Selasa, 22 Desember 2015

AKUNTANSI KEUANGAN MANAJEMEN

TARGET COSTING
I.        Latar Belakang
             Dalam kondisi persaingan yang semakin kompetitif, setiap badan usaha dituntut untuk memiliki keunggulan yang bersaing agar dapat bertahan dan memenangkan persaingan untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan. Salah satu tujuan perusahaan yang utama adalah untuk memperoleh laba.
Biaya sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi laba merupakan unsur penting dalam menjamin kemenangan perusahaan dalam melakukan persaingan di pasar. Bagi perusahaan manufaktur, perencanaan biaya harus lebih strategis karena merupakan dasar untuk menentukan harga jual produk yang dihasilkan perusahaan. Dimana harga jual produk yang ditetapkan oleh suatu perusahaan diharapkan mampu bersaing di pasaran. Penentuan harga jual yang dapat bersaing bukanlah hal yang mudah dilakukan. Harga jual yang terlalu tinggi dapat berakibat kalahnya perusahaan dalam persaingan, sedangkan harga jual yang terlalu rendah dapat mengakibatkan tidak tercapainya tujuan perusahaan yaitu untuk memperoleh laba pada tingkat yang diinginkan.
Dalam jangka panjang harga jual produk atau jasa yang ditetapkan harus mampu menutupi semua biaya-biaya dan pengeluaran yang dilakukan untuk memproduksi barang, dan dapat memperoleh laba yang diinginkan. Akan tetapi, penentuan harga jual yang didasarkan atas besarnya biaya yang dikeluarkan tidak dapat bertahan di pasar karena manajer perusahaan terlebih dahulu menghitung besarnya biaya yang dikeluarkan dalam memproduksi produk, sehingga harga jual ditentukan berdasarkan biaya yang dikeluarkan. Atau dengan kata lain biaya yang menentukan harga jual. Untuk membantu manajer perusahaan, maka diperkenalkan sistem pengendalian biaya total dengan kalkulasi biaya target (target costing) yang merupakan metode pengerjaan terbalik yaitu dari penentuan harga di pasar kemudian baru menentukan biaya. Dimana dengan menggunakan biaya target (target costing) departemen pemasaran menetapkan karakteristik dan harga produk yang dapat diterima pelanggan dan selanjutnya tugas teknisi perusahaan mendesaian dan mengembangkan produk sehingga biaya dan laba dapat ditutupi oleh harga.
Pendekatan perhitungan biaya target (target costing) ini dikembangkan berdasarkan atas dua karakteristik penting sebagaimana dikemukakan oleh Garrison, Noreen, dan Brewer (2006 : 542) “yaitu pasar dan biaya“. Pertama adalah perusahaan tidak dapat mengendalikan harga, pasarlah (penawaran dan permintaan) yang menentukan harga. Oleh karena itu, harga pasar yang diantisipasi ditentukan sebagai sesuatu yang diberikan. Kedua adalah sebagian besar biaya produk ditentukan pada tahap desain. Sebagian besar kesempatan untuk mengurangi biaya ada pada tahap desain seperti menggunakan bahan yang murah, kuat, serta andal. Artinya sebelum biaya dimasukkan ke dalam produk, teknisi perusahaan merancang desain produk dengan menggunakan bahan yang murah tetapi dapat diterima oleh pelanggan. Jika pengendalian perusahaan kecil atas harga pasar dan atas biaya setelah produk dimasukkan ke dalam produksi maka kesempatan besar untuk mempengaruhi laba datang dari tahap desain, tahap dimana spesifikasi yang pembeli bersedia membayarnya dapat ditambahkan dan dimana sebagian besar biaya benar-benar ditentukan. Meskipun tujuan langsung dalam biaya target (target costing) adalah biaya, namun biaya target (target costing) tetap dihubungkan dalam perencanaan perusahaan yaitu untuk memperoleh laba yang maksimal.
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1.    “Apakah penerapan konsep target costing dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi ?”
2.    “Apakah pendekatan target costing dapat meningkatkan perolehan  laba yang maksimal ?”

II.        PEMBAHASAN
1.    Pengertian Biaya
Dalam akuntansi di Indonesia terdapat istilah-istilah biaya, beban, dan harga perolehan yang identik dengan cost dalam literatur akuntansi berbahasa Inggris. Harga perolehan biasanya digunakan untuk pengorbanan manfaat ekonomis yang dilakukan untuk mendapatkan suatu aktiva. Termasuk dalam kelompok harga perolehan adalah harga beli dan pengorbanan lainnya yang dilakukan untuk mempersiapkan aktiva yang bersangkutan sampai siap digunakan. Istilah biaya umumnya digunakan untuk pengorbanan manfaat ekonomis untuk memperoleh jasa yang tidak dikapitalisir nilainya. Beban merupakan biaya yang tidak dapat memberikan manfaat di masa yang akan datang atau identik dengan biaya atau harga perolehan yang sudah habis masa manfaatnya. Berkenaan dengan batasan yang terakhir ini dimana terdapat biaya yang langsung diperlakukan sebagai beban dalam pelaporan keuangan konvensional, maka istilah biaya sering digunakan secara bergantian dengan istilah beban.
Hansen dan Mowen mengemukakan bahwa : “Biaya adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan membawa keuntungan masa ini dan masa datang untuk organisasi.”
Biaya dikeluarkan untuk menghasilkan manfaat di masa depan. Dalam perusahaan penghasil laba, manfaat di masa depan biasanya berarti pendapatan. Karena biaya digunakan dalam memperoleh pendapatan, biaya ini dimaksudkan untuk biaya yang digunakan disebut beban.
Berikut ini pengertian biaya dikemukakan oleh Sunarto bahwa biaya adalah harga pokok atau bagiannya yang telah dimanfaatkan atau dikonsumsi untuk memperoleh pendapatan. Sedangkan Muqodim  mengatakan bahwa : “biaya adalah aliran keluar atau penggunaan aktiva, atau terjadinya utang (atau kombinasi di antara keduanya) dari penyerahan atau produksi barang, penyerahan jasa atau pelaksanaan kegiatan utama suatu perusahaan.”
Dari definisi di atas dapat dijelaskan bahwa umumnya secara normal biaya terjadi karena kegiatan-kegiatan yang menyebabkan pengeluaran kas (atau pada akhirnya menyebabkan pengeluaran kas) yang berkaitan dengan usaha untuk menghasilkan pendapatan.
Selain itu Witjaksono mengemukakan bahwa : “biaya adalah suatu pengorbanan sumber daya untuk mencapai suatu tujuan tertentu “. Dengan perkataan lain, biaya sebagai satuan moneter atas pengorbanan barang dan jasa untuk memperoleh manfaat di masa kini atau masa yang akan datang, dan biaya atau cost adalah sama dengan pengorbanan sumber daya ekonomi (resources).
Mursyidi mengemukakan bahwa : “biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi baik yang berwujud maupun tidak berwujud yang dapat diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.” Dengan kata lain biaya merupakan suatu pengorbanan yang dapat mengurangi kas atau harta lainnya untuk mencapai tujuan, baik yang dapat dibebankan pada saat ini maupun pada saat yang akan datang.
Prawironegoro dan Purwanti menyatakan bahwa : “biaya adalah kas dan setara kas yang dikorbankan untuk memproduksi atau memperoleh barang atau jasa yang diharapkan akan memperoleh manfaat atau keuntungan dimasa mendatang.”
Biaya merupakan kas atau nilai setara dengan kas yang dikorbankan untuk barang dan jasa yang diharapkan dapat memberikan manfaat pada saat ini atau masa mendatang bagi organisasi, disebut setara dengan kas karena sumber daya non kas dapat ditukarkan dengan barang atau jasa yang dikehendaki.
2.    Klasifikasi Biaya
Klasifikasi biaya dapat dihubungkan dengan suatu proses produksi dalam perusahaan industri baik yang mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung, yaitu berhubungan dengan :
a.    Produk
b.    Volume produksi
c.    Departemen manufaktur
d.    Periode akuntansi
Biaya juga dapat diklasifikan menurut Mursyidi dalam hubungannya dengan operasi perusahaan, yaitu biaya operasional (biaya penjualan dan biaya administrasi umum) dan biaya non-operasional, artinya biaya yang telah dikeluarkan dan diperhitungkan namun tidak mempunyai hubungan langsung dengan usaha pokok perusahaan, misalnya biaya bunga untuk perusahaan industri manufaktur. Biaya juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tercapainya tujuan atau kesempatan, misalnya sunk cost opportunity cost, out of pocket cost, biaya diferensial, dan lainnya.
Berikut ini akan disajikan klasifikasi biaya yang sering dilakukan untuk menyajikan informasi biaya sebagaimana yang dikemukakan oleh Sugiri sebagai berikut :
1.    Klasifikasi biaya berdasarkan fungsi perusahaan
2.    Klasifikasi biaya berdasarkan perioda mempertemukannya dengan pendapatan
3.    Klasifikasi biaya berdasarkan dapat ditelusurinya ke obyek biaya
4.    Klasifikasi biaya berdasarkan hubungannya dengan perubahan volume kegiatan
5.    Klasifikasi biaya berdasarkan kemampuan manajer untuk mengendalikannya.
6.    Klasifikasi biaya berdasarkan pengambilan keputusan.
7.    Klasifikasi biaya berdasarkan dampak keputusan terhadap kas keluar.
3.    Pengertian Biaya Produksi
Untuk tujuan penyusunan laporan keuangan sesuai dengan fungsi perusahaan dan penyusunan laporan keuangan untuk kepentingan eksternal (production cost and financial reporting), biaya dapat dibedakan antara biaya produksi (yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
Sebagaimana diketahui bahwa biaya merupakan bagian dari harga pokok produksi yang dikorbankan dalam usaha untuk memperoleh penghasilan, sedangkan harga pokok dapat pula disebut dengan bagian dari pada harga pokok perolehan atau harga beli aktiva yang ditunda pembebanannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa biaya produksi adalah biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi.
Dalam kaitan dengan produksi dan biaya, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan. Pertama, kata produksi tidak hanya diartikan memproduksi barang dalam industri, melainkan lebih luas dari itu. Pengertian produksi mencakup produksi barang maupun memberikan jasa. Dengan begitu, perusahaan dagang juga melakukan proses produksi, yang terdiri dari pembelian, penyimpanan barang dagangan, pengemasan, penjualan, memberikan kredit penjualan, dan sebagainya. Kedua, dalam definisi di atas pengertian biaya tidak terbatas pada pengorbanan yang dinyatakan dalam rupiah (Rp), yang perlu dan tidak dapat dihindarkan. Jika membatasinya pada pengertian ini saja, akan menyimpang dari gambaran umum yang berlaku didunia usaha. Ketiga, harus membedakan dengan tajam antara biaya dan uang yang dikeluarkan. Berbicara mengenai biaya untuk alat-alat produksi yang dikorbankan dalam proses produksi. Sedangkan pengeluaran uang terjadi saat harga beli dari alat- alat produksi itu dibayarkan, walaupun masih belum dipakai dalam proses produksi by Sutrisno
Sebelum membicarakan masalah biaya produksi maka terlebih dahulu perlu dikemukakan pengertian tentang produksi itu sendiri. Secara umum pengertian produksi adalah kegiatan suatu organisasi atau perusahaan untuk memproses dan merubah bahan baku (raw material) menjadi barang jadi (finished goods) melalui penggunaan tenaga kerja dan fasilitas produksi lainnya.
Sutrisno mengemukakan bahwa : “ Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengolah bahan baku menjadi produk selesai.” Sedangkan Munawir mengungkapkan bahwa : “Biaya produksi (production cost) adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan pengolahan (manufacture) atau mengubah bahan baku menjadi barang yang siap jual atau dikonsumsi, maupun biaya pelaksanaan atau pemberian jasa/pelayanan.” Selain itu, Ahmad mengemukakan bahwa : ” Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu barang ”.
Biaya produksi merupakan biaya yang berkaitan dengan pembuatan barang dan penyediaan jasa. Biaya produksi dapat diklasifikasikan lebih lanjut sebagai biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Sedangkan biaya non produksi adalah biaya yang berkaitan selain fungsi produksi yaitu, pengembangan, distribusi, layanan pelanggan dan administrasi umum.
Selanjutnya menurut Garrison, Noreen, dan Brewer ”Biaya produksi dibagi ke dalam tiga kategori besar, yaitu: bahan langsung (direct material), tenaga kerja langsung (direct labor), dan biaya overhead pabrik (manufacturing overhead)”.
Sugiri mengemukakan bahwa biaya produksi pada perusahaan manufaktur terdiri atas unsur-unsur biaya sebagai berikut :
1. Bahan Baku
Bahan baku adalah bahan yang digunakan untuk membuat produk selesai. Bahan baku dapat diidentifikasikan ke produk dan merupakan bagian integral dari produk tersebut. Sebagai contoh adalah kayu yang digunakan untuk membuat daun pintu dan jendela, kertas yang digunakan untuk membuat buku, benang untuk membuat kain mori, dan kain mori yang digunakan untuk membuat baju. Bahan baku disebut juga bahan langsung, untuk membedakannya dari bahan lain yang nilainya relatif rendah. Bahan yang nilainya relatif rendah seperti paku dan dempul pada daun pintu dan jendela. lem untuk merekatkan kertas-kertas pada buku ini termasuk sebagai unsur overhead.
Biaya bahan baku bersama dengan biaya tenaga kerja langsung disebut biaya utama (prime cost). Bahan penolong (indirect materials) merupakan bahan yang dipakai dalam proses produksi yang tidak diidentifikasikan dengan produk jadi dan nilainya relatif kecil. Biaya yang timbul karena pemakaian bahan penolong disebut biaya bahan penolong. Biaya bahan penolong dipertimbangkan sebagai biaya overhead pabrik.
2. Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja langsung adalah tenaga yang langsung menangani proses produksi. Pembuat daun pintu dan jendela, operator mesin copy, penjahit dan tukang las, serta tukang batu adalah contoh tenaga kerja langsung. Mereka menangani langsung proses produksi dan karenanya dapat diidentifikasi ke produk. Gaji atau upah tenaga kerja langsung merupakan unsur biaya produksi.
Mandor yang tugasnya mengawasi para pekerja tidak termasuk dalam pengertian tenaga kerja langsung, karena tidak dapat diidentifikasi secara langsung ke produk tertentu. Apa yang dikerjakan oleh mandor pengawas bukanlah membuat produk, melainkan sekadar mengawasi para pekerja. Oleh karena itu, upah yang dibayarkan kepada mandor tidak termasuk upah langsung, melainkan upah tak langsung. Upah tak langsung diklasifikasi sebagai biaya overhead.
3. Overhead Pabrik
Biaya-biaya selain bahan baku dan tenaga kerja langsung yang diperlukan untuk memproduksi barang disebut biaya overhead pabrik (factory overhead atau manufacturing overhead atau factory burden). Hubungan biaya overhead terhadap produk adalah hubungan tak langsung. Oleh karena itu, biaya disebut juga biaya tak langsung.
Pada umumnya biaya overhead pabrik didefinisikan sebagai biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung, dan semua biaya-biaya produksi yang lain yang tidak dapat dengan mudah diidentifikasikan ataupun dibebankan secara langsung pada pesanan tertentu atau produk tertentu.
4.    Pengertian Target Costing
Pada bab ini akan dibahas mengenai sistem biaya berdasarkan sasaran atau yang dikenal dengan istilah ”Target costing”. Selintas sistem ini mirip dengan sistem biaya standar, namun sebenarnya tidak demikian. Sistem ini lebih kompleks dari sistem biaya standar.
Manfaat utama Target costing adalah penetapan harga pokok produk sebagai dasar penetapan harga sehingga target laba yang diinginkan akan tercapai. Berikut ini adalah ilustrasi singkat proses Target costing.
Gambar 1 Ilustrasi Target Costing

Manajemen menghitung biaya produksi yang memungkinkan tercapainya marjin laba yang diinginkan

Market Research Menentukan harga jual produk baru
 


Engineers dan cost Analysts mendesain suatu produk yang mungkin diproduksi pada biaya tersebut
 





Sumber : Witjaksono
Dari ilustrasi target costing di atas dapat dilihat perbedaan mendasar dalam penentuan harga pokok produk antara pendekatan target costing dengan pendekatan tradisional :


Sebelum dan selama produk design
Traditional Approach                          Target Cost Approach

1stDesign Product                              1st Set Sales Price
2nd Compute Cost                             2nd Set Profit

Setelah Product Design
3rd      Set Sales Price                         3rd Compute Target Cost
Profit or Loss                         4th Design Product

Dari ilustrasi di atas perbedaan mendasar antara pendekatan tradisional dan pendekatan target costing adalah dalam hal tahapan desain produk dan penetapan harga jual. Secara tradisional proses produksi dimulai dari desain produk barang/jasa, dilanjutkan menghitung harga pokok produk, kemudian penetapan harga jual tidak bisa di-dikte oleh perusahaan, alias sudah “given”. Contohnya saja adalah jasa foto copy, dimana harga jual pasar saat ini misalnya Rp.200/lembar ukuran kertas A4 70 gram. Bila pengusaha menjual dengan harga di atas Rp.200/lembar, tentu resikonya adalah tidak laku. Dalam kondisi demikian pengusaha dituntut agar dengan harga 200/lembar ia telah dapat mengantongi keuntungan yang memadai. Bagaimana caranya ? tentu saja dengan “menekan” biaya, alias menetapkan target biaya produksi.
Dari ilustrasi tersebut Target costing dapat didefinisikan menurut Witjaksonosuatu sistem dimana (1) penentuan harga pokok produk adalah sesuai dengan yang diinginkan (target) sebagai dasar penetapan harga jual produk yang akan memperoleh laba yang diinginkan, atau (2) penentuan harga pokok sesuai dengan harga jual yang pelanggan rela membayarnya.
Contohnya :
Sebuah perusahaan otomotif tengah mempetimbangkan meluncurkan varian sedan terbaru. Dengan spesifikasi yang ditetapkan dan pangsa pasar yang dibidik maka harga jual per unit sedan adalah Rp.250 juta. Bila laba yang diinginkan per unit adalah Rp.50 juta, maka target costing dihitung sebagai berikut :
Target cost = Rp.250 juta – 50 juta = Rp.200 juta
Supriyono mendefinisikan target costing adalah ”sistem untuk mendukung proses pengurangan biaya dalam tahap pengembangan dan perencanaan produk model baru tertentu, perubahan model secara penuh atau perubahan model minor”.
5.    Model Penerapan Target Costing
Perlu dipahami bahwa harga pokok produk tidak terlepas dari kegiatan
sepanjang rantai nilai (Value Chain).
Gambar 2 Rantai Nilai dan Target costing

R & D

DESIGN

MANUFAKTURING

MARKETING
AND DISRIBUTION

COSTOMER SERVICE

Semakin rendah cost design sebagai suatu tujuan definitive yang tampaknya dapat diwujudkan kerap memacu motivasi karyawan
 








TARGET COSTING
Sumber : Witjaksono









Proses penetapan target costing hingga penetapan harga dapat diuraikan dalam model berikut :
Gambar 3 Target Costing Model

Target – Costing Model

Market Share Objective



Target Price




Target Profit



Target cost


Product and Process Design



Target cost tercapai

Produksi Produk

Market Share Functionality

 

















Sumber : Witjaksono
6.    Prinsip-Prinsip Penerapan Target Costing
Target costing adalah suatu proses yang sistematis yang menggabungkan manajemen biaya dan perencanaan laba. Perhitungan biaya target (target costing) menjadi suatu pendekatan khusus yang berguna untuk pembuatan tujuan penurunan biaya. Proses ini menganut prinsip-prinsip sebagai berikut:
Gambar 3 Prinsip-Prinsip Penerapan Target costing

KEY
PRINCIPLES
OF TARGET
COSTING

Price led costing

Life-cycle costs

Fokus Pada Product
design

Fokus Pada pelanggan

Fokus Pada Product
design

Value chain orientation

Cross-functional team
 









Sumber : Witjaksono
Menurut Witjaksono proses penerapan target costing menganut prinsip-prinsip sebagai berikut:
1)    Harga menentukan biaya (Price Led Costing)
2)    Fokus pada pelanggan
3)    Fokus pada desain produk dan desain proses
4)    Cross Functional Team
5)    Melibatkan Rantai Nilai
6)    Orientasi daur hidup produk.
Selanjutnya keenam prinsip-prinsip penerapan biaya target (target costing) tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Harga menentukan biaya (Price – Led Costing)
Persaingan yang semakin ketat dan kompetitif membuat penetapan harga jual produk bukan hal gampang. Harga jual kerap ditentukan oleh pasar, sehingga harga pasar (market price) digunakan untuk menentukan target biaya dengan formula berikut :
Target biaya = Harga pasar – Laba kotor yang diinginkan
2.    Fokus pada pelanggan
Kehendak atau kebutuhan pelanggan akan kualitas, biaya dan fungsi (functionality) secara simultan terdapat dalam produk dan dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan desain dan perhitungan harga pokok produk. Bagi pelanggan manfaat atas fitur dan fungsi yang ditawarkan oleh produk harus lebih besar dari biaya perolehannya (alias harga jual dari sisi pandang pengusaha).
3.    Fokus pada desain produk dan desain proses
Pengendalian biaya ditekankan pada tahapan desain produk dan tahapan desain proses produksi. Dengan demikian setiap perubahan atau rekayasa harus dilakukan sebelum proses produksi, dengan tujuan menekan biaya dan mengurangi waktu “ time to market ” terutama bagi produk baru.
4.    Cross Functional Team
Tim/kelompok ini bertanggungjawab atas keseluruhan produk, dimulai dari ide/konsep produk hingga tahapan produksi penuh.
5.    Melibatkan rantai nilai
Seluruh anggota yang terlibat dalam rantai nilai, dimulai dari pemasok barang / jasa, distributor, hingga pelanggan dilibatkan dalam proses target costing.
6.    Orientasi daur hidup produk
Meminimalkan biaya selama daur hidup produk, diantara harga, bahan baku, biaya operasi, pemeliharaan, dan biaya distribusi.
7.    Asumsi Dasar Target Costing
Target costing sangat mungkin sesuai bagi perusahaan yang Price Taker dalam suatu pasar yang heterogen, dimana kompetisi menentukan harga jual produk barang/jasa, yang ditandai dengan kharakteristik antara lain :
1.    Umumnya tidak layak atau tidak ada kehendak untuk menawarkan produk dengan harga yang tak terjangkau oleh para kompetitor. Bila perusahaan menawarkan produk yang tak tersaingi maka persaingan ”potong leher” oligopolistik akan muncul.
2.    Keunggulan spesifik suatu perusahaan akan menentukan arah dalam melakukan deferensiasi produk baru dari yang telah ada di pasaran, misalnya :
a.    Cost Advantage produk yang sama/serupa namun dengan harga yang lebih murah
b.    Penambahan fungsi, misalnya dengan tambahan fitur baru dengan harga yang kompetitif.
8.    Kendala Menerapkan Target Costing
Dari uraian di atas dapat dibayangkan bahwa penerapan target costing ternyata tidak mudah. Berikut ini adalah kendala yang kerap dikeluhkan oleh perusahaan yang mencoba menerapkan target costing.
1.    Konflik antar kelompok dan atau antar anggota kelompok
2.    Karyawan yang mengalami burnout karena tuntutan target penyelesaian pekerjaan
3.    Target waktu penyelesaian yang terpaksa ditambah
4.    Sulitnya melakukan pengaturan atas berbagai faktor penentu keberhasilan target costing.
Dengan demikian sangat disarankan bagi perusahaan yang tertarik untuk menerapkan target costing memperhatikan hal-hal berikut :
1.    Manajemen puncak harus memahami proses target costing sebelum mengadopsinya.
2.    Apabila perhatian manajemen terlalu terpaku pada pencapaian sasaran target costing, maka dapat mengalihkan perhatian dari manajemen mengenai pencapaian sasaran keberhasilan organisasi secara keseluruhan.
9.    Penelitian Terdahulu
F. Agung Himawan 2009, “Analisis Penerapan Target Costing Dalam Penetapan Harga Bandwidth Dedicated Untuk Mengoptimalkan Perencanaan Laba (Studi Kasus Pada PT Generasi Indonesia Digital)” hasil penelitian ini menunjukan Penerapan metode target costing  melalui proses efisiensi biaya untuk produk bandwidth dedicated   pada PT Generasi Indonesia Digital dapat dilakukan. Mulai dari menganalisa proses produksi, dilanjutkan dengan menganalisa harga pasar, pada tahapan ini dilakukan perbandingan antara harga GENID dengan harga pesaing, perbedaan harga berkisar antara 2,5% sampai 15%, harga yang dimiliki GENID ada pada rata-rata. Sebelum penerapan target costing dilakukan perhitungan laba target dan menghasilkan target profit sebesar 7%, dari angka tersebut dilanjutkan dengan menghitung target costing dilanjutkan dengan perhitungan drifting cost, terdapat selisih antara keduanya sebesar Rp. 141.941.310,- artinya perusahaan masih dapat melakukan efisiensi biaya. Dengan penerapan target costing melalui efisiensi biaya, menyebabkan penurunan biaya produksi dan memungkinkan perusahaan untuk menetapkan biaya target yang lebih rendah daripada biaya yang diperkirakan akan terjadi. Target Costing yang mungkin diterapkan pada PT Generasi Indonesia Digital dapat mengoptimalkan laba produk bandwidth dedicated dengan menghasilkan laba operasi sebesar Rp. 117,660,863,- dengan persentase laba meningkat dari 0,03% menjadi 5,8% setelah menerapkan metode target costing melalui efisiensi biaya.
Yuliana Adityaningsih 2011, Dengan judul penelitian “Analisis Pendekatan Target Costing Dalam Rangka Meningkatkan Efisiensi Biaya Produksi Pada PT XYZ Di Makassar” menunjukan bahwa Hasil analisis perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan menurut target costing menunjukkan bahwa total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk tahun 2006 sebesar Rp 67.361.500.000 sedangkan menurut target costing sebesar Rp 66.963.711.090 dan untuk tahun 2007 menurut perusahaan sebesar Rp 68.876.950.200 sedangkan menurut target costing sebesar Rp 68.446.134.320. dan Berdasarkan hasil analisis mengenai penerapan target costing yang menunjukkan bahwa pelaksanaan target costing pada PT Sermani Steel jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan yang dilakukan perusahaan selama ini, dimana dengan penerapan target costing maka perusahaan dapat memperoleh penghematan biaya, yaitu untuk tahun 2006 sebesar Rp 397.788.910 dan tahun 2007 sebesar Rp 430.815.880.
Arwina Novieanti Alimuddin 2012, Dengan Penelitian “Analisis Pendekatan Target Costing Sebagai Alat Penilaian Efisiensi Produksi Semen Pada Pt. Semen Tonasa Di Kabupaten Pangkep” Hasil analisis perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan menurut target costing, menunjukkan bahwa total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk tahun 2008 sebesar Rp.334.864,13, sedangkan menurut target costing sebesar Rp.292.451,22, tahun 2009 menurut perusahaan sebesar Rp.360.842,55 sedangkan menurut target costing sebesar Rp.315.630,25. Sedangkan pada tahun 2010 sebesar Rp. 372.534,92 dan menurut target costing sebesar Rp.333.112,-  Berdasarkan hasil analisis mengenai penerapan target costing, yang menunjukkan bahwa penerapan target costing pada PT. Semen Tonasa lebih efisien jika dibandingkan dengan yang dilakukan oleh perusahaan selama ini, dimana dengan penerapan target costing maka perusahaan dapat memperoleh penghematan biaya. Hal ini dapat dilihat bahwa untuk tahun 2008 sebesar Rp.285.983.313.802, tahun 2009 terjadi penghematan sebesar Rp. 300.054.591.595, dan pada tahun 2010 sebesar Rp.350.328.972.065.
III.        Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain:
1.    Diharapkan dari Hasil analisis perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan menurut target costing, menunjukkan bahwa total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan jauh lebih besar sedangkan menurut target costing jauh lebih efisien dengan perbandingan total biaya yang cukup singnifikan dimana pada perusahan yang menerapkan konsep target costing jauh lebih efisien dalam proses produksinya hal ini di dukung dan dapat dilihat dalam penelitian yang telah dilakukan.
2.    Meskipun tujuan langsung dalam biaya target (target costing) adalah biaya, namun biaya target (target costing) tetap dihubungkan dalam perencanaan perusahaan yaitu untuk memperoleh laba yang maksimal. Artinya dengan semakin efisiennya perusahan dalam proses produksi di harapkan dapat meningkatkan perolehan laba.
Saran
Adapun saran-saran dari hasil makalah ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1)    Disarankan kepada perusahaan agar menerapkan target costing sebagai alat perencanaan laba dalam proses produksinya.
2)    Disarankan pula agar perusahaan perlu lebih memperhatikan masalah efisiensi dalam penggunaan biaya produksi dan juga dengan adanya efisiensi perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain.

DAFTAR PUSTAKA

Thomson 2006, Akuntansi Biaya  Buku 1, Edisi Ke Tiga Belas Peneribit Salemba Empat, Jakarta 

Garrison, H. Ray; Eric W. Noreen; dan Peter C. Brewer. 2006, Akuntansi Manajerial, (terjemahan: A. Totok Budisantoso), Buku I, Edisi Kesebelas, Penerbit : Salemba Empat, Jakarta

Hansen dan Mowen, 2000, Manajemen Biaya Akuntansi dan Pengendalian, Edisi Pertama, Penerbit: Salemba Empat, Jakarta

Witjaksono, 2006, Akuntansi Biaya, Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Penerbit : Graha Ilmu, Yogyakarta

F. Agung Himawan 2009, “Analisis Penerapan Target Costing Dalam Penetapan Harga Bandwidth Dedicated Untuk Mengoptimalkan Perencanaan Laba (Studi Kasus Pada PT Generasi Indonesia Digital)”

Yuliana Adityaningsih 2011, Dengan judul penelitian “Analisis Pendekatan Target Costing Dalam Rangka Meningkatkan Efisiensi Biaya Produksi Pada PT XYZ Di Makassar”

Arwina Novieanti Alimuddin 2012, Dengan Penelitian “Analisis Pendekatan Target Costing Sebagai Alat Penilaian Efisiensi Produksi Semen Pada Pt. Se

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar