Selasa, 05 Februari 2013

Jenis-jenis dan Penentuan Besarnya Modal Kerja


1.  Jenis-jenis Modal Kerja
                  Bambang Riyanto, Dasar-dasar Pebelanjaan Perusahaan (1999:175)  membedakan  jenis-jenis  modal  kerja yaitu :
         a.  Modal  kerja  asing  atau  hutang adalah modal yang berasal dari luar  perusahaan yang sifatnya sementara bekerja di dalam perusahaan  dan bagi perusahaan yang bersangkutan modal tersebut  merupakan  "hutang",  yang  pada saatnya harus dibayar kembali.
              Modal kerja asing  atau  hutang dibagi atas tiga golongan  yaitu :
              1) Modal kerja asing atau hutang jangka pendek (short term debt),  yaitu  jangka  waktunya pendek, kurang dalam satu tahun terdiri dari :
                   a)  Kredit rekening koran.
                   b)  Kredit dari penjual.  
                   c)   Kredit dari pembeli dan
                   d)  Wesel.
         2) Modal kerja asing atau hutang jangka menengah (inter mediate term debt),  yaitu hutang yang jangka waktunya  atau umurnya lebih dari satu tahun.
               3) Modal kerja asing atau hutang jangka panjang (long term debt) umumnya  lebih dari sepuluh tahun terdiri  dari :
                   a)  Pinjaman obligasi.
                   b)  Pinjaman hipotik.
         b.  Modal kerja sendiri adalah modal kerja yang berasal dari pemilik (dari dalam) perusahaan atau sumber intern yang tertanam untuk waktu   yang tidak tertentu lamanya, berupa keuntungan yang dihasilkan  oleh perusahaan dan modal kerja sendiri yang berasal dari luar  perusahaan atau sumber ekstern yaitu modal yang berasal dari pemilik perusahaan terdiri dari :        
1)    Modal saham adalah tanda bukti pengambilan bagian atau  peserta dalam suatu perusahaan saham tersebut dapat berupa saham  biasa (commond stock), saham preferen (preferren stock) dan saham preferen  kumulatif (commulative preferren stock).
             2) Cadangan yang dimaksud adalah merupakan cadangan yang       dibentuk dari keuntungan yang didapat oleh perusahaan       selama beberapa periode yang telah lalu atau dari  tahun sedang berjalan antara lain : cadangan espansi, cadangan modal,  cadangan selisih kurs dan cadangan umum.
       3)  Keuntungan atau laba ditahan adalah keuntungan yang diperoleh  suatu perusahaan yang mana sebagian dibayar sebagai devident dan sebagian ditahan oleh perusahaan, akan tetapi apabila perusahaan belum mempunyai tujuan tertentu mengenai  penggunaan keuntungan, maka keuntungan tersebut merupakan keuntungan yang ditahan.  
         2.  Penentuan Besarnya Modal Kerja
                  Djarwanto, Pokok-pokok Analisa Laporan Keuangan (2002:89) menyatakan bahwa penentuan besarnya modal kerja sebagai berikut :
        a.  Sifat umum atau tipe perusahaan
             Modal kerja yang dibutuhkan perusahaan jasa (public  utility) relatif rendah karena investasi dalam persediaan dan piutang pencairannya menjadi kas relatif cepat. Untuk beberapa perusahaan jasa tertentu malahan langganan membayar dimuka sebelum jasa dinikmati, misalnya jasa transport kereta api, bus malam, pesawat  udara, kapal laut. Proporsi modal kerja dari total aktiva, pada perusahaan jasa, relatif kecil.
   b.  Waktu   yang   diperlukan   untuk   memprodusir   atau  mendapatkan barang dan ongkos produksi perunit/harga beli perunit barang itu. Jumlah modal kerja berkaitan langsung dengan waktu yang dibutuhkan mulai dari bahan baku atau barang jadi dibeli sampai barang-barang  mulai dijual kepada langganan. Makin panjang waktu yang diperlukan untuk memproduksi barang atau untuk memperoleh barang makin besar kebutuhan akan modal kerja. Modal kerja bervariasi tergantung pada volume pembelian dan harga beli perunit dari barang yang dijual.
c.  Syarat pembelian dan penjualan
              Syarat kredit pembelian barang dagangan atau bahan baku akan mempengaruhi besar kecilnya modal kerja. Syarat kredit pembelian yang mengungtungkan akan memperkecil kebutuhan  uang kas yang harus ditanamkan dalam persediaan, sebaiknya bila pembayaran harus dilakukan segera setelah barang diterima maka kebutuhan uang kas untuk membelanjai volume perdagangan menjadi lebih besar.
d.  Tingkat perputaran persediaan
              Semakin sering persediaan diganti (dibeli dan dijual kembali) maka kebutuhan modal kerja yang ditanamkan dalam bentuk persediaan (barang) akan semakin rendah. Untuk mencapai tingkat perputaran persediaan yang tinggi diperlukan perencanaan dan pengawasan persediaan yang efisien.
e.  Tingkat perputaran piutang
              Kebutuhan modal kerja juga tergantung pada periode waktu yang diperlukan untuk mengubah piutang menjadi uang kas. Bila piutang terkumpul dalam waktu pendek berarti kebutuhan akan modal kerja menjadi semakin rendah/kecil.

f.   Pengaruh konjungtur (business cycly)
              Pada  periode makmur  (prosperty)  aktivitas  perusahaan meningkat 
             dan perusahaan cenderung membeli barang-barang lebih banyak memanfaatkan harga yang masih rendah. Ini berarti perusahaan memperbesar tingkat persediaan.
        g.  Derajat  resiko  kemungkinan  menurunnya  harga  jual  aktiva jangka pendek.
             Menurunnya nilai rill dibanding dengan harga buku dari surat-surat berharga, persediaan barang, dan piutang akan menurunkan modal kerja. Bila resiko kerugian ini semakin besar berarti diperlukan tambahan modal kerja untuk membayar bunga atau melunasi hutang jangka pendek yang sudah jatuh tempo.
h.  Pengaruh musim
              Banyak perusahan dimana-mana penjualannya hanya terpusat pada beberapa bulan saja. Perusahaan yang dipengaruhi oleh musim membutuhkan jumlah maksimum modal kerja untuk periode yang relatif pendek.
i.  Credit rating dari perusahaan
             Jumlah modal kerja, dalam bentuk kas termasuk surat-surat berharga yang dibutuhkan perusahaan untuk membiayai operasinya tergantung pada kebijaksanaan penyediaan unag kas.

                  Bambang Riyanto, Dasar-dasar Pebelanjaan Perusahaan (1999:198) menyatakan bahwa penentuan besarnya modal kerja ada 2 (dua) faktor sebagai berikut :
         a.   Pengeluaran kas rata-rata setiap hari
              Kas adalah  merupakan  alat   yang   mempunyai  penggunaan yang    
              tinggi karena   dengan   tersedianya  kas,   maka   akan    membiayai   
              kewajiban-kewajiban,   setiap    harinya    seperti    untuk    keperluan
              pembelian bahan mentah, bahan penolong, upah buruh dan apa    saja yang dapat   memenuhi   segala  kewajiban  perusahaan. Hal ini tidak berarti  bahwa  perusahaan   harus  mempunyai  simpanan  kas yang tinggi.  Karena  dengan  demikian berarti hanya mengutamakan 
              kepentingan faktor likuiditas, tetapi akan menekan rentabilitas             perusahaan dilain pihak ada keharusan untuk menahan jumlah         minimal pada kas supaya perubahan dapat memenuhi kewajiban-   kewajibannya dengan baik. Persediaan minimal adalah apa yang disebut demgan persediaan bersih kas.
              Adapun besarnya persediaan bersih kas tergantung dari : 
               1)  Sifat   transaksi    komersial    dan   keuangan,   yaitu   bagaimana pembelian bahan dan penjualan hasil akhir  dilakukan,  misalnya  dengan tunai atau kredit.            
                   Bila transaksi dilakukan dengan tunai, maka tidak perlu persediaan kas yang tinggi. Begitu pula dengan sering tidaknya   transaksi keuangan (penerimaan/pembayaran) akan berpengaruh terhadap bersihnya kas.
              2)  Selisih antara   penerimaan  dan  pengeluaran,    besar   kecilnya 
                   selisih  antara  penerimaan  dan  pengeluaran   kas    dalam  satu
                   periode tertentu, menentukan pula suatu tingkat persediaan bersih kas.
b.  Priode  perputaran  dan  terikatnya modal kerja, yaitu perputaran dari 
        piutang ke kas hanya memerlukan satu tingkat saja. Untuk   mengukur periode perputaran dari piutang dapat dihitung dengan rumus :
                                                      Penjualan Kredit
              Perputaran Piutang   =  ¾¾¾¾¾¾¾¾¾  x 1kali
                                                     Piutang Rata-rata     
Makin tinggi tingkat perputarannya berarti bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang tersebut makin banyak berputar dalam  satu periode. Pada transaksi penjualan dengan kredit tertentu, berarti  makin tinggi turnover, juga  akan  berarti  bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang adalah sedikit, disamping itu  perusahaan  harus menahan sejumlah piutang sebagai penjualan  kredit untuk dapat memelihara transaksi normalnya yang merupakan inti dari  permanent kebutuhan modal kerja, piutang yang ditanam dalam piutang.
   Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan besarnya piutang bersih, yaitu :
              1)  Syarat pembayaran dari penjualan kredit
                   Biasanya dinyatakan dalam term 2/10 n/30, artinya pembayaran dinyatakan dalam waktu 10  hari  sesudah persyaratan barang.
              2)  Kebiasaan para langganan dalam pembayaran
                   Apabila menurut pengalaman banyak yang membayar dalam    waktu yang telah ditentukan untuk mendapatkan cash discount, maka persediaan bersih piutang di atas waktu untuk mendapatkan cash discount.
     3)  Sifat dan kesediaan para pelanggan dalam membayar hutangnya, sebab sering terjadi langganan yang mampu, tetapi segan memenuhi kewajibannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar