Jumat, 22 Februari 2013

Pos-Pos Yang Dimaksudkan Dalam Persediaan


          Pos-pos dalam persediaan menurut Jay M Smith K. Fred Skousen (1998: 327), sebagai berikut persediaan barang dagang yaitu pada umurnya diterapkan untuk barang-barang yang dimiliki oleh perusahaan dagangan baik perusahaan dagang eceran, apabila barang tersebut diperoleh dalam keadaan yang siap untuk dijual kembali.
       Kelompok-kelompok persediaan, yaitu :
             - Bahan baku
             - Barang dalam proses
           Pos-pos yang dimaksudkan dalam persediaan, yaitu :
1.  Barang dalam perjalanan
 Jika syarat penjualan adalah prangko gudang penjual (Free On Board), shipping point hak atas barang dipindahkan kepada pembeli ketika barang  ketika akan diangkut. Dengan persyaratan, maka pemesanan aturan hukum atau pengiriman pada akhir tahun akan memerlukan pencatatan penjualan dan penurunan persediaan dalam pembukuan penjual.
         Jika syarat penjualannya prangko gudang pembeli FOB (Free On Board) destinastion, maka penerapan aturan huklum tidak memerlukan pengakuan transaksi sebelum barang diterima pembeli.    
2.    Barang konsinyasi
Barang konsinyasi selayaknya dilaporkan sebesar biaya (harga pokoknya dan biaya penanganan serta biaya pengangkutan yang terjadi dalam pentransferannya kepada  konsinyasinya.
3.    Penjualan bersyarat cicilan (conditional and installment sales)
Kontak penjualan bersyarat dan penjualan cicilan dapat mempersyaratkan penahanan hak oleh penjual sampai  harga jual dilayar seluruhnya.                 
1. Penetapan Biaya (Harga Pokok) Persediaan
          Barang-barang yang dimasukkan sebagai persediaan di identifikasikan sebagai kesiapan yang harus menetapkan nilai Dollar/ rupiah atas unit fisiknya oleh Roger G. Schroeder (1998 : 34). Unsur - unsur yang membentuk (harga pokok), untuk mencapai suatu pertimbangan bagaimana menetapkan porsi biaya historis yang ditahan sebagai jumlah persediaan yang dilaporkan di neraca dan jumlah yang dibebankan atas pendapatan periode berjalan.
2. Perbandingan Berbagai Metode Alokasi Biaya Persediaan
               D. Hartanto, (2001 : 12), dengan menggunakan metode First in First Out (FIFO), persediaan dilaporkan pada neraca kira-kira sebesar harga pokok saat itu. Dengan Last-In First-Out (LIFO), persediaan yang tidak banyak berubah kuantitasnya dengan jumlah yang kira-kira tetap seperti dulu yang dikaitkan dengan pembelian. Penggunaan metode rata-rata pada umumnya menghasilkan nilai persediaan barang yang sangat diperhatikan dengan nilai First In First Out, di samping itu pembelian barang selama suatu periode biasanya disebut Last ini First Out. Oleh karena pembelian selama suatu periode biasanya dalam  beberapa kali, karena persediaan awal dan biaya rata-rata amat dipengaruhi oleh biaya periode berjalan.                                                                                                    
3. Metode Persediaan Eceran (Retail inventory method)
             Metode ini dipakai secara luas perusahaan yang  menjual secara eceran terutama toko serba ada (to serba) guna memperoleh estimasi yang handal posisi persediaan setiap kali hal itu diinginkan oleh Farid Jahidin (1998 : 17).
          Persentase harga pokok dihitung dengan membagi barang  yang tersedia untuk dijual menurut harga eceran. Prosentase harga dikalikan dengan persediaan akhir menurut harga eceran.
1.   Keunggulan penggunaan metode persediaan  eceran  sebagai berikut :
     a. Estimasi, persediaan  intern  dapat  diperoleh  tanpa harus melakukan perhitungan fisik.
     b. Jika perhitungan fisik benar dilakukan untuk tujuan penyajian laporan keuangan periodik, dapat dilakukan dengan menggunakan harga eceran kemudian konversinya ke dalam harga pokok tanpa perlu mengacu kepada pokok dan faktor masing-masing sehingga menghemat waktu dan biaya.
   c.  Barang  yang hilang  pada  saat  orang  berbelanja di hitung dan dipantau. Karena hasil perhitungan fisik persediaan harus sama dengan persediaan menurut harga eceran yang dihitung, maka segala perbedaan yang tidak dapat mengakibatkan pencatat di dalam pembukuan perusahaan.
2.     Mark Up dan Mark Down (eceran yang lazim)
6        Harga eceran semula harga jual semula, yang mencakup permulaan di atas biaya (harga pokok) yang disebut "mark-on" atau "mark up" permulaan.
7        Mark up tambahan yang menaikkan harga jual di atas, harga eceran semula.
8        Pembatalan mark up pengurangan mark up yang tidak menurunkan harga jual sampai dibawah harga eceran semula.
9        Mark up bersih dan mark up dapat tambahan dikurangi pembatalan mark up.
10    Mark down penurunan harga dibawah harga eceran semula
11    Pembatalan mark down pengurangan mark down yang tidak menaikkan harga jual di atas harga eceran semula.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar