Senin, 04 Februari 2013

Biaya Modal Sendiri


Dalam perusahaan terdapat dua cara dalam memperoleh modal sendiri yaitu : (1) laba ditahan dan (2) mengeluarkan saham baru. Biaya modal saham biasa dan laba ditahan sering disatukan menjadi biaya modal sendiri (biaya ekuitas) atau kadang-kadang disebut biaya modal saham biasa saja merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan yang memperoleh dana dengan menjual saham biasa atau mengunakan laba ditahan untuk investasi. Laba yang ditahan oleh perusahaan kemudian digunakan untuk investasi di dalam perusahaan. Laba ditahan yang digunakan oleh perusahaan untuk investai tersebu perlu diperhitungkan biaya modalnya.
Dengan demikian manajemen dapat membagikan laba setelah pajak yang diperoleh sebagai deviden atau menahannya sebagai laba ditahan. Jika laba tersebut ditahan, maka secara teoritis perusahaan harus memperoleh keuntungan paling tidak sebesar tingkat keuntungan jika pemegang saham menginvestasikan sendiri dalam investasi lain yang memiliki tingkat resiko yang sama. Ini mudah dipahami karena laba setelah pajak itu adalah hak para pemegang saham.
Secara teoritis biaya laba ditahan jauh lebih rendah dari pada biaya modal yang berasal dari saham baru. Hal ini disebabkan kerena dalam penjualan saham baru biasanya terdapat biaya emisi atau flotation cost yang harus ditanggung perusahaan. Dengan demikian perusahaan akan menerima kas yang kecil dari pada harga jual saham baru.
Menurut Martono dalam bukunya Manajemen Keuangan (2004:207) mengatakan bahwa biaya modal laba ditahan sama dengan biaya modal dari saham biasa cara menghitung dengan mendiskontokan deviden atau dengan cara CAPM (capital Asset pricing Model). Kalau mengguanakan pendekatan CAPM kita bisa mengunakan rumus sebagi berikut :
Ri = Rf+(Rm-Ri)bi`
Dimana :
Ri    : Tingakat return saham yang diharapkan
Rf    : Tingkat return bebas resiko
Rm   : Return portofolio pasar yang diharapkan
bI     : Koefisien beta saham i
Menurut Agus Sartono dalam bukunya Manajemen Keuagan (1998:233) mengatakan bahwa untuk menghitung biaya modal dari saham baru adalah :
Ke =             + g
Dimana :
D    : Deviden
Pnet : Penerimaan Bersih Perlembar Saham
G   : Perumbuhan Deviden
A.   Biaya Modal Keseluruhan
Biaya modal secara keseluruhan merupakan biaya modal yang memperhitungkan seluruh biaya atas modal yang digunakan oleh peusahaan. Telah kita ketahui bersama bahwa perusahaan akan menggunakan modal dari sumber modal asing dan modal sendiri. Oleh karena itu, biaya modal yang diperhitungkan merupakan biaya modal dari seluruh jenis modal yang digunakan.
Lebih lanjut perusahaan didalam mengevaluasi usulan investasi secara normal tidal melihat secara individu proporsi utang dan modal sendiri yang pergunakan untuk membiayai proyek tersebut. Kecuaili proyek tersebut memang mensyaratkan proporsi utang dan modal sendiri seperti struktur modal perusahaan.
Konsep biaya modal perusahaan secara keseluruhan (operal cost of capital) bermanfaat dalam kaitannya dengan menilai usulan investasi jangka panjang. Karena biaya modal dari masing-masing sumber dana berbeda-beda, maka untuk menetapkan biaya modal dari perusahaan secara keseluruhan perlu dihitung biaya modal rata-rata tertimbang (weigted average cost of capital atau WACC).
Perusahaan dalam membiayai proyek investasinya bisa saja mengunkan modal sendiri, sehingga cost of capital yang digunakan sebagai cut of rate sebesar biaya modal sendiri yang bersangkutan. Tetapi seringkali setiap proyek investasi tidak hanya mengunakan satu sumber dana, tetapi mengunakan mengguanakan berbagai sumber dana sekaligus. Misalnya selain menggunakan saham biasa, juga menggunakan saham preferen dan utang.
Setelah semua modal dihitung biayanya maka kita dapat menghitung biaya rata-rata tertimbang (WACC). Dalam mengitung biaya modal rata-rata tertimbang kita tinggal mencari proporsi dari masing-masing modal yang digunakan perusahaan. Kemudian dilikan dengan biaya modal setelah pajak.
Biaya rata-rata yang minimal dari suatu struktur modal perlu dijaga agar biaya tidak mengalami kenaikan. Biaya modal rata-rata yang minimal yang tercapai pada struktur modal yang optimum. Dengan kata lain struktur modal yang optimum merupakan merupakan struktur modal dengan biaya rata-rata yang minimum. Struktur ini seringkali menjadi patokan perusahaan dalam penggunaan dana dan sumber modal yang tersedia. Apabila perusahaan akan menambah modal yang diperlukan, biasanya perusahaan perusahaan memperoleh modal tersebut dari susunan atau komponen modal yang telah ada dengan selalu menjaga besarnya biaya modal rata-rata agar tetap sama dengan biaya modal sebelum adanya penambahan modal.
Sedang menurut Agus Sartono (1998:235) mengatakan bahwa cara untuk mentukan biaya modal rata-rata teimbang (WACC) adalah :
 

WACC =
Dimana
E : Ekuity (modal sendiri)
D : Debt (Utang)
Ke : biaya modal sendiri
Ki : tingkat pajak
Jika struktur modal terdapat saham preferen (P=preferred stok) maka persamaan menjadi :
 

WACC =
E : Ekuity (modal sendiri)
D : Debt (Utang)
Ke : biaya modal sendiri
Ki : tingkat pajak
P : Preferen stok
Kp: Biaya saham Preferen

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar