Selasa, 05 Maret 2013

Struktur Penerimaan dan Pengeluaran


1. Penerimaan
Menurut M. Suparmoko (2000), sumber-sumber penerimaan pemerintah
pada intinya dapat digolongkan antara lain sebagai berikut:
a. Pajak,
yaitu pembayaran dari rakyat kepada pemerintah yang dapat dipaksakan
tanpa balas jasa atau imbalan langsung, misalnya: pajak penghasilan, pajak
kendaraan bermotor, pajak bumi dan bangunan, pajak penjualan,
b. Retribusi,
yaitu pembayaran dari rakyat kepada pemerintah dimana dapat dilihat
hubungan antara uang yang dibayarkan dengan imbalan yang diperoleh,
misalnya: retribusi listrik, retribusi Perusahaan Air Minum (PAM),
c. Keuntungan dari perusahaan negara,
yaitu penerimaan dari penjualan barang dan jasa yang dilakukan oleh
perusahaan milik negara,
d. Denda-denda dan perampasan yang dilakukan oleh pemerintah,
e. Sumbangan masyarakat atas jasa-jasa yang diberikan oleh pemerintah,
misalnya: sumbangan untuk biaya perijinan (lisensi),
f. Pencetakan uang,
yaitu hak monopoli pemerintah untuk mencetak uang, baik dilakukan sendiri
oleh pemerintah atau meminta bantuan Bank Sentral.
g. Hibah dan pinjaman baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar
negeri,
h. Hadiah,
yaitu hadiah yang diterima dari pemerintah daerah, swasta, atau dari
pemerintah negara lain.

2. Pengeluaran
Menurut M. Suparmoko (2000), pengeluaran pemerintah dapat digolongkan
sebagai berikut:
a. Pengeluaran yang “self-liquiditing”,
artinya pemerintah menerima kembali pembayaran dari masyarakat atas
pengeluaran yang telah dikeluarkannya, baik pengembalian itu sebagian atau
seluruhnya. Misalnya: pengeluaran untuk proyek produktif barang ekspor
b. Pengeluaran yang reproduktif,
artinya pengeluaran yang memberikan keutungan ekonomis bagi masyarakat,
yang berbentuk kenaikan penghasilan, dengan naiknya penghasilan berarti
naik pula obyek pajak, sehingga penerimaan pemerintah juga akan naik.
Misalnya: pengeluaran untuk pengairan, pertanian
c. Pengeluaran yang tidak “self-liquiditing” dan tidak pula reproduktif,
Yaitu pengeluaran yang menambah kegembiraan bagi masyarakat, misalnya
pengeluaran untuk bidang rekreasi, pendirian monumen, obyek rekreasi
d. Pengeluaran yang tidak produktif dan merupakan pemborosan,
Yaitu pengeluaran untuk membiayai pertahanan atau perang, meskipun pada
saat pengeluaran akan menambah penghasilan bagi perorangan atau
perusahaan yang terlibat dalam peperangan.
e. Pengeluaran yang merupakan penghematan untuk masa yang akan datang,
Yaitu pengeluaran yang perlu dilakukan masa sekarang untuk mencegah
timbulnya masalah di masa mendatang, dimana jika masalah itu timbul akan
mememerlukan penanganan dengan biaya mahal. Misalnya: pengeluaran
untuk anak yatim piatu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar