersentu dengan keluaran standar yang ditentukan dari alokasi tenaga kerja. 2) Menentukan tingkat kepastian Untuk suatu tertentu tenaga kerja dan peralatan yang tersedia, maka standar-standar pengukuran kerja dapat digunakan untuk menentukan tingkat kepastian yang harus tersedia. 3) Menetapkan upah insentif Dengan upah insentif, para karyawan menerima pembayaran lebih untuk keluaran yang lebih besar. Standar waktu melatar belakangi rencana-rencana insentif mencantumkan keluaran 100 persen. c. Pengertian Laba Untuk mengukur prestasi perusahaan atau tingkat kemampuan, maka analisa memperoleh laba merupakan salah satu alat yang digunakan oleh para manajer, pada prinsipnya bahwa setipa perusahaan menginginkan suatu potensi yang baik sehingga memberikan pendapatan sampai sejauhmana hasil yang dan bunga dengan harta.Analisa resiko dalam memperoleh laba juga akan memberikan gambaran efisien atas penggunaan dana, mengenai hasil akan keuntungan dapat dilihat setelah membandingkan pendapatan bersih setelah pajak dan bunga dengan harta. Laba suatu rasio keuangan yang mengukur kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dengan sejumlah modal tertentu, selain itu rasio tersebut dapat memberikan gambaran tentang kontrol perusahaan dalam pengambilan keputusan keuangan. Untuk pengertian yang lebih jelasnya beberapa batasan yang diberikan oleh penulis berikut ini, seperti Bambang Riyanto (2002; 27) mengatakan bahwa keuntungan perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dan aktiva atau model yang menghasilkan laba tersebut dengan kata lain keuntungan diperoleh yang adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba sebelum periode tertentu. Bagi batasan tersebut untuk memperoleh dari laba dengan investasi yang ada juga dapat dikatakan kemampuan suatu perusahaan untuk mencapai keuntungan tertentu sebagai akibat dari kebijaksanaan dan keputusan atas penggunaan dana dan perusahaan. Selanjutnya, Edwan Dekar (2000; 68) mengemukakan bahwa profitabilitas diukur dengan keberhasilan perusahaan dalam mempertahankan kebijaksanaan deviden menguntungkan sementara ada yang bersamaan maju untuk menunjukkan adanya suatu kenaikan modal yang mantap. Penulis lain yaitu Hartanto (1999: 46) mengemukakan bahwa keuntungan adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh laba. Oleh karena itu dengan membandingkan operating profit margin antara beberapa periode yang berurutan akan dapat dilihat kecenderungan harga pokok penjualan dan perubahan biaya operasi dari perusahaan tersebut. d. Jenis-Jenis Laba Secara garis besarnya untuk memperoleh laba dapat dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu : Keuntungan secara ekonomi (return on total accers) yang sering juga disebut dengan istilah Earning Power adalah perbandingan antara laba sebelum pajak dengan keseluruh an modal. Adapun laba yang dimaksud tersebut adalah laba operasi dan modal adalah modal operasi. Untuk memberikan pengertian yang lebih jelas S. Munawir (1997: 13) mengemukakan bahwa keuntungan secara ekonomi adalah salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang dimaksud untuk dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan pada opeasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Dengan demikian ratio ini menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operaso perusahaan (Net Operating Income) dengan jumlah investasi atai aktiva yang digunakan untuk menghasilkan operasi tersebut (Net Operating Assets). Analisa profit margin tersebut dimaksud untuk melihat efisiensi perusahaan dalam mencapai volumepenjualan untuk menghasilkan laba yang diharapkan. Sedangkan operating Assets Turn Over untuk melihat efektivitas perusahaan yang dapat tercermin dari kecepatan operating assets turn over. Suatu faktor yang mempengaruhi perkembangan perusahaan adalah sejauhmana perusahaan mengelola usahanya agar dapat menghasilkan laba maksimal mungkin sedangkan laba itu sangat dipengaruhi oleh sebagaimana perusahaan mencapai tingkatan volume penjualan tertentu dengan biaya yang sewajarnya. Karena tingkatan efisiensi dalam perusahaan akan menyebabkan semakin tinggi pula penetapan profit margin perusahaan. Untuk menaikkan profit margin ada beberapa cara yang dapat ditempuh dapat ditempuh : - Menaikkan Net Sales yang lebih besar dari ke naikkan operating expenses. - Mempertahankan Net Sales dengan menekan operating expenses. - Mengusahakan penurunan Net Sales dengan harapan terjadi penurunan operating expenses yang lebih besar. Salah satu alternatif lain dalam menaikkan keunagnan sebagai berikut : 1) Menaikkan net sales yang lebih besar dari kenaikan operating expenses. 2) Mempertahankan net sales dengan menekan operating expenses. 3) Mengusahakan penurunan net sales dengan harapan terjadi penurunan operating expenses yang lebih besar. Selain masalah efisiensi tersebut suatu kenyataan bahwa setiap perusahaan senantiasa memperhatikan masalah perputaran modalnya, di mana perputaran modal yang cepat menunjukkan kemajuan perusahaannya. b) Keuntungan modal sendiri ( return on net worth ) Return on net worth tersebut menyangkut bagaimana tingkat kemampuan modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan. Dalam hal ini Return on worth tersebut yang dibandingkan adalah bukan keseluruhan modal tetapi khusus modal sendiri. Adapun batasan oleh Bambang Riyanto (1988; 37) mengatakan bahwa laba modal sendiri juga dikenakan laba yang tersedia bagi para pemilih modal sendiri disatu pihak dengan jumlah modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut dipabrik lain. DAFTAR PUSTAKA Asyhari, Agus, 1997, Manajemen Produksi dan Perencanaan Sistem Produksi, Edisi Pertama, Penerbit Fakultas Ekonomi, UGM, Yogyakarta. Dukat, Erwan, 2000, Alat-Alat Analisa Laporan Keuangan, Edisi Revisi, Cetakan Kedua, Yogyakarta Akuntan Group. Hadi, Harsono, Widjoyo, 1997, Perencanaan Produksi, Edisi Kedua, Cetakan Kelima, Penerbit Aditya Aksara, Bandung. Handoko, Hani, T, 2001, Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi Hartanto, D, 1999, Akuntansi Untuk Usahawan, (Manajegemnt Accounting), Cetakan Kedua Edisi Ketiga, Jakarta Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pertama Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta. Ikatan Akuntansi Indonesia, 1997, Norma-Norma Pemeriksaan Akuntansi, Penerbit YKPN, Jakarta. Mulyadi, 2001, Akuntansi Biaya, Cetakan Ketiga, Edisi Kelima, Penerbit Aditya Media, Jakarta.. Munawir S, 1997, Analisa Laporan Keuangan, Edisi Kedua, Penerbit Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Mazt, Adoloph, 1999, Manajemen Produksi, Edisi Ketujuh, Cetakan Kedua, Penerbit Ghalia Indonesia. Riyanto, Bambang, 2002, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edsi Kedua, Cetakan Kedelapan, Penerbit FE, UGM, Yogyakarta. Sudjana, 1998, Statistik, Edisi Kelima, Cetakan Ketujuh, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta. Sukamto Rekso Hadiprodjo dan Harsono Hadi Widjoyo, 1997, Mengambil Keputusan Manajerial Dengan Komputer Mikro, Cetakam Pertama, Edisi Pertama, Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta. Winardi, 2000, Kapita Selecta, Edisi Kelima, Cetakan Kedelapan, enerbit Alumni, Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar