Kamis, 07 Februari 2013

Teori proses persepsi


Menurut Daft, proses persepsi yang dialami setiap orang akan melalui tahap-tahap sebagai berikut (2003:486):
1.         Observasi informasi yang berasal dari lingkungan lewat panca  indera: perasa, pembau, pendengaran, penglihatan dan peraba.
2.         Otak akan menyaring data dan memilih data-data yang akan diproses lebih lanjut.
3.         Data-data yang terpilih tersebut akan diorganisir sedemikian rupa sehingga mempunyai suatu pola yang memiliki arti untuk kemudian diinterpretasikan dan direspon.

Teori atribusi Kelley (Zachary dan Kuzuhara, 2005:25) menjelaskan mengenai proses persepsi dimana seseorang memberikan suatu pendapat atau atribusi mengenai penyebab perilaku orang lain, yang terdiri atas dua tipe, yaitu:
1.         Atribusi Internal
Atribusi internal terjadi ketika seseorang mempersepsikan bahwa penyebab perilaku orang lain adalah situasi yang berkaitan dengan berbagai aspek dari orang tersebut seperti personaliti, keahlian, kemampuan, motivasi, intelejensi dan sebagainya.
2.         Atribusi Eksternal
Atribusi eksternal terjadi ketika seseorang mempersepsikan bahwa   penyebab perilaku orang lain berkaitan dengan hal-hal seperti ketidak beruntungan, waktu, masalah yang tidak terduga dan sebagainya.

Apakah seseorang membuat atribusi internal atau eksternal terhadap suatu situasi tertentu, dipengaruhi oleh hal-hal berikut (Zachary dan Kuzuhara, 2005:25):
1.         Consistency, yaitu seberapa sering seseorang bertindak dengan cara ini dimasa lalu? High consistency berarti seseorang bertindak dengan cara yang sama dimasa lalu terhadap situasi yang sama. Low consistency terjadi ketika seseorang yang bertindak dengan cara tertentu disuatu situasi tertentu tidak bertindak dengan cara yang sama terhadap situasi yang sama lainnya.
2.         Distinctiveness, yaitu seberapa sering seseorang bertindak dengan cara ini pada situasi yang berbeda? High distinctiveness berarti seseorang bertindak dengan cara yang sama  terhadap situasi lainnya. Low distinctiveness terjadi ketika seseorang tidak berlaku dengan cara yang sama terhadap situasi yang berbeda.
3.         Consensus, yaitu seberapa sering seseorang bertindak dengan cara yang sama terhadap situasi yang sama? High consensus terjadi ketika seseorang bertindak dengan cara yang sama ketika mereka mengahadapi situasi yang serupa. Low consensus terjadi ketika seseorang  tidak bertindak dengan cara yang sama ketika ia menghadapi situasi yang serupa.

Berdasarkan teori atribusi, maka seseorang akan membuat atribusi internal ketika situasi yang dipersepsikannya adalah high consistency, high distinctiveness dan low consensus. Sebaliknya, seseorang akan membuat atribusi eksternal ketika situasi yang dipersepsikannya low consistency, high distinctiveness dan high consensus.
Setiap orang mempunyai cara pandang yang berbeda terhadap dunia disekitarnya. Persepsi dipengaruhi oleh harapan kita terhadap sesuatu dan apa yang kita yakini. Dalam banyak kasus, hal ini bukan mengenai pendapat seseorang benar dan yang lainnya salah, melainkan hanya karena anda memandang dunia secara berbeda.
Persepsi berpengaruh dalam pengambilan keputusan dalam organisasi. Pengambilan keputusan terjadi sebagai reaksi terhadap suatu masalah. Setiap keputusan menuntut penafsiran dan evaluasi terhadap informasi. Proses perseptual dari pengambil keputusan individual akan mempunyai hubungan yang besar pada hasil akhirnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar